Rabu, 17 Maret 2010

Canda Para Khalifah & Penguasa

Khalifah Harun Ar-Rasyid merupakan khalifah yang terkenal dengan gelaran “Sang Rotan”, karena kekuasaannya alot seperti kayu rotan. Suatu hari, ia melihat setumpuk rotan di rumahnya. Beliau lalu bertanya kepada salah seorang menterinya yang bernama Fadhal bin Rabi’.

Harun Ar-Rasyid: “Apa ini ?”.

Fadhal: “Urat tombak“, jawab sang menteri. Ia tidak mau menyebut kata ‘rotan’, karena khawatir menyinggung perasaan sang khalifah. [1]

Wualah…, kurang seru ni candanya !!! (Ya pakai mikrofon tho.., nanti kan pada dengar semua he..he..).

♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣

Tsa’lab pernah menasihati Hasan bin Sahl, (Hasan bin Sahl merupakan salah seorang menteri yang dikenal cerdas, cerdik & fasih bicaranya pada zaman khalifah Al-Makmum, dan juga salah seorang komandan terkemuka di masanya yang suka berdema). Tsa’lab tahu bahwa Hasan bin Sahl sangat senang bersedekah, sehingga kondisi ekonominya sendiri mengkhawatirkan.

Tsa’lab: “Berlebihan itu tak baik“.

Hasan: “Kebaikan itu tidak mengenal kata berlebihan“, balas Hasan dengan tak kalah tegasnya, membalikkan logika Tsa’lab.

Note; Kalau ana pribadi lebih memilih sifat pertengahan, tidak boros dan tidak bakhil dalam menginfakkan harta atau bersedekah sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an (afwan lupa ayatnya).

♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣

Suatu hari, Fath bin Khaqaan melihat sesuatu menempel di janggut khalifah Al-Mutawakkil. Tentu saja Fath merasa segan sekali jika tangannya langsung mengulur ke janggut sang khalifah. Lalu dia segera memanggil seorang budak untuk mengambilkan cermin milik khalifah.

Ketika cermin telah tiba, ia pun lalu berkata kepada khalifah, “Wahai khalifah, cobalah berkaca sejenak”. Dengan agak terheran-heran sang khalifah pun bercermin. Kemudian beliau mendapatkan ada sesuatu melekat di janggutnya. Sambil tersenyum, beliau menyingkirkan benda itu. [2]

♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣

Dikisahkan suatu hari, khalifah Al-Makmun bertanya kepada Abdullah,

Khalifah: “Mana yang lebih nyaman, tempatku ini atau rumahmu?”

abdullah: “Jelas rumahku. Kalau di rumah, saya menjadi raja. Sedangkan disini saya menjadi budak“.

Kontan saja sang khalifah tertawa [3]. Saya juga mesem dikit lho…

♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣♥♣

Dikisahkan, seorang penguasa melihat seorang pria sedang mengendap-endap untuk mencuri berita darinya. Beliau pun lalu memukul orang tersebut dan memerintahkan agar dia di penjara. Kemudian si sipir penjara bertanya pada sang penguasa,

Sipir penjara: “Apa yang harus kutulis dalam berita acaranya?”

Sang penguasa: “Tulis saja: ia mencuri dengar berita sehingga terkena hantaman bintang berekor“.

Sang penguasa menjawab dengan mengutip makna sebuah ayat dalam al-Qur’an yang menceritakan jin yang tersambar bintang berekor karena berusaha mencuri kabar dari langit.

Si penjaga pun akhirnya tersenyum mendengarnya. [4]. Wah lumayan lucu ni….

TERSENYUMLAH !; Bersyukur di Balik Musibah, oleh Abu Umar Basyir

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

[1]. Kitab Al-Adzkia, hlm. 36

[2]. Kitab Al-Adzkia, hlm. 37-38

[3]. Kitab Al-Adzkia, hlm. 46

[4]. Kitab Al-Adzkia, hlm. 47

http://meilana.wordpress.com/kisah-kisah-canda/canda-para-khalifah-penguasa/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar