Minggu, 18 Januari 2015

Indahnya ketika para kekasih Allah menghidupkan malam (3): Qiyamul Lailnya para ulama




Syeikh Al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, seorang zuhud yang pandai selalu indah dalam kesendirian menghadap-Nya kala malam dan indah juga karena puasanya di siang hari. Dikisahkan oleh seorang muridnya Ibnu Abdul Hadi bahwa beliau setiap malam menjauh dari orang-orang untuk mengerjakan Qiyamul Lail. Beliau mengerjakannya dengan merendahkan diri serta tekun membaca Al Qur’an. Ketika mulai shalat, urat leher dan seluruh tubuh gemetar sampai miring ke kanan dank e kiri. Beliau pun tekun dan kusyu’ dalam ibadahnya di siang hari.

Ibnu Qayyim al-Jauzi rahimahullah apabila mengerjakan tahajjud sangat lama. Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali seorang muridnya mengatakan bahwa beliau tidak pernah melihat seseorang yang ibadah serta ilmu mengenai Al Qur’an, al-hadis dan keimanan seperti beliau Ibnu Qayyim, beliau terlihat seperti orang yang terjaga dari dosa walaupun beliau bukanlah orang yang maksum.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang merupakan ahli hadis, telah menghidupkan malamnya semenjak kecil, demikian dikatakan Ibrahim bin Syammasy al-Abid. Sedangkan menurut Abdullah, putranya, setiap malam Imam Ahmad selalu membaca sepertujuh Al Qur’an dan mengkatamkannya di hari ketujuh. Beliau hanya tidur sebentar setelah shalat isya, lalu tidak tidur lagi sampai fajar untuk shalat dan berdo’a. 

Pada waktu dalam pasukan, beliau tetap tidak pernah meninggalkan qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an pada siang hari, demikian dikatakan oleh Abu Bakar al-Marudzi yang pernah bersama beliau selama empat bulan. Sedangkan menurut Ibrahim bin Hani, Imam Ahmad selalu mengerjakan shalat sunnat ba’da Isya’ beberapa raka’at, tidur sebentar dan bangun untuk qiyamul lail sampai fajar ditutup shalat witir satu rakaat.

Al Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari rahimahullah, seorang murid amirul mukminin dalam bidang hadis selalu bangun malam untuk bertahajjud sampai fajar. Dalam semalam itu beliau telah membaca sepertiga atau setengah Al Qur’an, dan katam biasanya dalam tiga hari.

Seorang ahli fiqh dari Makkah, Atha’ bin Abi Rabbah rahimahullah ketika sudah tua dan lemah terlihat tidak bergerak sama sekali dalam shalat malamnya dan membaca dua ratus ayat dari surat Al Baqarah.

Imam Abu Hanifah rahimahullah sering dijuluki ‘tiang’ karena banyak berdiri bermunajad kepada-Nya. Beliau selalu menangis, sampai suatu ketika tetangganya merasa kasihan. Suatu saat seorang yang biasa membantu beliau mengatakan kepada beliau bahwa beliau telah menyusahkan orang-orang sesudahnya. Maksudnya adalah menyusahkan dalam hal menyamai atau melebihi ibadah beliau. Beliau juga diceritakan pernah membaca QS al Qamar 46 dalam shalat malamnya dan mengulang-ulangnya sampai terbit fajar. Hal yang demikian juga pernah terjadi kala beliau membaca QS. Ath-Thur 27.

Imam al-Auza’I rahimahullah seorang yang hafal Al-Qur’an, ahli fiqh dan hadis, air matanya selalu membasahi tempat bersujudnya dan bekas basahnya tempat sujud ini terlihat oleh seorang perempuan yang terheran-heran dan menanyakan hal tersebut kepada isteri beliau.

Al-Hafizh Ibnu Hajar selalu mengerjakan Qiyamul Lail sebagaimana gurunya yaitu al-Hafizh Zainuddin al-Iraqi rahimahullah. Ibnu Hajar juga selalu shalat dhuha dan terus-menerus puasa, dan beliau puasa daud ketika sudah berusia senja.



Sumber: Muhammad Shalih Ali Abdillah Ishaq. Bersujud di keheningan malam, 111 jalan menumbuhkan gairah qiyamul lail. Judul Asli Kaifa Ttahammas Li Qiyam Al-Lail. Penerjemah Muh. Muhaimin, M.Ag dan Nur Afifah, S.Ag. Yogyakarta, Mitra Pustaka, 2010.


http://menujucintamu.blogspot.com/2011/09/indahnya-ketika-para-kekasih-allah_24.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar