Minggu, 18 Januari 2015

Pelajaran Kehidupan Yang Dipetik Dalam Perjalanan Hidup Hatim Al-Asham




Ketika menjawab surat yang ditulis oleh muridnya, sang Hujjah al-Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali menyelipkan kisah berupa pelajaran hidup yang diperoleh oleh Hatim al-Asham. 

Syahdan, Hatim al-Asham ditanya oleh sahabatnya mengenai pelajaran penting apa yang telah didapat setelah bersahabat selama tiga puluh tahun. Dikisahkan bahwa Hatim memperoleh delapan pokok pelajaran yang dapat dipetik dalam perjalanan panjang hidupnya itu dan ia berharap dapat menyelamatkannya. 

Kedelapan pelajaran kehidupan tersebut adalah sebagai berikut. 

Pertama, Hatim melihat bahwa setiap orang mempunyai orang yang dikasihi dan sebagian dari mereka menemani dan mengantar sampai sakaratul maut, sebagian lagi sampai ke liang kubur. Namun tidak ada yang mau mengantar dan menemani masuk dan menetap di kubur. Akhirnya, Hatim pun merenung bahwa teman yang dapat mengantar dan menemani dalam kubur hanya amal shalih. Akhirnya Hatim menjadikan amal shalih sebagai kekasihnya karena ia akan selalu menghibur dan tidak akan meninggalkannya seorang diri dalam kubur dan perjalanan selanjutnya.

Kedua, Hatim memperhatikan bahwa orang selalu menuruti hawa nafsunya. Namun firman Allah menyatakan bahwa ‘Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal[-nya].’ QS. An-Nazi’at 40-41. Karena sangat menyakini Al Qur’an adalah haq dan benar maka Hatim senantiasa tidak mengikuti hawa nafsu, menempa, dan tidak menuruti kesenangannya dan hanya menaati aturan Allah SWT.

Ketiga, Hatim melihat orang cenderung menumpuk harta, menggenggam erat, padahal ada firman-Nya ‘Apa yang berada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.’ QS. An-Nahl 96. Akhirnya ia membagi-bagi hartanya pada orang miskin, dan berharap justru harta tersebut dapat menjadi bekalnya.

Keempat, banyak orang mengira bahwa kehormatan dan kemuliaan terletak pada harta, pangkat, keturunan yang bisa dibanggakan. Hal itu sering mendorong mereka memperoleh dengan segala cara, misalnya mencuru, menzalimi orang lain. Padahal firman-Nya ‘Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.’ QS. Al-Hujurat 13. Karena itu, Hatim memilih taqwa sebagai perkara yang penting dan patut dikejar.

Kelima, Hatim melihat orang saling mencela, memggunjing. Hal itu dipengaruhi dengki karena kedudukan, harta dan pengetahuan. Padahal firman-Nya ‘Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.’ QS. Az-Zukhruf 32. Dari firmanAllah tersebut, Hatim menyakini bahwa pembagian untuk setiap manusia sudah ditentukan Allah sejak zaman azali.

Keenam, Hatim melihat manusia saling memusuhi karena sebab tertentu. Padahal firman-Nya, ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh[mu]. QS. Fathir 6. Oleh karena itu Hatim menyakini hanya setan yang boleh dimusuhi.

Ketujuh, Dilihatnya orang sungguh-sungguh bahkan penuh kepayahan mencari sesuap nasi. Namun firman-Nya, ‘Dan tidak ada satupun binatang melata di bumi ini melainkan Allah-lah yang menanggung atas rezekinya.’ QS. Hud 6. Maka Hatim pun memilih sibuk beribadah daripada berharap pada selain-Nya.

Kedelapan, Banyak orang menggantungkan diri pada makhluk, uang, harta, kekuasaan, profesi, industri atau pada sesame makhluk. Namun firman Allah, ‘Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang[dikehendaki]-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.’ QS Ath-Thalaq 3. 
Akhirnya Hatim pun bertawakkal hanya kepada Allah, karena Dia yang mencukupi dan melindungi.

Apa yang dikatakan oleh Asy-Syaqiq mendengar penjelasan Hatim ini adalah ‘Semoga Allah menolongmu dengan taufiq-Nya, aku telah mengkaji Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an dan inti keempatnya mencakup delapan perkara tersebut.’ Bermakna, Hatim telah mengamalkan kandungan empat kitab suci tersebut.


Sumber, buku Prinsip-prinsip menapaki jalan spiritual Islam, Wasiat terakhir sang hujjatul Islam untuk murid kesayangannya. Judul Asli Ayyuha al-walad, fi Nashihah al-Muta’allimiin wa Mau’idhatihim Liya’lamu wa Yumayyizu ‘Ilman Nafi’an min Ghairihi, diterjemahkan oleh Huhammad Hilal. Yogyakarta, Diamond. 2010.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar