Sabtu, 17 Januari 2015

Umrah: Antara Maskapai Garuda – Emirates – Saudia






Kali ini saya akan mencoba mereview tiga maskapai pengangkut jamaah umrah ini (Garuda Indonesia – Emirates dan Saudia), alhamdulillah ketiganya sering saya tumpangi ketika umrah.

Harga

Ketiga maskapai di atas tergolong sebagai maskapai dengan harga yang tinggi, sekalipun disini saya tidak dapat memberikan angkanya, namun setidaknya dari beberapa musim keberangkatan umrah, Garuda Indonesia selalu mematok harga tertinggi, kemudian diikuti Saudia dan Emirates. Lantas berapa harga yang terpaut? 

perbedaan ketiganya tidak terlalu banyak, berkisar antara USD 100 hingga USD 300. Untuk lebih jelasnya bisa menghubungi para pakar ticketing.

Rute Penerbangan

Sudah menjadi hal yang lazim, setiap maskapai akan transit di negara asalkan jika dalam perjalanannya dia melewati negara asal. Maka Emirates yang berasal dari Uni Emirat Arab akan transit di Dubai sebelum tiba di Jeddah. Sedangkan Garuda dan Saudia yang memang berasal dari Indonesia dan Arab Saudi tidak akan transit di negara manapun sampai tiba di negara tujuan. Ini menjadi nilai lebih bagi Saudia dan Garuda.

Berapa lama transit? 

Sekalipun harus transit, seluruh fasilitas di bandara Dubai sangat hebat. Mulai voucher makan jika transit lebih dari 4 jam, kereta listrik untuk berpindah Gate / gerbang terminal hingga mall untuk berbelanja Free Duty. 

Dari Bandara pun anda bisa melihat kemegahan gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa. Pada saat transit, setiap penumpang hanya memerlukan waktu +- 4 jam. Barang dalam bagasi tidak perlu dipindahkan karena semuanya connecting dari Jakarta ke Jeddah.

Jika Garuda hanya memiliki rute penerbangan Jakarta – Jeddah, maka kelebihan lainnya Saudia dan Emirates memiliki rute tujuan ke bandara Madinah. Rute menuju Madinah ini sering menjadi pilihan bagi para jamaah umrah yang rute perjalanannya menuju Madinah sebelum ke Makkah.

Dalam skala 1-10 Garuda mendapatkan nilai 9, Saudia 9,5 dan Emirates 8.

Jenis Pesawat

Antara Garuda dan Saudia mengoperasikan jenis pesawat yang sama, untuk pesawat lama mereka akan memakai Boeing 747, sedangkan maskapai baru menggunakan Boeing 777. Rata-rata maskapai lama yang dimiliki keduanya belum dilengkapi dengan fasilitas multimedia yang mencukupi, maka para penumpang pun selama penerbangan selama 9 jam harus puas dengan radio, tanpa monitor untuk menonton hiburan lain. Sedangkan untuk pesawat Boeing 777, pesawat telah dilengkapi dengan layar monitor dan berbagai video di dalamnya.

Lantas bagaimana dengan Emirates? Pesawat Emirates dari Jakarta menuju Dubai akan menggunakan Boeing 777 dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jeddah dengan Airbus A380 atau Boeing 777. Bagaimana dengan fasilitas di dalamnya? semuanya sangat lengkap dan keren laah.

Dalam skala 1-10 Garuda mendapatkan nilai 8, Saudia 8, dan Emirates 9,5.

Fasilitas Ibadah

Saudia memiliki catatan baik dalam hal fasilitas ibadah, fasilitas apakah itu?

Pertama, Saudia meluangkan sekitar 12 kursinya di bagian belakang untuk memberikan kesempatan penumpang menjalankan shalat dengan cara berdiri seperti biasa, sedangkan Emirates dan Garuda tidak memilikinya.

Kedua, sensor konten multimedia yang diterapkan Saudia lebih ketat dibanding Garuda dan Emirates, selain itu juga konten taushiyah dan bacaan Al-Quran lebih komplit.

Ketiga, disediakan tombol air untuk cebok di WC sehingga para penumpang yang membuang hajat tidak harus cebok menggunakan tisu karena maskapai telah menyediakan cadangan air yang lebih untuk membersihkannya.


Setidaknya ketiga hal ini menjadi nilai lebih bagi Saudia.


Dalam skala 1-10 Garuda mendapatkan nilai 7, Saudia 9,5 dan Emirates 7

Fasilitas Umum

Kelebihan bagi Garuda adalah seluruh awak kabin yang dapat berbahasa indonesia dan menu makanannya pun sangat bersahabat. 
Namun entah kenapa, kesan saya beberapa kali menggunakan maskapai Garuda selalu saja para awak kabin terlihat begitu angkuh dan terasa berat untuk tersenyum dengan para jamaah umrah. 

Saya memperkirakan, karena para awak kabin yang cantik jelita itu mengerti bahwa para jamaah berasal dari desa dan kasta mereka sejatinya lebih rendah dari para awak kabin.

Sedangkan Saudia, sekalipun beberapa awak kabinnya juga berasal dari Indonesia dan cukup ramah, namun beberapa petunjuk yang tersedia di kursi atau di dalam toilet berbahasa Inggris dan Arab tanpa adanya terjemahan dalam bahasa Indonesia. 

Maka jangan heran jika dalam toilet sering kali terdapat tisu yang tertempel pada cermin dengan tulisan tangan berbahasa indonesia berisi himbauan, saya kira ini adalah ulah dari awak kabin. Sekalipun membantu, namun kesannya menjadi kumuh dan kurang menghormati penumpang.

Adapun Emirates, sekalipun 90% awak kabin berdarah timur tengah atau justru cina / eropa, namun sangat terkesan ramah, senyumnya manis dan parasnya cantik.

Para pramugari pun kerap berkeliling ke kursi penumpang untuk memberi boneka pada penumpang kecil dan memberi foto dengan kamera polaroid / instax. lebih dari itu interior pesawat pun terkesan lebih lux. Toilet dengan corak kayu, sehingga terkesan natural hingga layar monitor yang lebih lebar.

Bagi pengguna Emirates, penumpang pun tetap bisa mengakses internet melalui wifi dalam pesawat (by credit card), menelepon ke penumpang di kursi lain (free) atau juga menelepon ke rumah (by credit card).

Dalam skala 1-10 Garuda mendapatkan nilai 8, Saudia 8,5 dan Emirates 9,5.

http://hilmanmuchsin.blogspot.com/2015/01/umrah-antara-maskapai-garuda-emirates.html


kabin garuda
kabin garuda


kabin saudia airlines
kabin saudia airlines


kabin emirates airlines
kabin emirates airlines







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar