Kamis, 27 Agustus 2015

Mekkah-Madinah yang Kosmopolit

 Manusia terdiri berbagai ras, warna kulit, etnik, dan bangsa. Di seantero dunia, banyak sekali jenis-jenis manusia ditinjau dari sisi fisiknya, dan itu pun tidak ada yang mirip.
Ada orang-orang yang berkulit hitam yang umumnya datang dari Afrika, kecuali di sebagian utara dari Mesir hingga Maroko. Mereka umumnya berkulit seperti orang-orang Timur Tengah lainnya. Orang-orang Turki, Lebanon, Kurdi, dan lain-lain mirip sebagian orang Eropa. Atau hampir mirip juga dengan orang-orang Asia Tengah seperti Turkmenistan, Tajikistan, Uzbekistan, Kyrgistan, Iran.
Semakin ke jantung benua Asia, ada lagi penduduk yang makin putih kulitnya dan dengan mata sipit, seperti orang China, Jepang, Korea. Kalau ke Asia Selatan, warna kulitnya lebih gelap seperti orang Pakistan, India, Bangladesh. Untuk Asia Tenggara, barangkali berada di antara Asia Selatan dan Asia Timur. Orang-orangnya berkulit lebih gelap dari orang Asia Timur tetapi lebih terang dibanding orang Asia Selatan.
Orang-orang beragam jenis ras itu berada di sekeliling kita saat melakukan ibadah haji atau umrah ke Haramain atau dua Tanah Haram, yaitu Mekkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawarah di Arab Saudi.
Penduduk Muslim dari lima benua pun berkumpul di Tanah Suci. Di dua kota itu, kita merasakan benar-benar kosmopolitanisme, berada di antara penduduk dunia yang multiras atau multibangsa. Jembatan komunikasi Perbedaan-perbedaan itu justru menjadi jembatan komunikasi antarpenduduk dunia.
Itulah yang saya rasakan saat beristirahat di Masjid Nabawi Madinah, selepas shalat ashar, Rabu pekan lalu. Ada lima anak berusia kira-kira enam hingga sembilan tahun yang sedang belajar mengaji mencandai saya.
"Dari Indonosa?" kata seorang di antara mereka sambil cengar-cengir. Saya tertawa sambil menganggukkan kepala seraya meralatnya, "Indonesia". Anak lainnya menimpali, "Jawa?"
"Indonosa, Sumatera," kata temannya yang berada di sebelahnya sambil memberi tahu bahwa dirinya punya keturunan dari Sumatera.
Di Masjidil Haram di Mekkah, ketika berbincang-bincang dengan orang Kashmir (India) dan Irak, Sabtu (24/3), mereka sangat senang saat tahu saya dari Indonesia. Saya menangkap mereka kagum pada Indonesia. Di mata mereka, nama Indonesia terdengar harum. Saya berharap mereka hanya tahu yang baik-baik saja soal negeri kita.
Sebaliknya dari mereka saya mendapatkan informasi menarik soal perjuangan melawan kekuasaan atau penindasan. Irak memang terus membara sejak invasi Amerika Serikat. Kashmir juga berulang kali memanas karena perlawanan warga Muslim.
Berbagai bangsa memang tumpah-ruah di Mekkah dan Madinah. Menurut filsuf Perancis Ernest Renan (1882), bangsa adalah jiwa yang dipengaruhi adanya kesamaan sejarah, nasib, untuk hidup bersama (le desir de vivre ensemble).
Di kalangan umat Islam, menurut Prof Quraish Shihab, paham kebangsaan pertama kali diperkenalkan oleh Napoleon saat melakukan ekspedisi ke Mesir. Pasca Revolusi 1789, Perancis berupaya melebarkan hegemoninya. Kala itu Mesir dikuasai para Mamluk di bawah kekhalifahan Utsmani. Meskipun penguasa-penguasa Mesir beragama Islam, tetapi dibangun politik pemisahan bahwa mereka adalah keturunan Turki.
Napoleon menyatakan orang-orang Mamluk adalah orang asing di Mesir. Napoleon pun memperkenalkan istilah Al-Ummah Al-Mishriyah (kira-kira berarti bangsa Mesir), mereduksi konsep yang lebih luas yaitu Al-Ummah Al-Islamiyah.
Ikatan kemanusiaan
Walaupun secara politis terlingkari dengan negara bangsa (nation-state), tetapi di Mekkah dan Madinah saya menyaksikan segala perbedaan itu justru mempersatukan. Justru saling membantu, saling berbagi tempat shalat walau berdesak-desakan, berbagi sajadah, dan sebagainya. Perbedaan benar-benar rahmat.
Menurut Nur Syam (Tantangan Multikulturalisme Indonesia, 2009) dengan konsep syu'uban wa qabailan (bersuku-suku dan berbangsa-bangsa), Islam sangat menghargai perbedaan. Ada perbedaan tetapi memiliki kesamaan dalam tali ikatan kemanusiaan (hablum min al-nas). Seperti teringat ungkapan filsuf Yunani Diogenes Laertius (412-323 SM) yang mengaku sebagai warga dunia.
Perasaan seperti Diogenes itulah yang saya rasakan waktu berada di Mekkah dan Madinah. Sangat kosmopolit, sangat humanis!
Allah SWT jelas memiliki tujuan menciptakan manusia dengan keragamannya itu. Di dalam Al-Quran surat Al-Hujurat (49) ayat 13, Allah berfirman: "Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".
Wallahu 'alam bissawab.



http://nasional.kompas.com/read/2012/03/25/15434512/mekkah-madinah.yang.kosmopolit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar