Kamis, 27 Agustus 2015

Analisa Rupiah 17 - 21 Agustus 2015

Rekap Kurs Rupiah Minggu Lalu


Bukannya menguat, kurs Rupiah pekan lalu malah ambruk dan diperdagangkan di kisaran 14,100an di pasar mata uang. Langkah China mendevaluasi Yuan besar-besaran dilansir sebagai biang dibalik runtuhnya bursa dan nilai tukar mata uang Asia. Dampaknya dirasakan terutama oleh negara-negara yang memiliki hubungan dagang erat dengan Negeri Tirai Bambu, termasuk Indonesia. Setelah dibuka pada 13,642 per Dolar AS di awal pekan, kurs Rupiah merosot drastis hingga sempat mencapai 14,146 di pertengahan pekan, Rupiah kemudian ditutup pada 14,040 pada hari Jumat.

Devaluasi Yuan sementara ini dinilai akan mengakibatkan penyerapan impor China menurun, dan berdampak negatif bagi negara-negara yang menjadikannya sebagai target ekspor utama; diantaranya Australia, Indonesia, dan Malaysia. Akibatnya, mata uang ketiga negara ini sempat terpukul pekan lalu. Ini karena, nilai Yuan yang lebih rendah akan mengakibatkan harga barang impor jadi lebih tinggi bagi orang China daratan. Namun demikian, dampak lebih luas dari kebijakan China yang mengejutkan tersebut belum bisa diukur, khususnya karena pekan ini otoritas China telah memulai upaya menstabilisasi nilai tukarnya.

Masih sebagai akibat dari devaluasi Yuan, pasar menanggapi dingin laporan-laporan dari dalam negeri Indonesia meski nampak ada perbaikan neraca berjalan dan data ritel. Reshuffle kabinet yang juga mencakup penggantian Menko Bidang Ekonomi dan Menteri Perdagangan pun gagal mendapatkan respon yang diharapkan. 

Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus melaporkan bahwa kinerja neraca berjalan pada kuartal dua 2015 membaik. Dilaporkan terjadi penyempitan defisit neraca berjalan menjadi 4.5 miliar Dolar AS atau 2.1% dari GDP, jauh lebih baik dibanding defisit pada kuartal yang sama tahun lalu sebesar 9.6 miliar Dolar AS atau 4.3% dari GDP.

Neraca Berjalan Indonesia
Grafik Neraca Berjalan Indonesia Kuartal III/2012-Kuartal II/2015

Sementara itu hasil Survei Penjualan Eceran bulan Juni 2015 juga menunjukkan sedikit peningkatan dengan indeks naik dari 20.6%(yoy) menjadi 22.9%, meski secara month-over-month terjadi penurunan tipis dari 1.1% ke 0.9%. Laporan dari BI tersebut juga mengungkap bahwa tekanan harga ke depan terindikasi akan menurun disebabkan oleh lancarnya distribusi barang dan harga distributor yang relatif stabil.

Terlepas dari perbaikan-perbaikan tipis indikator ekonomi dalam negeri Indonesia tersebut diatas, gejolak di luar negeri masih berlanjut. Disamping kondisi ekonomi China masih tak menentu, partner dagang Indonesia lainnya juga mengalami prospek pertumbuhan melambat; diantaranya Jepang dan Uni Eropa. Pada hari Senin, Jepang melaporkan angka GDP minus yang membuka kemungkinan akan berkepanjangannya masa sulit negeri tersebut. Sedangkan Uni Eropa hingga kini masih bergelut dengan tingkat pengangguran tinggi, ancaman deflasi, dan perpecahan. Faktor-faktor ini menjadikan proyeksi sektor ekspor Indonesia menjadi suram, apalagi mengingat harga-harga komoditas juga tengah menurun.

Di sisi lain, pemulihan ekonomi Amerika Serikat nampaknya masih berlangsung. Kondisi pasar tenaga kerjanya makin mantap, sementara inflasi juga perlahan merayap naik. Saat ini pasar meragukan apakah otoritas moneter AS akan berani menaikkan suku bunga di tengah gejolak ekonomi dunia pada September mendatang, tetapikondisi ekonomi AS umumnya dinilai masih memungkinkan kenaikan Fed rate. Kenaikan suku bunga the Fed tersebut telah mengakibatkan pelarian modal dari Indonesia ke luar negeri, dan diperkirakan masih akan berpengaruh negatif bagi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Fundamental Minggu Ini


Pada hari Senin kemarin, kurs Rupiah dibuka melemah pada 14,133 per Dolar AS di pasar spot mata uang. Kondisi kurs saat ini sangat undervalued; dalam arti nilai tukar Rupiah sekarang lebih rendah dibanding fundamentalnya. Dipandang secara teknikal pun, Rupiah sudah kelewat oversold, sehingga membuka peluang bagi mata uang berlambang Garuda ini untuk menguat. Namun demikian, semakin lama Rupiah terdepresiasi, maka level keseimbangan bisa bergeser ke kisaran 14,000an.

Badan Pusat Statistik (BPS) pagi ini (18/8) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus, kali ini sebesar 1330 juta Dolar AS. Namun demikian, apabila masing-masing unsur ekspor dan impor ditilik kembali, maka akan terlihat bahwa keduanya masih mengalami kemerosotan. Ekspor tergerus menjadi 11.41 milyar Dolar AS saja, atau -19.23% (yoy); terendah sejak tahun 2010. Sedangkan impor anjlok menjadi 10.08 milyar Dolar AS, atau -28.44% (yoy). Hal ini mengindikasikan bahwa perlambatan aktivitas konsumsi dan bisnis domestik masih terus berlanjut.

Dari sisi fundamental, tidak banyak yang bisa mendukung penguatan kurs Rupiah. Disamping sektor eksternal (impor dan ekspor) yang tidak kondusif, data indikator iklim bisnis PMI Manufaktur, inflasi, GDP, dan cadangan devisa yang dirilis awal bulan Agustus memberikan gambaran yang kurang menyenangkan tentang kondisi ekonomi Indonesia. Dalam situasi ini, pasar akan cenderung bereaksi pada perubahan-perubahan yang terjadi di luar negeri, khususnya laporan tentang kondisi ekonomi China dan Amerika Serikat.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang tengah berlangsung hari ini akan memutuskan apakan suku bunga acuan BI rate akan tetap pada 7.5% atau diubah. Pendapat sementara memperkirakan BI rate akan tetap, karena keputusan tersebut akan menjaga keseimbangan makroekonomi saat ini. Penurunan BI rate tidak memungkinkan, karena apabila diturunkan maka berpotensi memperburuk depresiasi Rupiah. Sedangkan kenaikan BI rate juga kurang disukai karena akan makin mempersulit pelaku ekonomi domestik. Keputusan yang diumumkan BI bisa berdampak kuat terhadap kurs Rupiah.


Prediksi Rupiah Minggu Ini


Rupiah masih diperdagangkan dengan volatilitas tinggi di kisaran 14,000an. Secara teknikal, ada peluang bagi Rupiah untuk menguat dengan berkonsolidasi di dekat garis EMA-100 di kisaran 13,700-13,800an. Namun demikian, pasar akan menantikan kabar yang bisa menjadi pemicunya. Tanpa pemicu, Rupiah akan masih akan terdepresiasi ke kisaran 14,000an.


USDIDR

Chart USD/IDR dengan indikator EMA-20, EMA-60, EMA-100, dan MACD
(klik gambar untuk memperbesar) 

Untuk pekan ini, pelaku pasar kemungkinan masih menunggu pengumuman suku bunga BI sebelum mengambil keputusan. Volatilitas akan meningkat di pertengahan pekan dengan arah pergerakan tergantung pada berita yang dirilis kemudian.


http://www.seputarforex.com/analisa/lihat.php?id=243106&title=analisa_rupiah_17_21_agustus_2015



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar