Minggu, 18 Januari 2015

Hidup adalah Ibadah



Penempaan jiwa lewat dzikir yang kontinyu dapat menghasilkan pribadi yang tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan, tidak mudah putus asa, tidak bangga atas apa yang ia dapatkan dari karunia Allah.
Pelaksanaan dzikir, sholat, membaca Al-Quran di setiap moment pengajian adalah dalam rangka meningkatkan keimanan, membangun kualitas aqidah, sehingga ketika ia menjalani aktivitas kehidupan benar-benar dalam kendali atau bimbingan Allah SWT. Ia terhindar dari kondisi error (stress kejiwaan) yang menyebabkan ia keluar dari aturan main yang Allah dan Rasul tetapkan.

Ibadah manusia berbeda dengan ibadah para malaikat. Ibadah para malaikat bersifat monoton (tertentu). Ada malaikat yang bertugas memikul (menggendong) ‘arasy, sejak diciptakan hingga sekarang tetap demikian. Tidak ada program lainnya. Ada malaikat yang bertugas menurunkan hujan, tidak akan menghadapi problem seperti yang dihadapi oleh manusia.

Ketaatan manusia dalam beribadah diuji oleh Allah dalam kehidupan ini. Allah hamparkan serba-serbi kehidupan di hadapan manusia agar dapat dilihat sejauh mana ketaatannya kepada-Nya. Ada rencana atau cita-cita manusia ke depan yang sudah dirancang begitu matang, tapi statusnya tetap abu-abu (belum pasti) dan tidak ada dalam genggamannya. Dengan problem yang bervariasi inilah manusia dengan segala godaan dituntut mewujudkan ketaatannya kepada Allah.

Jadi, tidak ada prinsip bahwa jika seseorang sudah menjadi murid atau jama’ah Al-Idrisiyyah ia akan mendapatkan kehidupan yang tenang, rizki datang dengan mudahnya seperti air mengalir, urusan keluarga mudah diatur. Justru kita akan semakin diuji oleh Allah jika kita semakin dekat kepada-Nya.
Kita perhatikan bagaimana para Nabi terdahulu diuji dengan problematika hidup yang luar biasa hebatnya. 

Bagaimana seorang Nabi Ibrahim yang diberi gelar Khalilullah disuruh meninggalkan istrinya. Padahal ketika itu istrinya yang bernama siti Hajar baru saja melahirkan. Kedua istri Nabi Ibrahim ini terlihat kurang akur. Siti Sarah di Palestin, sedangkan Siti Hajar di Mekah. Beliau meninggalkan keduanya karena masalah yang ada pada keduanya. Bukankah dengan posisinya sebagai Nabi yang biasa menerima wahyu, Beliau bisa memohon agar ia dapat terhindar dari masalah itu? Atau mengharapkan ‘Kun Fayakun’ Allah atas apa yang dideritanya?
Itulah ibadah seorang manusia. Dan ini merupakan sebuah renungan bagi kita semua. Nabi Ibrahim yang menerima wahyu saja diberikan problem kehidupan yang mesti Beliau hadapi sendiri. Maka, sebagai seorang murid yang sedang belajar mendirikan ibadah kepada Allah janganlah mengharapkan keajaiban atau sesuatu hal yang aneh-aneh atas apa  yang ia amalkan.
Nama Mekkah diambil dari kata ‘Bakkah’, sebagaimana diungkap dalam Al-Quran istilah ini,
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk  manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah  yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” . (Q.S. Qli Imran [3]: 96)
Waktu itu ketika Siti Hajar selesai melahirkan, ia memanggil-manggil suaminya. Namun Nabi Ibrahim (karena perintah Allah) meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi itu. Beliau memiliki perasan yang sama sebagai manusia, bagaimana bisa menahan air mata menyaksikan istri yang ia sangat sayangi memanggil-manggil dan anak yang ia nanti-nanti kemunculannya ia tinggalkan. Derai air mata yang meliputi suasana haru dan duka di antara keduanya tersebut melahirkan istilah ‘Bakkah’ yakni tempat tangisan.
Kalau sekarang, orang berhaji dan umrah sudah merasa nyaman, tersedia penginapan, makanan dan minuman yang cukup, bahkan sudah ada AC pendingin ruangan. Kalau dahulu, Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan anaknya di suatu lembah yang tandus (biwaadin ghoyr zar’in) tanpa ada makanan dan minuman sedikitpun. Bagaimana tega seorang suami meninggalkan anak dan istri tanpa perbekalan? Dan bagaimana menderitanya Siti Hajar yang ditinggalkan suaminya di saat-saat ia sedang membutuhkannya?
Siti Hajar saat berada di antara bukit Shafa dan Marwa mencari air di saat terik matahari yang begitu panas. Saat itu ia begitu was-was karena ia memperhatikan bayinya yang sedang kehausan. Sebentar-sebentar ia tengok anaknya. Dilihatnya seperti ada air yang menggenang di kejauhan. Begitu didatangi ternyata tidak ada, hanya fatamorgana. Lalu ia kembali lagi kepada bayinya. Ia begitu panik dengan kondisi seperti itu.
Sepintas Allah seperti menyiksa, padahal tidak. Allah ingin melihat sejauh mana ibadah manusia dengan berbagai bentuk ujian yang telah Allah persiapkan melalui media kehidupan ini.[1] Yang ingin Allah lihat atas manusia itu adalah ketundukan dan kepasrahannya kepada perintah-Nya. Lika-liku kehidupan yang dihadapi itulah yang akan menjadi penilaian-Nya. Jadi, Allah ingin melihat apakah manusia itu tunduk, ridha atau belajar sabar atas perintah-Nya.
Kita lihat pelajaran dari kehidupan para Nabi, mereka tidak memanfaatkan mukjizat  untuk jalan pintas berbagai masalah, agar istrinya jadi tunduk, rizki tiba-tiba ada, segala masalah jadi beres, dsb.
Selama hidup di dunia ini Allah senantiasa menguji hamba dengan hidup dan kehidupan. Maka kita jalani hidup ini dengan kendali yang ditetapkan-Nya.
Kita belajar mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak dzikir, tadarus, melaksanakan sholat-sholat sunnat. Kita sisihkan waktu kita untuk bertaqarub kepada-Nya. Capeknya kita bergelut dengan makhluk, keluarga, kawan bisnis selama beberapa hari yang lalu semoga menjadi amal ibadah di sisi-Nya.
Dengan sholat dan dzikir pada malam Ahad (Jakarta) atau malam Jum’at (Tasikmalaya) kita bangun komunikasi dengan Allah. Allah Yang Indah sebagai sandaran cita-cita, Allah Yang Kaya sebagai sandaran keinginan. Dia-lah tempat kita bergantung, memohon, mengadu berbagai persoalan.
Sebagai manusia kita mesti memaksimalkan usaha di samping do’a. Karena demikianlah yang Allah janjikan kepada para kekasih-Nya, Nabi dan Shalihin. Mereka menemukan jalan setelah mengalami kesulitan.
Bagaimana terpuruknya kondisi orang-orang yang tidak berada di dalam bimbingan Allah mengatur kehidupan yang semakin rumit saat ini. Mulai dari mengurus anak, mencari rizki, hidup bermasyarakat, berumah tangga, dan sebagainya. Hidup saat ini akan terasa jelimet (rumit) dan membuat capek berbagai urusan.
Jika kita tidak dibimbing oleh Allah maka nasib kita akan sama. Kita dilindas oleh waktu. Umur kita tidak terasa berkurangnya. Tahu-tahu sudah berumur 45, 60 atau 70 tahun. Kalau umur kita sudah 45 tahun, berapa sisa umur kita? Kalau kita tengok masa lalu, sepertinya baru kemarin kita bermain layang-layang, masih segar ingatan saat kita masih kecil, sekolah, dan lainnya.
Jika jatah umur tinggal 18 tahun lagi target dunia apa lagi yang mau kita raih. Jika usia sudah 62 tahun tapi target kehidupan belum tercapai, jangan-jangan kita sudah keburu dipanggil (Allah).  Atau di usia 62 tahun target dunia sudah tercapai, berarti jika usia kita ditetapkan 63 tahun, hanya satu tahun saja kita menikmatinya.
Jika kita tidak dijanjikan oleh Allah akan ada hari pembalasan, negeri yang abadi, maka hidup itu terasa rugi sekali. Karena umur kita pendek, dan problem semakin menumpuk. Belum tercapai taget sudah meninggal, sudah tercapai target satu atau dua tahun sudahmeninggal. Dan banyak pula orang yang sudah meninggal sebelum tercapai target duniawinya.
Kalau boleh memohon, lebih baik tidak terlahir ke dunia ini kalau kenyataan hidup hanya seperti itu. Kalau hidupnya 1.000 tahun mungkin lebih terasa lama menikmatinya. Tapi usia manusia di zaman sekarang pendek-pendek. Belum lagi ditambah dengan banyaknya penyakit baru.
Ada yang masih muda sudah terkena penyakit kronis, seperti jantung, paru, diabetes, stroke. Maka kesempatan mewujudkan target duniawi dan menikmati hasilnya pun semakin berkurang.
Oleh karenanya Allah dan Rasul-Nya mengingatkan bahwa kehidupan ini adalah permainan dan bersifat sementara saja.  Maka timbullah semangat lagi dan harapan yang besar atas apa yang sedang dijalaninya.
Di sinilah pentingnya membangun keimanan agar menimbulkan semangat baru untuk mengharapkan kehidupan yang abadi. Supaya apa yang diusahakannya di dunia ini menjadi ibadah. Allah melihat apa yang kita usahakan. Allah menghitung tetes keringat dan jerih payah yang kita upayakan. Maka semangat kita termotivasi kembali.
Kita mesti mendapatkan semangat dan harapan yang sebenarnya dalam hidup ini. Titik kulminasi kehidupan dunia yang sementara ini tidak bisa diharapkan, yang ada adalah titik balik kemunduran, penyusutan dan kehancuran. Yang kita fokuskan adalah kehidupan akhirat.
Jika tidak mau memandang Hari akhir, maka lihatlah pemiliknya, Allah ‘Azza wa Jalla. Apalah syurga, yang penting Allah! Begitulah yang diungkapkan Rabi’ah al-Adawiyyah. Suatu saat nanti syurga tidak akan dilirik ketika Wajah Allah ditampakkan kepada ahli syurga. Seperti tirai yang dibuka. Yang terhijab selama hidup di dunia menjadi nyata, seperti kita baru bangun dari tidur. Pada saat tirai dibuka ruhani kita sudah dipersiapkan agar mampu melihat-Nya.
Para Wali Allah sudah tidak memikirkan syurga, tapi mereka rindu dan mendamba bersua dengan Pemilik-Nya yakni Allah ‘Azza wa Jalla. Bagi yang awam, syurga masih merupakan iming-iming baginya.
Allah mengilustrasikan kenikmatan syurga dengan hiasan fasilitas keindahan berupa sungai mengalir, kebun-kebun atau taman-taman. Sebab orang-orang Arab menyenangi suasana demikian karena kondisi alamnya gersang. Sehingga ketika mendengarnya mereka tersentuh dan merasa tertarik. Tapi bagi orang-orang yang berdiam di daerah yang subur, seperti kebanyakan daerah di Indonesia, uraian sungai dan kebun itu kita dengar biasa-biasa saja. Itulah sekedar motivasi yang Allah berikan kepada manusia.
Coba kita tanya diri kita masing-masing apakah masih butuh dan betah hidup di dunia? Apakah ada yang ingin lebih dahulu meninggalkan dunia ini? Jika kita masih betah di dunia berarti hal itu sudah menjadi bukti bahwa kita masih cenderung kepada makhluk-Nya, belum cinta kepada Allah. Maka Allah memberikan iming-iming dengan makhluk-Nya pula. Sehingga pada pikiran manusia muncul angan-angan syurga, syurga, dan syurga.
Kalau kita masih cenderung kepada makhluk-Nya maka bagi para Wali Allah semuanya sudah tidak kelihatan lagi. Yang dilihat adalah Allah. Itulah orang yang  menyatu kecintaannya dengan Allah.
Bayangkan orang-orang yang tidak iman kepada Allah, mereka benar-benar akan menjadi gila menghadapi kehidupan yang rumit seperti sekarang ini. Suasana macet di sana sini, persoalan semakin bertambah. Namun demikian banyak orang yang masih memperebutkan jabatan yang menjadi bertambahnya masalah kehidupan. Coba perhatikan, seorang Presiden yang hidupnya banyak diliputi kritik tajam, kegiatannya diatur melalui sistem protokoler, istirahatnya dijatah karena jadwalnya yang padat. Yang menurut kita adalah nyaman, indah, hebat, enak jika jadi Presiden  atau jabatan lain ternyata tidak demikian apabila kita menjadi orang yang merasakannya itu.
Orang yang menjalani kehidupan ini tanpa keimanan kepada Allah dan Hari Akhir benar-benar bersikap konyol karena apa yang didambakannya akan hilang (fatamorgana saja).
Marilah kita bangun keimanan kepada Allah, apalagi disebutkan bahwa orang yang beriman teramat cinta kepada Allah (Asyaddu hubballillaah). Dengan mencurahkan ibadah dzikir, membaca Quran, shalat sunnah di malam dan hari Ahad kita refresh (perbaharui) keimanan dan keyakinan kita kepada Allah agar di hari berikutnya kita bekerja dengan power dan semangat baru, dilandasi keyakinan bahwa apa yang kita lakukan semata-mata ibadah dan mengharap Ridha Allah.
LQ, 6 November 2010



[1] Firman Allah: (Dia) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Yang Perkasa lagi Pengampun, (Q.S. al-Mulk [67]:2



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar