Rabu, 10 Februari 2010

Perbandingan Dunia dan Akhirat

Tidak ada manusia yang dapat menolak bahwa hidup di dunia ini adalah sementara waktu. Di akhir zaman ini paling lama manusia dapat hidup menurut umur dunia, 150 tahun. Setelah itu semua orang percayakan mati, selepas mati pergi ke Akhirat. Banyak orang yang percaya, sedikit sekali yang tidak percaya.

Umat Islam memang percaya bahwa Akhirat itu wujud, tempat tinggal manusia yang kekal abadi. Di sana ada kesenangan dan ada kesusahan seperti di dunia juga ada kesenangan ada kesusahan, cuma kesenangan dan kesusahan di antara dunia dan di akhirat tidak sama. Kalau kita hendak membuat bandinganlah walaupun tidak tepat, untuk mudah faham, kalau kesenangan itu macam kita duduk berumah pohon dengan di dalam istana, kalau azabnya pula seperti gigitan semut dengan dimakan oleh singa yang garang.

Batas di antara dunia dengan Akhirat ialah alam kubur atau alam barzakh. Disana di tahan sementara waktu. Disana juga ada kesusahan dan ada kesenangan macam di dunia juga. Bandingannya seperti batas di antara negara dan negara. Di perbatasan antara negara dengan negara ada kalanya mendapat kesenangan dan ada kalanya mendapat kesusahan. Begitulah keadaan di antara dunia dengan Akhirat, yaitu alam kubur atau alam barzakh.

Walaupun umat Islam percaya negara Akhirat dan percaya alam barzakh batas antara dunia dan Akhirat dan juga percaya bahwa nikmat dan azab di sana jauh bedanya dengan nikmat dan azab di dunia. Sekiranya Allah Taala rasakan sekarang ini perbandingan itu niscaya manusia ini akan menolak dunia ini secara total dan manusia akan menumpukan seratur persen untuk tujuan Akhirat.

Namun demikian oleh karena manusia itu hidup di dunia lebih dahulu yaitu hidup di negara yang dekat dan murah ini, mereka berhadapan dan merasa dengan nikmat dan azabnya lebih dahulu sebelum nikmat dan azab Akhirat, manusia terpesona hidup di sini. Mereka terlalai, terlupa kehidupan di sana, yaitu negara Akhirat. Oleh yang demikian ini mereka bersungguh-sungguhlah mengejar nikmat dunia dan mengelak azab di dunia ini. Diperahlah otaknya, tenaganya pagi dan petang, siang dan malam, dengan tidak jemu-jemu walau susah tapi dapat dihadapi kesusahan itu. Walau menderita dari berbagai-bagai ujian yang dihadapi tapi manusia sanggup berhadapan dengannya. Adakalanya ingin mengejar keuntungan, rugi yang dapat, inginkan kesenangan, susah yang dapat. Kebahagiaan yang dikejar, penderitaan yang datang. Kebaikan yang diburu, kemalangan yang dijumpai. Namum manusia tidak jemu-jemu, tidak rasa kecewa dan tidak putus asa, gunakan tenaga yang ada itu buru lagi dunia. Hingga ruangan untuk Akhirat tidak ada sama sekali atau tenaga yang sedikit-sedikit yang tinggal. Itulah untuk Akhirat, itu pun mudah jemu, terasa payah, rasa susah, rasa membeban, terasa terhina, terasa malu membuatnya.

Padahal di dalam pengalaman kita, hendak mengejar Akhirat yang lebih penting dengan dunia yang tidak penting. Akhirat yang istimewa dengan dunia yang murah ini, sangat beda amalan Akhirat. Walau penting, Allah Taala mudahkan, itulah di antara rahmat-Nya agar manusia cenderung ke sana, tapi dunia yang murah ini, amalannya lebih susah dan payah supaya manusia mengambil enteng dan kecil saja dunia ini. Patutnya demikian. Tapi pada manusia rupanya tidak begitu, manusia lebih terasa susah membuat kerja-kerja Akhirat walaupun senang dibandingkan dengan kerja-kerja dunia yang susah itu. Tapi pada manusia dirasa ringan saja dan mudah. Itulah membuktikan tarikan dunia lebih mempengaruhi umat Islam walaupun kerja-kerja susah dan berat berbanding dengan tarikan Akhirat yang istimewa dan agung itu walaupun kerja-kerjanya mudah dan ringan.

Perbandingan kerja dunia dan kerja akhirat

Mari kita datangkan beberapa contoh-contoh menunjukkan kerja-kerja dunia itu susah dan payah, tapi ringan pada manusia karena tarikannya kuat dan kerja-kerja Akhirat itu mudah dan ringan tapi umat Islam merasakan susah dan payah karena tarikannya dingin. Saya sebutkan beberapa perkara sebagai perbandingan seperti di bawah ini.

1. Mana lebih berat, shalat Subuh dua rakaat sekedar 20 menit membawa 30 menit, dengan kerja 8 jam satu hari ? Karena mencari duit ada kalanya kerja buruh, betapa susah, namun ada umat Islam sanggup tidak shalat Subuh sekedar 20-30 menit tapi tidak jemu-jemu bekerja satu hari 8 jam karena mencari duit.
2. Mana lebih berat menolong kawan karena Allah Taala mungkin sekedar satu dua jam dibandingkan maraton berjam-jam, kadang-kadang terpaksa naik bukit, menyeberang sungai, menuruni jurang yang terjal karena nama dan glamour. Susah lagi maraton, tapi mudah saja manusia dapat buat. Menolong kawan amat terasa berat.
3. Mana lebih berat di antara hendak memberi maaf kepada orang yang disuruh Allah Taala dengan keinginan naik gunung Kinabalu karena nama dan glamour. Padahal tidak panjat gunung Kinabalu bukan satu kesalahan tapi orang lebih mampu memanjat gunung daripada memberi maaf yang diperintah.
4. Pergi shalat berjamaah bukanlah memakan waktu yang panjang. Tidak juga terlalu jauh karena perintah Allah Taala dan juga tidak meletihkan. Dibandingkan dengan rekreasi dan menghabiskan waktu untuk bergaul bebas di tempat yang jauh mungkin di hutan, di tepi laut, di hulu sungai, yang banyak menyita waktu dan berhadapan dengan keletihan. Namun orang tidak sanggup pergi shalat jemaah tapi sanggup pergi rekreasi. Adakalanya sampai di rumah bertengkar pula dengan isteri karena sakit hati dengan suami.
5. Pergi belajar ke Amerika karena hendakkan ijazah agar dapat makan gaji bertahun-tahun lamanya, tinggal ibu bapa, tinggal tanah air, korban uang berjuta-juta, adakalanya mati di sana. Mana lebih susah dengan belajar agama di mesjid sekedar satu jam untuk membaiki diri, tidak mengorbankan waktu dan uang puluhan juta rupiah, tidak meninggalkan ibu bapa dan tanah air. Tentulah lebih susah di Amerika dibandingkan dengan belajar di mesjid sekedar satu jam. Namun ke Amerika bisa, pergi ke masjid tidak mau pergi.
6. Mana lebih berat hendak berkhidmat dengan ibu dan ayah sekedar mungkin satu dua jam kemudian ibu bapa bagi makan, pakaian dan lain-lain, dibandingkan dengan melayan dan berkhidmat dengan boyfriend atau girlfriend berjam-jam lamanya, berhari-hari, habis duit diperahnya, orang yang melihat pun malu.
7. Adakalanya ia tidak jujur, di belakang kita ada 'pacar'. Tentu lebih susah melayan pacar daripada ibu dan ayah. Namun orang tidak sanggup berkhidmat dengan ibu ayah tapi lebih sanggup melayan dengan pacar walaupun susah dan payah.
8. Mana lebih berat hendak menderma kepada kelab-kelab hiburan yang menyesatkan, paling kurang 1 juta kalau tidak jatuh status, dengan menderma dengan fakir miskin sekedar sepuluh dua puluh ribu. Tentulah lebih berat menderma ke klab-klab hiburan dan menyesatkan itu daripada hendak bersedekah dengan fakir miskin sekedar sepuluh dua puluh ribu. Namun berat ketika bersedekah, tapi menderma seribu karena nama, sanggup. Adakalanya ketika isteri tahu, dimaki oleh istri, namun walaupun begitu sanggup berhadapan dengan resikonya.
9. Menonton film yang merusak akhlak atau membaca buku novel yang menyesatkan dapat dibuat sampai memakan waktu berjam-jam, kadang-kadang bertengkar dengan ibu bapa atau suami dan isteri. Mana lebih terkorban waktu atau mana lebih susah, daripada berzikir atau membaca Al Quran selama 30 menit. Tentulah terkorban masa menonton film mengarut atau membaca novel mengarut hingga dapat bergaduh daripada berzikir atau membaca Al Quran sekedar 30 menit. Namun orang sanggup menonton film atau membaca novel daripada berzikir atau membaca Al Quran.
10. Mana lebih susah pergi berjudi atau pergi disko sambil meminum arak, dengan menghabiskan waktu dan uang, lalu berkelahi setelah itu dengan isteri hingga kocar-kacir rumah, daripada sanggup menolong tetangga yang susah hanya sekali-sekala yang dapat menimbulkan kasih sayang. Tentulah menolong tetangga lebih mudah tapi orang tidak sanggup berbuat, orang lebih sanggup berjudi dan pergi ke disko, minum arak hingga hancur rumah tangga, bertengkar dan berhutang.
11. Orang-orang yang banyak masuk sel, terbunuh, difitnah, ditangkap, diberi malu, dihina dan dicaci-maki oleh orang, mana yang lebih banyak disebabkan mencuri, menipu, membunuh, berzina, merampok, memperjuangkan ideologi, daripada orang-orang yang disebabkan mencari rezeki yang halal dan memperjuangkan Islam. Sudah tentu yang mencari rezeki yang halal dan karena memperjuangkan Islam terlalu sedikit dibandingkan disebabkan melakukan kejahatan tapi karena kejahatan atau dunia, sanggup menerima resiko yang berat, tapi kalau kebaikan dan kebenaran tidak sanggup melakukannya.

Setelah kita mengurai dan membuat perbandingan di antara kerja-kerja Akhirat dengan kerja-kerja dunia, kerja-kerja dunia lebih-lebih lagi yang bersifat mungkar dan maksiat lebih susaha dan lebih berat resiko yang diterima daripada kerja-kerja halal dan kerja-kerja Akhirat namun demikian orang tidak sanggup membuat kerja-kerja Akhirat walaupun mudah dibandingkan membuat kerja-kerja dunia walaupun susah dan payah.

Di sinilah menunjukkan umat Islam hatinya lebih cenderung dengan dunia daripada Akhirat walaupun dunia itu murah dan sementara waktu dibandingkan dengan Akhirat yang istimewa dan kekal abadi. Tepat sekali kata pepatah Melayu, cinta itu buta. Cinta kepada apa pun jadi buta, yang lain tidak nampak lagi, yang lain walaupun cantik dan istimewa tidak ada perhatian lagi. Macam orang sudah jatuh cinta pada seorang perempuan atau seorang lelaki, lupa yang lain, lupa ibu bapa, lupa adik beradik, lupa makan minum, lupa bekerja dan lain-lain lagi. Dan karena cintanya itu sanggup bersusah payah dan sanggup menerima resiko yang berat.

Begitulah orang yang sudah cinta dan jatuh hati dengan dunia, lupa Akhirat, sanggup susah payah dengan dunia, sanggup menerima resiko yang berat sekalipun mati karenanya. Untuk Akhirat walaupun istimewa, mudah pula, senang membuatnya, namun berat rasa hendak membuatnya karena tidak cinta.

Setelah kita mengkaji bahwa kerja-kerja dunia lebih susah dan berbahaya, lebih berat lagi dan resikonya lebih tinggi dari kerja Akhirat, apakah hujah dan alasan kita nanti di hadapan Tuhan di Akhirat kelak. Tidak ada hujah dan alasann yang sebenarnya. Maka banyaklah manusia yang masuk Neraka dari masuk ke Syurga.

Perbandingan azab dunia dan Akhirat

Sesuatu yang pasti terjati, tapi sering dilupakan dan tidak dipedulikan, ialah mati. Yakni berhentinya degupan jantung, lalu berhentilah nafas dan aktivitas lainnya, hingga manusia tidak berguna apa-apa lagi. Walaupun dia seorang profesor, raja atau presiden. Kalau dibiarkan akan busuk dan berkerut, maka terpaksalah ditanam jauh-jauh ke dalam bumi.

Semua orang dulu pasti sudah merasakan mati. Mereka sudah tidak ada lagi di bumi ini. Yang tinggal hanya nama dan sejarah hidup mereka saja. Dan detik itu pasti datang pada setiap orang diantara kita. Ia adalah program yang tidak bisa tidak pasti terjadi, dan kita sering bertanya-tanya: "Kapankah giliranku untuk mati ? Dan apa persediaan yang harus aku lakukan ?".

Kesakitan sewaktu roh dicabut dari badan oleh Malaikat Izrail seperti ditusuk-tusuk 300 kali dengan mata pedang. Hancur lumat hingga hilang segala-galanya. Rasa haus ketika maut tiba teramat sangat azabnya hingga kalaupun air satu lautan diminum tidak akan puas-puas juga. Tersadar kembali sewaktu berhadapan dengan Munkar dan Nakir. Yakni di satu alam luar yang lain dari alam dunia ini. Alam Barzakh namanya. Alam di mana kita dapat melihat malaikat dan bertanya-tanya dengannya. Alam yang diperlihatkan Syurga dan Neraka. Dan dapat juga melihat ragam manusia di dunia yang belum mati lagi itu.

Hidup di sana kalau bahagia, sangat lama sekali yakni hingga Kiamat, mungkin beribu-ribu tahun. Dan kalau kiamat tiba mungkin beribu-ribu tahun lagi. Dan kalau tersiksa pun begitu jugalah lamanya. Bahagia atau derita tergantung pada berhasil atau tidaknya kita ketika di dunia. Kalau berhasil menjalankan tugas sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi, maka bahagialah kita. Sebaliknya kalau sewaktu di dunia menjadi hamba nafsu atau syaitan serta berjuang untuk itu, maka malaikat akan mengazab kita di Barzakh sana. Terkurung selama beribu-ribu tahun dalam azab sengsara.

Itu kata Allah dan itulah ketentuan-Nya. Al Quran dan hadis banyak sekali menceritakan tenatng ini dengan sejelas-jelasnya. Lihat contoh-contohnya.

1. Surat Al Qiyamah, ayat 36-40:

"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa dipertanggungjawabkan) ? Bukankah dia dahulu setitis mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah lalu Allah menciptakannya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang yang mati ?

2. Surat An Naaai'at, ayat 10-14:

"(Orang kafir) berkata "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang sebelumnya ?" Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kamu telah menjadi tulang belulang dan hancur lumat ? Mereka berkata "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan." Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu tiupan saja. Maka dengan serta-merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.

3. Surat An Naazi'at, ayat 34-41:

Maka apabila malapetaka yang sangat besar (Hari Kiamat) telah datang. Pada hari ketika manusia teringat apa yang telah dikerjakannya dan diperlihatkan Neraka dengan jelas setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Syurga tempat tinggalnya.

Demikianlah kita telah diberitahu seterang-terangnya tentang sesuatu yang bakal terjadi dan menimpa setiap diri. Apa pendapat anda ? Nasib di dunia atau nasib di akhiratkah yang hendak diutamakan ? Sebab orang yang kaya di dunia (tetapi tidak bertaqwa) akan miskin di Akhirat, sedangkan miskin di dunia masih ada tempat tinggal, pakaian dan makan minum. Masih bisa berikhtiar. Sedangkan jika miskin di Akhirat, sesuap makanan pun tidak dapat. Tidak ada seorang pun yang simpati.

Kemiskinan dan penderitaan yang mana yang lebih patut ditakuti. Berusaha keras untuk dunia atau untuk Akhirat yang harus diutamakan ? Rasulullah SAW ketika ditanya:
"Siapakah orang mukmin yang paling cerdik ? Sabda Rasulullah : (orang yang paling cerdik) ialah orang yang banyak mengingat mati"
[ Riwayat Ibnu Majah]

Maka fahamlah kita, keutamaan harus diberikan pada urusan-urusan Akhirat. Sebab mati bisa jadi datang besok. Dan kalaulah hal itu terjadi dalam keadaan kita belum menjalankan tugas yang diamanahkan, kita akan menderita selama-lamanya. Sedangkan untuk dunia, kalau hari ini belum selesai, besok bisa disambung lagi. Kelalaian tentang urusan dunia tidak akan mengakibatkan kerugian yang panjang. Contohnya, kalau urusan yang kita tinggalkan dapat disambung lagi. Kita tidak akan rugi apa-apa. Tapi kalau karena dunia kita tangguhkan sholat, tiba-tiba kita mati sebelum shalat. Sementara akibat meninggalkan shalat dengan sengaja ialah 40 tahun masuk Neraka. Demikian juga halnya kalau kita menimbun duit dalam bank, konon untuk masa depan. Kalau kita sempat tua, mungkin duit itu bisa kita gunakan; itu pun di Akhirat tidak dapat apa-apa. Apa jadinya kalau kita mati sebelum tua, sudahlah duit itu tidak berguna untuk kita di dunia, di Akhirat kita akan menderita karena dosa membekukan harta pemberian Allah. Sedangkan kalau duit itu kita korbankan pada jalan Allah, di dunia lagi kita akan hidup senang. Inilah yang diingatkan oleh Rasulullah SAW, melalui sabdanya yang artinya:
Berusahalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya. Dan berusahalah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati esok hari.
[Riwayat Ibnu Asakir]

Jangan mengartikan hadis ini menyuruh kita bekerja keras di dunia saja; bekerja keraslah juga untuk Akhirat. Maksud yang sebenarnya ialah urusan dunia karena masih lama lagi (masih ada waktu) bisa ditangguhkan atau dikemudiankan; sedangkan untuk Akhirat, karena bisa jadi mati esok, harus disegerakan atau didahulukan.

Ingatlah mati dan akibatnya. Ia dahsyat, hebat dan menakutkan pada yang mati dan untuk yang tinggal. Secara kasar kita sudah ceritakan hal sesudah mati, untuk yang mati dan akan mati. Mari kita lihat akibat mati pada yang hidup. Betapa hebat dan menakutkan!

Demikianlah dahsyatnya akibat kematian; ngeri dan menakutkan. Sebut saja mati, orang yang tidak beriman sangat benci. Sebaliknya orang yang beriman akan insyaf; sedangkan para kekasih Allah merasakan mati itu indah karena saat pertemuan dengan Allah sudah tiba. Betul-betullah mati itu sebagai guru. Sabda Rasulullah:
Terjemahannya:
"Cukuplah kematian itu sebagai nasehat"
[Riwayat At Tabrani]

Kenapa Allah jadikan mati begitu dahsyat ? Jawabannya supaya manusia memberi perhatian serius. Sebab biasanya satu hal yang besar dan dahsyat sangat diberi perhatian oleh manusia. Begitulah sepatutnya dengan mati. Oleh karena akibatnya terlalu dahsyat pada yang mati dan yang hidup, tentu kita tidak bisa berbuat seolah-olah tak tahu saja. Haruslah berusaha dan bersedia dengan sebaik-baiknya, agar takdir Allah itu (ujian) dapat dihadapi dengan baik dan berhasil.

Ibarat kita akan menghadapi suatu tes ujian kenaikan yang besar dan penting. Tentu kita akan siap sedia dengan bersungguh-sungguh menghadapinya karena mengharapkan kejayaan. Demikiankan halnya dengan mati ini. Iman dan taqwa, amal sholeh dan akhlak mulia dengan Allah dan dengan manusia adalah syarat penting untuk selamat baik untuk yang pergi atau yang ditinggal. Yang pergi selamat di kubur, yang ditinggal tidak menderia. Iman dan taqwa akan jadi penghiburnya.

http://kawansejati.ee.itb.ac.id/perbandingan-dunia-dan-akhirat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar