Minggu, 18 Januari 2015

Antara Dosa Meninggalkan Perintah dan Melanggar Larangan Allah SWT menurut Ibnu Qayyim



Al-Hafidz Ibnu Qayyim dalam Al-Fawaaid menyetujui apa yang dikatakan oleh Sahl bin Abdullah at-Tusturiy, seorang sufi ahli zuhud yang mengatakan bahwa meninggalkan perintah Allah jauh lebih besar dosanya daripada melanggar larangan-Nya. 
Ketika Adam as melanggar larangan dengan makan buah khuldi di syurga, maka Allah menerima tobatnya, namun ketika iblis meninggalkan perintah sujud pada Adam, ia tidak diampuni.

Beberapa alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Qayyim adalah;

1.  Peristiwa Adam dan iblis di atas merupakan salah satu alasan kuat.

2.  Pelanggaran terhadap larangan umumnya karena keinginan dan kebutuhan, sedangkan meninggalkan perintah biasanya karena faktor sombong. Sedangkan Allah telah berfirman yang pada intinya tidak akan masuk syurga orang yang dalam hatinya ada sombong walau sebesar dzarrah. Orang yang mati namun tlah bertauhid tetap masuk syurga walaupun ia berzina atau perbuatan dosa lainnya.

3.  Allah lebih senang pada perkara menjalankan perintah daripada menjauhi larangan, tercantum pada nash berikut;
          a.       Rasulullah SAW bersabda, ‘Amal yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.’ HR Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, al-Hakim.
         b.      ‘Maukah kalian kuberitahu amalan yang paling baik dan paling suci menurut Sang Pemilikmu, mengangkat derajatmu, lebih baik dari infak emas dan uang dan lebih baik dari beperang membunuh musuh kemudian kamu ditebas lehermu? Mereka berkata "Ya, duhai Rasul? Beliau bersabda, "Yaitu dzikir kepada Allah Ta'ala’ (HR. At-Tirmidzi)
         c.       ‘Ketahuilah, sesungguhnya amal kamu yang paling baik adalah shalat.’ HR ad-Darimi, Ahmad, al-Hakim.
        d.      ‘…Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.’ QS. Ali Imran 134.   ‘…dan berbuat adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.’ QS. Al-Hujurat, 9. ‘..Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.’ QS Ali Imran 146. ‘Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.’ QS ash-Shaff 4.

4.  Menaati perintah untuk wujudnya suatu yang diperintahkan itu sendiri, namun menjauhi larangan ditujukan untuk menyempurnakan ketaatan pada perintah. Melanggar larangan akan merusak amalan. Misalnya khamar dan judi dilarang karena menghalangi dari dzikrullah.

5.  Mematuhi perintah membuat iman utuh dan melanggar larangan merusak keutuhan iman.

6.  Mematuhi perintah bermakna menghidupkan, menghias, memberi makan hati, sehingga mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan. Orang yang tidak patuh perintah walaupun meninggalkan larangan tidak bermanfaat bagi keselamatannya di akhirat, ia kekal di neraka. Orang melakukan perintah namun melakukan kemaksiatan punya dua kemungkinan. Jika amal dapat mengangkat dari kekotoran maksiatnya maka ia mungkin selamat. Kemungkinan yang lain ia selamat setelah dibersihkan dulu dosanya di neraka. Jika berkaitan dengan syirik yang merupakan larangan, Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa ia telah meninggalkan perintah dalam hal tauhidullah, itu sudah cukup celaka.

7.  Seorang rasul diutus supaya menyampaikan ketaatan menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Apabila perintah tidak dilaksanakan, maka tidak dapat hamba Allah dikatakan taat walaupun ia menjauhi larangan.

8.  Allah memang menghendaki hamba-Nya untuk menyembahnya seperti firman-Nya dalam QS adz-Dzaariyat 56. ‘Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.’

9.  Larangan tidak  berkaitan dengan suatu kegiatan namun perintah berkaitan dengan suatu kegiatan.

10.  Perintah bertujuan menghalangi dari perbuatan yang dilarang.

11.  Allah SWT menjanjikan balasan pahala sepuluh kali setiap kita melakukan amal.

12.  Perintah itu dibuat supaya wujud berbentuk sedangkan larangan tidak ada wujud yang terbentuk. Cinta kepada kepatuhan lebih besar daripada benci terhadap pelanggaran larangan.

13.  Menjalankan perintah menciptakan rahmat Allah, rahmat Allah dapat mengatasi kebencian Allah.

14.  Pengaruh dari yang dibenci Allah lebih cepat hilang dari pengaruh yang dicintai Allah.

15.  Allah menetapkan larangan karena dibalik larangan ada sesuatu yang dicintai-Nya, misalnya tobat.

16.  Kehidupan hilang ketika perintah diabaikan. Orang kafir difirmankan Allah sebagai; ‘Mereka adalah mati, tidak hidup…’ QS an-Nahl 21.

17.   Melakukan perintah pastinya juga meninggalkan larangan namun meninggalkan larangan tidak selalu diikuti atau didahului melaksanakan perintah.


http://menujucintamu.blogspot.com/2012/04/antara-dosa-meninggalkan-perintah-dan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar