Minggu, 18 Januari 2015

Seri Nasehat Syeikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Sebuah Renungan



1. Jangan mengejar yang sudah ditetapkan 

“Kesungguhan mengejar apa yang sudah dijamin untukmu (oleh Allah) dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu, itu merupakan tanda butanya bashirah (mata batin).”

Note: Rezeki merupakan salah satu perkara yang selalu dikejar-kejar padahal telah ditetapkan bagi seluruh makhluk-Nya. Tugas hamba hanya bertawakal namun tetap mengerjakan dengan sebaik-baiknya.

2. Tertundanya pengabulan doa

“Terlambatnya pemberian Allah, walaupun dimohon berkali-kali, jangan membuat putus asa. Dia telah menjamin untuk men gabulkan permintaanmu seperti apa yang Dia pilihkan bukan menurut pilihanmu. Dia tetapkan waktunya bukan waktu yang engkau inginkan.”

3. Allah lebih dekat

“Alangkah mengherankan, bagaimana mungkin keberadaan sesuatu yang pasti ada (Allah) bisa terhalang oleh sesuatu yang (sebelumnya) tidak ada (makhluk)? Bagaimana mungkin sesuatu yang baru (makhluk) dapat bersama dengan Zat yang memiliki sifat Qidam (tidak berpermulaan)?”

4. Dosa, di antara keadilan dan karunia-Nya

“Tidak ada dosa kecil apabila dihadapkan pada keadilan-Nya dan tidak ada dosa besar apabila dihadapkan pada karunia-Nya.”

Note: hati-hati dengan dosa kecil apalagi kalau dilakukan terus-menerus, karena Allah yang maha adil, segera berhenti dan bertaubat. Dosa yang besar bisa jadi diampunkan karena keagungan karunia-Nya.

5. Ta'at karena karunia-Nya

“Janganlah ketaatanmu kepada Allah membuatmu gembira karena merasa mampu melakukannya. Tetapi bergembiralah kepada-Nya karena ketaatan itu terjadi karena karunia Allah kepadamu. Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)”.

6. Kesempitan dan kelapangan, Allah yang mengatur

“Allah melapangkan keadaanmu, agar engkau tidak selalu dalam kesempitan. Dan Allah menyempitkan keadaanmu, agar engkau tidak selalu dalam kelapangan. Dan Dia melepaskanmu dari keduanya, agar engkau tidak bergantung dari selain-Nya.”

7. Balasan utamanya di akherat

“Sesungguh Allah menjadikan negeri akherat sebagai tempat untuk membalas para hamba-Nya yang beriman, karena negeri ini (dunia) tidak mampu menampung apa yang hendak Dia berikan kepada mereka, karena Allah hendak memuliakan mereka dengan tidak memberikan balasan di dunia yang tidak kekal.”

8. Hikmah pemberian dan Penolakan Allah

“Bisa jadi Allah memberimu, padahal itu menolakmu. Dan bisa jadi pula Dia menolakmu, padahal dia memberimu.’

Note; Apabila Allah ta’ala menolak permohonanmu, maka sesungguhnya dia telah memberimu, itu bila bila kita memahami makna pemberian Allah. Pemberian yang lebih besar maknanya dari sekedar yang kita minta adalah dapat mengenal-Nya dan mengetahui serta merasakan hikmah. Maknanya, semua yang dapat menambah ma’rifat bagi seorang salik merupakan pemberian yang sangat berharga.
 
9. Peran nafsu kala lapang dan sempit

“Dikala lapang, nafsu bisa mengambil peranan melalui rasa gembira. Sedangkan dikala sempit nafsu tidak mampu berperan apa-apa.’

10. Permohonan hamba dan Keputusan Allah

“Bagaimana mungkin permohonanmu yang datang belakangan menjadi sebab bagi pemberian Allah yang telah jauh hari diputuskan?”

11. Jangan merasa tawadhu’

“Siapa yang merasa dirinya tawadhu’, berarti ia orang yang takabur. Sebab anggapan diri tawadhu’ tidak akan muncul kecuali dari sikap tinggi hati. Maka, saat engkau menyandang keagungan (tinggi hati) itu pada diri, berarti engkau benar-benar orang yang sombong.”

12. Bergantung hanya kepada Allah semata 
 
“Salah satu tanda bergantungnya seseorang pada amalnya adalah kurangnya raja’ (harapan pada rahmat Allah) tatkala ia mengalami kegagalan (dosa).”

Note: Seberapa baik dan banyaknya amalan yang dilakukan seseorang, tidak sepantasnya ia bergantung pada apa yang telah dilakukannya itu karena sejatinya amalan itu juga berlaku karena kehendakNya. Bagaimanapun juga amalan itu masih tetap belum mampu memenuhi apa yang menjadi hak Allah. Oleh karena itu seseorang disarankan tetap raja’.


Sumber: 
Syeikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari,
Judul terjemahan Kitab Al Hikam, Petuah-petuah agung sang guru. 
penerjemah Dr. Ismail Ba’adillah. 
Jakarta, Katulistiwa press, 2008.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar