Rabu, 14 Januari 2015

Mengapa Kecanduan Olahraga Berbahaya?




Kecanduan olahraga merupakan kombinasi kata yang rancu. Olahraga selalu memiliki konotasi sehat, sementara kecanduan bernada negatif. Namun, para pakar menyebutkan cukup banyak orang yang terobsesi gaya hidup sehat, termasuk kecanduan olahraga.

Olahraga merupakan aktivitas yang bisa menyebabkan pelepasan hormon endorfin. Karena itulah, orang yang adiksi pada olahraga akan merasakan sensasi yang sama seperti kecanduan alkohol atau narkoba.

David J Linden, neuroscientist dari sekolah kedokteran John Hopkins University, menyebutkan bahwa orang yang kecanduan olahraga juga memiliki rasa ketagihan, bahkan ada gejala seperti putus obat (withdrawal).

Secara umum, ada tiga jenis adiksi, kimia, proses, dan psikologi. Kecanduan olahraga dikelompokkan ke dalam kelainan proses, seperti halnya adiksi judi dan seks.

"Ketika pikiran memaksa kita untuk melakukan tindakan berulang-ulang demi memuaskan dorongan tersebut, itu adalah kelainan," kata Andrew Spanswick, CEO pusat terapi kecanduan alkohol.

Ia menjelaskan, seseorang yang mengalami gangguan kompulsif untuk berolahraga sering kali mengorbankan kegiatan lain demi berolahraga. "Mereka mengalami rasa cemas dan dorongan berlebih untuk berolahraga. Rasa tersebut tidak dimiliki oleh orang yang normal," katanya.

Orang yang kecanduan olahraga pada umumnya adalah mereka yang memiliki trauma, seperti trauma di masa kecil, korban kekerasan, atau kehilangan emosional. Olahraga secara berlebihan itu diharapkan bisa mengompensasi rasa trauma tersebut.

Masalah yang timbul dari kecanduan olahraga tidak hanya merusak tubuh, tetapi juga seseorang akan sampai pada titik di mana rasa sakit psikologi sudah melebihi manfaat yang normalnya kita dapat dari sudut pandang fisik.

Di usia akhir 30 tahun atau 40 tahun, orang yang kecanduan olahraga baru merasakan efek dari perilakunya itu, antara lain nyeri sendi, gangguan jantung, dan stroke mini.

Penanganan pada orang yang kecanduan olahraga tak jauh berbeda dengan kecanduan lain, misalnya detoksifikasi, penggunaan obat-obatan, sampai terapi perubahan perilaku.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar