Rabu, 26 Agustus 2015

Gejolak 2014 – 2020



RINGKASAN

Dunia kemungkinan akan memasuki bagian puncak dari krisis deflationary. Waktunya mungkin antara tahun 2014 – 2016 dan berlanjut sampai tahun 2020 – 2023. Dalam dekade itu beberapa hal yang menyangkut asset, investasi dan ekonomi akan mengalami gejolak akibat kontraksi kredit. Kemungkinan:
  1. Harga saham akan turun, dan indeks DJIA yang sekarang pada level 17000an bisa jatuh ke level 4000 – 5000, bahkan mungkin diteruskan ke level 3000an.
  2. Harga emas akan jatuh ke level $ 600 - $ 700 per oz.
  3. Dengan agak ragu-ragu, EOWI memperkirakan harga minyak akan menyentuh level di sekitar $30 per bbl. Confidence level kami cukup rendah mengenai perkiraan ini. Harga minyak adalah yang paling sulit diperkirakan. 
  4. Harga property juga akan jatuh dan pasar membeku, tidak banyak transaksi.
  5. Harga US dollar terhadap mata uang lainnya akan mengalami penguatan. Dalam Rupiah kemungkinan akan mencapai Rp 17000 sampai Rp 25000 per dollarnya.
  6. Harga bond/surat obligasi pemerintah jangka pendek yang (dianggap) berkwalitas,seperti yang dikeluarkan oleh US, Jerman dan Swiss akan diborong dan nilainya naik (yieldnya turun). Tetapi bond-bond yang dianggap kurang berkwalitas seperti SUN (Surat Utang Negara) Indonesia, akan turun dan yieldnya akan naik.
  7. Jika periode ini ada kaitannya dengan periode K-Winter, dunia kemungkinan akan mengalami perang besar yang disebut dengan trough-war, setidaknya ketegangan dan konflik-konflik saat ini akan mengalami eskalasi. Perang pada periode K-Winter sebelumnya adalah Perang Dunia II, dimana batas-batas Negara berubah. Indonesia dan Suriname memisahkan diri dari Kerajaan Belanda. India, Pakistan memisahkan diri dari Imperium Inggris. Bukan mustahil, ada negara-negara baru yang terbentuk nantinya.

Membaca ringkasan dari sebuah ramalan rasanya kurang afdol tanpa membaca latar belakangnya. Maka, beginilah ringkasan lengkap kisahnya:
  
Tahun 1971, ekonomi dunia memasuki ke dalam babak baru yang belum pernah dialami sejarah. Berangkat dari pemutusan hubungan antara emas dan dollar oleh presiden Nixon dengan Executive Order 11615 nya tanggal 15 Agustus, 1971 dilanjutkan dengan dibatalkannya perjanjian Bretton Woods tahun 1975 secara sepihak oleh Amerika Serikat. Sejak itu struktur sistem keuangan dunia berubah dari sistem yang berbasis emas ke sistem yang berbasis US dollar yang bermuara pada hutang. Hal ini memungkinkan US (pemerintah US dan rakyatnya) melakukan defisit (besar pasak dari pada tiang, besar pengeluaran dari pada penghasilan) yang bekepanjangan. Kredit (hutang) tumbuh secara eksponensial sejak kotak pandora dibuka Richard Nixon tahun 1971.

Pada masa sistem berbasis emas, defisit dan hutang ada batasnya. Pada saat cadangan emas suatu negara menipis, maka negara itu dipaksa untuk mengetatkan ikat pinggang. Sejak tahun 1975, pembatas itu sudah ditiadakan. US (pemerintahnya dan konsumennya) bisa berhutang tanpa agunan dan tanpa ada batas-batas yang jelasnya. Setidaknya, salah satu batasnya adalah kepercayaan, kemampuan membayar hutang dan kesadaran bahwa hutang adalah beban. Itu adalah sebagian dari batas-batas yang tidak bisa dikuantisasi. Selanjutnya, uang/kredit diciptakan secara berlebihan (kata berlebihan bersifat relatif) saat ini dan menghasilkan bubble hutang dengan ukuran yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Cepat atau lambat bubble ini akan meletus, syukur-syukur mengempis perlahan-lahan, kontraksi kredit secara perlahan akan menghasilkan krisis yang sifatnya deflationary ringan berkepanjangan.

Meningkatnya konsumsi yang dipicu oleh gelombang demografi generasi Baby Boomer berubah menjadi pesta spekulasi dan bubble pada puncak pola konsumsi Baby Boomer tahun 2002 – 2007. Pesta pasti ada akhirnya dan bubble pasti meletus. Puncak konsumsi yang dilatar-belakangi oleh Baby Boomer terjadi pada tahun 2002 – 2007. Kemudian Baby Boomer yang pertama akan memasuki masa pensiun pada tahun 2014. 

Pola konsumsi mereka dimasa lalu membuat tingkat simpanan pensiun mereka rendah dan dianggap tidak mecukupi. Hutang harus dibayar atau dikemplang. Bisa diduga bahwa konsumsi akan menurun ketika Baby Boomer mengencangkan ikat pinggang dan sektor finansial akan mengalami tekanan jika Baby Boomer mengemplang hutang mereka. Kontraksi kredit sudah berlangsung di sektor konsumsi, lebih tepatnya sektor kredit perumahan di US. Apakah hal ini akan merambat ke sektor lain yang penggunaannya lebih ke arah permainan spekulasi? Entah lah.

Cina yang memperoleh “keuntungan” dari ke(tidak)bijaksanaan the Federal Reserves (the Fed) dan pesta konsumsi Baby Boomer, yang kemudian mengobarkan bubble disektor (saham dan) properti akan mengalami tekanan karena meletusnya bubble di sektor properti. Seperti halnya bubble saham Cina yang meletus pada tahun 2008, bubble properti Cina akan meletus. Tinggal menunggu waktunya.

Entah bubble yang mana yang akan meletus lebih dulu, apakah bubble kredit di US, saham di US, atau bubble properti di Cina. Pada saat salah satu bubble meletus sangat mungkin akan disusul oleh bubble yang lain.

Dampaknya adalah krisis kredit, kontraksi kredit, seperti yang pernah terjadi sebelumnya yaitu pada krisis subprime 2008. Kali ini akan lebih besar dari pada bubble teknologi Nasdaq tahun 2000 atau krisis subprime tahun 2008. Harga saham akan jatuh, harga emas juga tidak akan imun, harga bahan komoditi dan minyak nyungsep. Ekonomi Orang Waras dan Investasi (EOWI) memperkirakan hal ini akan terjadi diantara tahun 2014 – 2016 dan berlanjut sampai 2020. Negara-negara yang berbasis komoditi seperti Australia, Canada, negara Timur Tengah penghasil minyak, Indonesia, dimana di banyak negara ini bubble propertinya masih merah membara, akan terkena dampaknya paling parah.

Indonesia yang ekonominya berbasis komoditi, sudah mengalami tekanan sejak tahun 2011. Nilai rupiah telah turun dari puncaknya Rp 8.500 per US dollar ke $ 11.700 pada saat tulisan ini dibuat. Di saat krisis deflationary mendatang, nilai rupiah akan nyungsep ke kisaran Rp 17.000 sampai Rp 25.000 per dollar. Pada saat itu BI (Bank Indonesia) akan merenspons dengan ke(tidak)bijaksanaan BI yang menyangkut rupiah dan rekening bank yang mungkin menyulitkan anda yang punya uang dan simpanan. Apakah seperti tahun 1998? Entahlah. Jalan sejarah tidak selalu sama, tetapi seirama dan senada.

Akan adakah kekacauan di negara-negara penghasil minyak? Sangat mungkin. Kalau Libya runtuh bersamaan dengan krisis subprime, bukan tidak mungkin Kuwait, Saudi Arabia, Qatar menjadi daerah yang bergolak. Harus dicatat, bahwa semasa krisis subprime, wilayah ini juga bergolak. Pada saat harga minyak jatuh sampai dasar laut (ekspresi parabolik), pemerintah akan mengalami penurunan pemasukan, dengan demikian akan kesulitan memberikan subsidi bagi rakyatnya yang sudah terbiasa dengan subsidi di berbagai sektor terutama sektor konsumsi pokok. Biasanya jika sama-sama menderita, manusia lebih toleran. Tetapi jika ada sebagian yang hidupnya enak di tengah-tengah populasi yang menderita, maka kemarahan yang dibakar oleh iri dan dengki akan menyala-nyala, seperti yang terjadi di Lybia. Presiden Muamar Kaddafi diburu, ditangkap, diarak di jalan dan dibunuh. Suatu ungkapan kebencian.

Sejarawan ekonomi mencatat diakhir K-Winter, biasanya terjadi perang yang disebut trough-war, perang yang didukung oleh rakyat, perang populer, seperti Perang Dunia II, dimana rakyat Jerman mendukung Hitler sepenuh hati, rakyat Jepang bersedia mati demi Hirohito, Amerika Serikat yang senang hati ikut perang demikian juga rakyat Inggris dan Prancis serta participant perang lainnya. Apakah perang seperti ini akan terjadi? Dimana sajakah medannya? Apakah perang-perang di Timur Tengah, di Afganistan, ISIS merupakan prelude dari trough-war, ataukah perang di Ukraina, atau lain sama sekali? Apakah bentuk perang trough-war yang akan datang berbeda sama sekali, misalnya bukan antar bangsa, melainkan antar ideologi dan menyebar dimana-mana seperti perang saudara? Atau K-Winter ini akan terlewati tanpa perang yang berarti?

EOWI dan banyak ekonom lain mengalami kesulitan untuk meramalkan kapan terjadinya letusan bubble terakhir ini dikarenakan oleh kelangkaan/tiadaan kejadian sejarah untuk bisa dijadikan analog dan hikmah. Oleh sebab itu EOWI bisa salah. Tetapi mengingat resikonya cukup besar, tidak ada salahnya bersiap-siap.



PENGANTAR

Meramalkan bencana bukanlah hal yang disukai oleh kami di Ekonomi Orang Waras dan Investasi (EOWI). Tetapi, lebih banyak sebagai kewajiban moral untuk memperingatkan masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana dimasa datang dan juga sebagai pendidikan, sarana bertukar pikiran.. Salah satu tugas para nabi adalah memperingatkan kaumnya akan terjadinya bencana. Nabi Nuh memperingatkan kaumnya akan adanya azab yang berupa bencana banjir besarnya. Nabi Lut dengan penjungkir-balikan Sodom dan Gomorah. Nabi Hud kepada kaum Ad dengan angin besar. Nabi Yusuf dengan 7 tahun masa subur dan 7 tahun masa paceklik. Dan banyak nabi-nabi lain.

Mungkin banyak manusia ingin punya status yang sama dengan nabi, sehingga ramal-meramal menjadi bagian dari kehidupan di masyarakat. Ada ramalan yang gagal dan tidak terbukti sama sekali, karena ramalannya terlalu detail sampai-sampai menyebutkan hari dan tanggal kejadian yang diramalkannya. 

Contohnya adalah William Miller yang meramalkan tanggal 21 Maret 1844 sebagai hari kedatangan Jesus. Setelah menunggu di sampai hari tersebut dan ternyata Jesus tidak datang, maka ramalannya direvisi menjadi tanggal 18 April 1844. Ketika hari yang diramalkannya ini meleset lagi, kemudian direvisi menjadi 22 Oktober 1844. 

Orang mengatakan bahwa jam yang rusak/mati akan menunjukkan waktu benar sebanyak 2 kali sehari. Artinya walaupun tanpa pengetahuan apa-apa, kita dengan ramalan yang ngawur sama sekali, meramalkan hal yang sama terus menerus, maka suatu saat kejadian tersebut akan terwujud. Rupanya hal tersebut tidak berlaku pada William Miller. Sekarang, sudah mendekati 200 tahun berlalu, Jesus belum datang juga. Ramalan yang lebih buruk dari jam rusak ini juga terjadi pada Paul Ehrlich, seorang professor dari Stanford University dengan bukunya Population Bomb yang meramalkan adanya kelaparan global tahun 1970 – 1980. 

Bukannya kelaparan dan kekurangan pangan yang terjadi, tetapi malah sebaliknya, yaitu banyaknya penderita obesitas – kelebihan pangan - yang terus meningkat sejak tahun 1970an. Hal yang sama dialami oleh Thomas Robert Malthus – pakar ekonomi abad 19, yang meramalkan akan adanya kelaparan yang pandemi karena kenaikan produksi pangan seperti deret hitung (linear) sedangkan pertambahan jumlah penduduk seperti deret ukur. Nyatanya sampai 200 tahun, teorinya tidak pernah terbukti.

Judul Gejolak 2014 – 2020 di atas mengacu pada suatu gejolak ekonomi global yang diramalkan akan terjadi antara tahun 2014 dan 2020. Mencapai status yang tinggi seperti nabi-nabi dengan membuat ramalan ini bukan tujuan EOWI. Sebab EOWI menyadari bahwa seperti peramal-peramal lainnya, EOWI bisa salah. Kegagalan mereka juga tidak akan mematahkan semangat EOWI untuk membuat ramalan. Jadi anggap saja ramalan ini sebagai uraian untuk diambil hikmahnya. Jam rusak dan ngawur dari EOWI



SIKLUS ALAM, SIKLUS EKONOMI DAN SIKLUS KELUARGA/ MANUSIA

Siklus merupakan bagian dari alam. Setiap hari kita melihat perputaran waktu: pagi, disusul siang, kemudian sore dan akhirnya malam, sebelum kembali pagi sebagai titik awal. Demikian juga tahun yang dimulai dengan musim bunga (spring) diikuti oleh musim panas (summer), kemudian musim gugur (fall/autumn) dan diakhiri dengan musim dingin (winter). Itu di wilayah subtropis. Di wilayah tropis ada musim kemarau, kemudian pancaroba (peralihan), musim hujan (moonson) dan akhirnya musim peralihan (pancaroba) sebelum kembali ke musim kering/kemarau lagi.

Siklus alam sering kali menjadi penggerak siklus-siklus lain. Aktivitas kehidupan banyak dipengaruhi oleh siklus alam. Untuk siklus harian misalnya, ada hewan yang aktif di malam hari,  ada yang aktif disiang hari dan ada yang aktif di senja hari serta ada yang di waktu subuh. Untuk siklus tahunan di wilayah subtropis, musim semi adalah musim kebangkitan. Banyak hewan bangun dari masa tidur yang panjang (hibernasi), tumbuh-tumbuhan bersemi dan berbunga.

Kemudian musim panas, kehidupan semakin marak karena sinar matahari yang memberi kehidupan memancar lebih lama. Alam mengatur agar anak-anak hewan bisa memperoleh makanan dari alam pada musim panas. Rusa yang pemakan rumput, melahirkan anaknya di pertengahan sampai akhir musim semi, dan anak-anaknya bisa memakan rumput dimusim panas. Sedangkan beruang melahirkan anaknya pada musim dingin. Anaknya ini masih tergantung pada susu induknya sampai musim panas. Di musim panas, rusa dan makanan bagi hewan pemangsa berlimpah. Demikian indahnya alam mengatur dirinya.

Ketika musim gugur, hewan-hewan makan yang banyak dan menumpuk lemak, bersiap-siap untuk tidur yang panjang. Tumbuh-tumbuhan merontokkan daunnya, juga bersiap untuk tidur menurut versi tumbuhan.

Manusia juga membentuk suatu siklus ekonomi yang paralel dengan prilakunya. Dan ini digerakkan oleh siklus biologinya. Ketika lahir sampai remaja, manusia masih bergantung pada orang tuanya. Kemudian ia kawin dan membentuk keluarga. Di sini ia akan membeli rumah pertamanya yang ukurannya kecil untuk menampung keluarganya, anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Masa ini bisa disamakan dengan masa spring(musim semi), awal dari kehidupannya. Pada masa ini, manusia ada pada masa yang paling kreatif, karena beban tanggung jawabnya paling rendah. Masa untuk belajar, mencoba hal-hal yang baru dan bereksperimen.

Fase berikutnya, ketika perkawiannya sudah membuahkan keturunan, anak sebagian sudah masuk sekolah, sebagian masih perlu pamper/popok, karirpun sudah mulai menanjak dan kehidupannya mulai mapan. Sejalan dengan itu, pola konsumsinya semakin meningkat. Yang tadinya mobil hanyalah sedan kecil, sudah tidak mencukupi kebutuhan lagi, dan harus diganti dengan station-wagon atau mobil keluarga yang lebih luas sehingga bisa memuat anak-anak. Ragamnya, besarnya dan porsinya kebutuhan anak-anak juga meningkat, apakah itu porsi makanan, ukuran baju, mainan serta aktifitasnya. Anak harus diantar ke sekolah (atau taman bermain), juga akan membutuhkan bensin. Ini bisa dikatakan sebagai musim panas (summer)

Menjelang setengah baya, karir sudah mapan, anak-anak sudah menjelang remaja dan menjelang dewasa. Kebutuhan juga akan semakin meningkat sejalan dengan konsumsi yang meningkat. Pada umur-umur remaja dan menjelang dewasa, porsi makanan mencapai tingkat yang tertinggi di dalam kehidupan manusia karena metabolisme badannya. Rumah yang dulu dibeli sudah tidak mampu menampung ayah, ibu dan anak-anak remaja. Oleh sebab itu perlu ganti rumah baru. Bahkan mungkin perlu rumah untuk liburan. Mobilpun harus ditambah untuk menunjang aktifitas anak-anak. 

Pada masa autumn/fall ini, tingkat konsumsi keluarga mencapai puncaknya. Ini yang bisa dan akan menjadi landasan bagi banyak spekulasi yang besar. Demikian pula tingkat pinjaman bank untuk membeli barang-barang konsumsi juga mencapai puncaknya. Kredit bubble yang besar sering muncul pada fase ini. Puncaknya adalah ketika anak memasuki universitas. Itulah fase musim gugur (autumn/fall).

Musim dingin, seperti halnya yang terjadi pada siklus tahunan, semuanya melambat. Konsumsi turun, karena anak sudah mentas, keluar rumah dan mandiri. Suami-istri tinggal berdua. Pada masa ini rumah akan diperkecil supaya mudah diatur. Pola konsumsi juga sudah berubah. Pengeluaran untuk makanan diganti dengan konsumsi untuk obat dan supplemen. Penggantian gadget juga tidak mengikuti mengikuti perkembangannya dan tidak sesering dulu lagi. Yang sudah memasuki masa pensiun, akan punya waktu untuk jalan-jalan dan berpesiar. Hutang tidak lagi dibuat, melainkan malah dilunasi. Bila generasi yang memasuki fase winter ini cukup dominan di dalam suatu masyarakat, maka ekonomi akan melambat.

Itulah siklus kehidupan dari manusia yang berkaitan dengan ekonomi versi EOWI.


SIKLUS KONDRATIEFF

Ketika saya tinggal di Toronto, Canada, musim gugur tahun 1985 adalah masa yang penuh kebimbangan bagi saya, karena harus memutuskan apakah akan tetap tinggal di Canada atau kembali ke Indonesia. Hal itu merupakan keputusan yang sulit karena saya menyukai karakter masyarakat di Canada dan kehidupan disana, di lain pihak ada masalah pribadi yang harus diselesaikan di Indonesia dan perlu waktu yang lama. Pada saat itu saya sering pergi ke High Park untuk merenung sendiri. Pada masa juga itu banyak sekte-sekte keagamaan yang sering menyebarkan kepercayaannya dan merekrut pengikut, salah satu diantaranya adalah Hare Krishna dan Moonies. Pernah sekali, saya didatangi oleh pengikut dari sekte Moonies dan diajak bercakap-cakap. Ia seorang pria kulit putih (caucasian). Tujuannya mudah diterka, yaitu mencari pengikut.

Dia menerangkan kepada saya tentang adanya siklus 2000 tahun. Pertama-tama, katanya, Tuhan menciptakan Adam. Pada penciptaan ini Tuhan ingin membuat suatu keluarga manusia yang bahagia dan sesuai dengan keinginan Tuhan. Tetapi ternyata kemudian gagal karena Adam melanggar larangannya. Karena Tuhan maha kasih, maka 2000 tahun kemudian dikirimkanlah Abraham (Ibrahim) sebagai mesiah dengan tujuan yang sama yaitu membentuk keluarga manusia yang sempurna. Nampaknya Abraham dianggap juga gagal, sampai-sampai anaknya harus disembelih. Dua ribu (2000) tahun kemudian, Tuhan mengirimkan mesiah baru, Musa dengan Tauratnya. Musa juga dianggap gagal, walaupun dia sampai melakukan penaklukan Jerusalem, tetapi misi untuk membuat keluarga yang sempurna masih gagal. Dan mesiah pada 2000 tahun berikutnya adalah Jesus, yang juga dianggap gagal karena Jesus tidak berkeluarga. Dan sekarang sudah 2000 tahun. Mesiah baru seharusnya muncul, katanya seakan mengakhiri hipotesanya dengan pintu terbuka dan mengharapkan pertanyaan dari saya mengenai siapa mesiah yang baru untuk abad ini. Karena tanggapan saya tidak seperti yang diharapkan, maka dia akhirnya menyebut pendeta Sun Myung Moon dari Korea Selatan sebagai mesiah untuk abad ini.

Teori siklus 2000 tahun ini sangat rapuh, karena hanya mempunyai asumsi-asumsi dasar serta apa disebut kondisi perlu (necessary conditions) dalam ilmu logika dan matematik. Sayangnya suatu teori, walaupun disokong oleh puluhan kondisi yang diperlukan, tetap akan lemah tanpa kondisi cukup (suffiecient condition). Karena kondisi yang diperlukan, walaupun banyak tidak akan bisa mencukupi. Hanya kondisi cukup (sufficient condition), walaupun hanya satu, yang bisa membuat suatu teori tegar. Antara Abraham dan Musa serta Jesus, masing-masing berkisar antara 1000 – 1300 tahun, bukan 2000 tahun. Tetapi berdebat dengannya mengenai sejarah akan panjang, dan itu tidak saya inginkan. Saya akhirnya memperoleh suatu argumen yang elegan untuk mematahkan teori siklus 2000 tahun ini.

“Anda tahu...., sebenarnya mesiah baru yang benarnya adalah anda, bukan pendeta Moon” kata saya. “Sebabnya, ...... Abraham adalah Yahudi berkulit putih dan bukan orang Oriental. Musa juga Yahudi, bukan orang Oriental. Jesus juga berkulit putih. Kalau anda mengikuti pola ini, maka seharusnya mesiah yang sekarang adalah berkulit putih dan disunat. Anda seperti itu bukan?” lanjut saya. Jawaban saya punya tekanan pada kata orang berkulit putih dan ini membuat matanya terbelalak dan tidak mampu berkata-kata. Ia karena tidak menyangka teori saya yang lebih baik itu akan menganggap dia lebih tinggi dari pada pendeta Moon yang diagungkannya.

Catatan:

Sekte Moonies adalah sekte yang suka menyelenggarakan perkawinan massal, terutama antara orang Korea dengan orang Barat. Nama resmi sekte ini adalah Unification Church atau Gereja Penyatuan.

Apa yang diceritakan oleh pendakwah yang saya temui itu, tidak 100% berasal dari Divine Principle, buku yang dijadikan pegangan oleh pengikut Moonies. Dalam Divine Principle, cerita siklus 2000 tahun itu tidak mengikut sertakan Abraham dan Musa. Di dalam Divine Principle ceritanya dari Adam ke Jesus kemudian ke Sun Myung Moon.

Apa yang dikatakan pendakwah yang saya temui bahwa Tuhan gagal untuk meluruskan rencana adalah hal yang muskil (Tuhan bisa gagal?). Mungkin yang dia maksud dengan tuhan adalah tuhan dengan huruf kecil, bukan Tuhan dengan huruf besar.

Hikmah cerita di atas mewakili opini-opini yang logis mengenai teori siklus. Dengan kata lain, (banyak seandainya tidak mau disebut semua) teori siklus sosial, ekonomi tidak mempunyai dasar yang ilmiah. Tetapi banyak yang mempercayainya. Ini termasuk juga siklus ekonomi Kondratieff yang sangat terkenal di kalangan para investor, banyak yang mempercayainya seperti agama. Saya bukan orang yang termasuk percaya pada siklus Kondratieff atau siklus-siklus sosial-ekonomi lainnya, kecuali siklus alam seperti siang-malam, siklus musim tahunan, yang semuanya memang ada kaitannya dengan perputaran benda-benda alam dan bisa dimodelkan serta ada pengulangan yang bisa diprakirakan secara akurat. Akan tetapi, demi memudahkan penjelasan dan mengenakkan jalan cerita, maka saya akan gunakan siklus Kondratieff ini sebagai pengantar cerita yang dirangkai dengan siklus kehidupan manusia supaya agak ilmiah.

Nikolai Kondratieff adalah seorang akademisi dan ekonom Russia yang hidup di sekitar tahun 1920an yang mendapat tugas untuk menyelidiki naik-turunnya ekonomi kapitalis. Hasil risetnya dikemudian hari dikenal sebagai siklus jangka panjang Kondratieff. 

Periode yang ditelitinya adalah tahun 1785-1926 (14 dekade). Waktu itu the Great Depression 1930an belum terjadi. Karena Kondratieff mengatakan sesuatu yang tidak diharapkan oleh rejim komunis, yaitu kapitalisme tidak akan runtuh. Akibatnya ia dikirim oleh Stalin ke kamp kerja paksa di Siberia dan meninggal tahun 1938 pada umur 46 tahun, yang masih cukup muda untuk mengakhiri penderitaannya di kamp kerja paksa.

Teori Kondratieff, sekiranya bisa disebut teori, didasari oleh karakter harga, suku bunga, harga bahan dasar, upah, volume perdagangan internasional, dan data-data lain. Naik-turunnya aktifitas ekonomi (dan juga sosial), menurut pengamatannya, membentuk suatu siklus yang berulang setiap 50-60 tahun (rata-rata 55 tahun). Setiap siklus terdiri dari 4 fase yang dinamainya sesuai dengan 4 musim dalam setahun: musim semi (K-Spring), musim panas (K-Summer), musim gugur (K-Autumn) dan musim dingin (K-Winter). Kritik terhadap teori ini menganggap terlalu dini untuk membuat kesimpulan, karena datanya hanya merupakan 2 putaran siklus. Siklus 5-6 dekade diturunkan dari data sepanjang 14 dekade, kurang memenuhi syarat untuk dijadikan rumus empiris yang akurat. Tetapi hal ini tidak akan menghalangi kita untuk membahas teori ini.

Banyak analis dan penulis yang bergerak di dalam bidang ekonomi dan investasi mendasari analisanya dan menggunakan siklus Kondratieff ini. Seperti Marc Faber[1] dalam bukunya Tomorrow’s Gold dan Gary Shilling[2] dengan bukunya Deflation. Mereka hanya sebagian kecil dari sekian banyak pengarang yang menyelipkan siklus Kondratieff sebagai bagian dari bukunya. Ada dari mereka mencoba memberikan argumen mengenai landasan/motor yang menjadi penggerak terjadinya siklus Kondratieff. Ada yang mengatakan adalah  perkembangan inovasi teknologi, pertumbuhan penduduk, perang, mood masyarakat, prilaku investor. Walaupun penyebab utama (motor penggerak) dari siklus Kondratieff dan juga rentang waktu per siklus (panjang siklus) masih diperdebatkan, anehnya para peneliti/analis masih berpegang pada siklus yang sama. Terkadang bagi orang yang berpikir akan bertanya, apakah para peneliti/analis ini memperdebatkan hal (siklus) yang sama atau tidak?

Walaupun asal muasal kosep siklus Kondratieff dari Russia tetapi dalam perjalannya lebih banyak dikaitkan dengan Amerika Serikat. Di dalam buku-buku yang ada sekarang banyak contoh-contoh kejadian yang bisa dicocokkan dan direlevansikan dengan fase-fase dalam siklus Kondratieff, biasanya yang berkaitan dengan Amerika Serikat. Hal ini bisa dimengerti karena dominasi Amerika dalam bidang akademi dan ekonomi yang menumbuhkan kultur Amerika-sentris.


Fase Musim Semi (K-Spring – Fase Inflasi/Ekspansi)

Periode ini sering disebut dengan K-Spring. Bak musim semi, kehidupan dan segala aktivitas dimulai. Biasanya K-Spring dimulai setelah berakhirnya suatu perang yang didukung oleh rakyat sampai berakhirnya perang. Di dalam sejarah Amerika Serikat, perang menjelang K-Spring ini contohnya adalah Perang Dunia II (1938 – 1945) dan perang Amerika-Spanyol (1898). Perhatikan bahwa semuanya terjadi dengan Amerika Serikat, karena adanya Amerika-sentris.

Usai perang semangat untuk maju dan memulai lembaran hidup baru masih tinggi. Tingkat tabungan cukup tinggi karena kecenderungan menabung pada periode sebelumnya. Tingkat hutang masih rendah. Suku bunga masih rendah sehingga bisa menunjang investasi dan ekspansi ekonomi. Harga saham, properti dan komoditi masih murah. Pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan. Harga-harga bahan komoditi, upah buruh, harga saham secara bertahap meningkat. Uang yang beredar dan perputarannya meningkat. Keuntungan perusahaan yang meningkat membuat investasi di sektor teknologi juga meningkat untuk membuat produksi barang dan jasa lebih murah. Pada masa ini investasi di saham, komoditi dan real estate sangat baik.

Tahun-tahun yang bisa dikatakan sebagai K-Spring menurut banyak analis adalah 1794-1800, 1844-1858, 1896-1907, 1949-1966.

Saya ingin memasukkan pola konsumsi dan demografi kedalam siklus Kondratieff agar supaya siklus Kondratieff ini punya landasan teori yang lebih baik. Pada saat K-Spring ini, para pemuda selesai perang, kemudian membentuk rumah tangga, dan punya anak. Perbuatan ini praktis dilakukan secara serentak. Mereka punya anak hampir serentak, sehingga ada semacam tsunami generasi. Mungkin kata tsunami agak berlebihan, kata yang lebih tepat mungkin gelombang pasang saja. Gelombang generasi Baby Boomer, bisa dikategorikan sebagai generasi paska perang K-Winter. Generasi Baby Boomer inilah yang mempengaruhi siklus Kondratieff 1949 – 2020 (?). Catatan saya tidak terlalu terikat pada rentang 50 – 60 tahunan sebagai panjangnya satu putaran siklus. 

Dengan mengkaitkan siklus ini dengan umur manusia, maka sudah sepatutnya bahwa rentang satu putaran siklus akan memanjang karena umur rata manusia semakin panjang sejalan dengan meningkatnya kesehatan. Dengan harapan hidup rata-rata dunia saat ini adalah 67 tahun. Untuk negara maju (yang mempengaruhi ekonomi dunia) saat ini adalah sekitar 70-80 tahunan, maka rentang satu putaran siklus bisa mencapai 70 - 80 tahunan.


Fase Musim Panas (K-Summer)

Pada fase K-Summer ini, ekonomi sedang menuju puncaknya. Pertumbuhannya tidak lagi secepat sebelumnya. Resesi muncul disertai dengan inflasi yang tercermin oleh naiknya harga barang, bahan komoditi dan suku bunga. Harga saham cenderung turun atau stagnan. Dunia bisnis juga tidak lagi membukukan pertumbuhan keuntungan. Perang, suatu aktivitas yang dibiayai pemerintah, juga banyak terjadi pada periode ini. Perangnya biasanya diakhiri dengan rasa ketidak puasan di dalam masyarakat. Dengan kata lain perang ini tidak didukung oleh rakyat. Di dalam sejarah Amerika, contohnya menurut Gary Shilling[3] adalah Perang Dunia I dan perang Vietnam. Ini yang membuat harga bahan komoditi naik dan inflasi. Investasi yang terbaik pada masa ini adalah emas, bahan komoditi dan real-estate.

Periode-periode yang bisa dikategorikan ke K-Summer banyak analis adalah 1800-1816, 1858-1864, 1907-1920, 1966-1982.


Fase Musim Gugur (K-Autumn)

Ada yang mengatakan bahwa periode ini adalah periode bahagia, walaupun pertumbuhan ekonomi pada fase ini cenderung datar. Harga-harga, termasuk harga barang komoditi, perak dan emas cenderung untuk stabil atau turun. Sehingga bukan menjadi pilihan investasi. Bisnis bisa membukukan pertumbuhan keuntungan, tetapi tidak setinggi pada fase-fase sebelumnya. Yang menyolok lagi ialah, hutang akan tumbuh dengan cepat dan aksi spekulasi dengan menggunakan leverage (bantuan) hutang cenderung naik, mania merebak. Investasi yang terbaik pada periode ini biasanya saham, bond korporasi, real-estate, barang antik dan barang koleksi seni sampai ke investasi di sektor teknologi inovasi baru kemungkinan ditemukan pada fase ini.

Periode-periode yang bisa dikategorikan ke K-Autumn banyak analis adalah 1816-1835, 1864-1874, 1920-1929, 1982-2000.


Fase Musim Dingin (K-Winter)

Pada masa K-Winter adalah masa bersih-bersih dan hari-hari perhitungan. Semua kegilaan, mania, hutang yang berlebihan, dosa yang dilakukan pada periode K-Autumn akan dibersihkan, dibayar, diselesaikan. Dengan kata lain K-Winter adalah masa koreksi. 

Ciri-cirinya adalah: harga bahan komoditi kolaps, pasar modal kolaps, gagal bayar meningkat, kredit membeku, suku bunga obligasi pemerintah (yang stabil) anjlok ke titik terendah dan sebaliknya berlaku bagi obligasi pemerintah yang buruk, serta situasi depresi deflasi ekonomi. 

Spekulasi-spekulasi yang terjadi pada periode sebelumnya akan runtuh dan memakan korban. Masyarakat mengurangi konsumsinya dan cenderung untuk menabung serta berhemat. Atmosfir di masyarakat dipenuhi oleh rasa ketidak-puasan sosial. Dan biasanya perang besar juga terjadi sampai akhir dari depresi ekonomi ini, yang disebut dengan trough war

Perang ini katanya mempunyai fungsi sebagai jalan keluar kekecewaan dan frustrasi (oleh sebab itu trough war ini didukung oleh rakyat yang notabene sedang frustrasi), sebagai jalan keluar menuju pemulihan ekonomi (kok bisa ya?) dan meluruskan kembali agenda nasional masing bangsa.

Periode-periode yang bisa dikategorikan ke K-Winter banyak analis adalah 1835-1844, 1875-1896, 1929-1949, 2000 - (?). Perang-perang  yang dikategorikan sebagai perang di akhir K-Winter adalah perang Amerika-Mexico (1846 – 1848), perang Spanyol – Amerika (1898), Perang Dunia II (1939 – 1945)

Bagi yang tertarik, saya anjurkan untuk membaca lebih lanjut topik mengenai siklus Kondratieff di buku dan literatur lainnya. Siklus ini banyak dibahas dan digunakan oleh pengamat, penulis buku dan advisor finansial.


Fase Musim Dingin (K-Winter)

Pada fase apakah kita sekarang? Itu adalah pertanyaan penting. Kita di EOWI mencoba menerka jawaban dari pertanyaan ini, seperti halnya para analis lain. Kemungkinan EOWI gagal dalam terkaannya. Karena hal-hal seperti ini hanya bisa diidentifikasi setelah lama berlalu, jauh dibelakang kita.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa siklus Kondratieff bisa diinterpretasikan bermacam-macam, karena tidak ada dasar teori/model yang sifatnya mekanistiknya. Sebagai alat untuk memprediksi masa depan secara tepat agak sulit dipakai, terutama mengenai waktunya. Kalau siklus Kondratieff adalah alat prediksi yang baik dan akurat maka akan banyak orang yang mengetahui siklus ini menjadi kaya karena bisa sukses berspekulasi secara aggressif baik selama masa pertumbuhan (K-Spring dan K-Summer) atau selama masa perlambatan (K-Autumn dan K-Winter).

Menentukan periode apakah dekade 2010an (2010 – 2020) ini, ada pada K-Winter atau K-Spring tidaklah mudah. Karena banyak gejala yang tidak sinkron dengan panjang gelombang siklus, kalau kita sangat kaku dalam menggunakan rentang waktu untuk satu putaran siklus. 

Pengguna siklus Kondratieff kebanyakan setuju bahwa tahun 1787 sebagai awal dari K-Spring. Kalau demikian maka K-Spring untuk harus dimulai tahun 2007 (1786 + 4 x 55) setidaknya antara 2000 – 2010. Tetapi jelas bahwa antara 1997 – 2010 bukan K-Winter. Ada yang mengusulkan bahwa siklus Kondratieff mengalami pemanjangan seperti terlihat pada Grafik - 1. Pada illustrasi ini K-Winter terjadi tahun 2000-2010. Selama K-Winter seharusnya kredit dan uang mengalami kontraksi; harga-harga turun, harga emas juga turun. Yang terjadi malah sebaliknya. 

Pada kenyataannya, selama tahun 1998 – 2008 harga minyak naik dari $10 per bbl di 1999 ke puncaknya $147 per bbl pada bulan Juli 2008. Harga emas naik dari level $ 290 per oz tahun 1999 ke $ 1000 per oz tahun 2008 dan melewati $1265 per oz di tahun 2010 ($1900 per oz di tahun 2011). Harga bahan komoditi juga naik selama periode tahun 1999 – 2008. Walaupun ada koreksi yang cukup dalam di tahun 2009, harga bahan komoditi masih menanjak sampai puncaknya pada tahun 2011. Demikian juga harga rumah/properti di hampir semua negara naik dengan pesat selama hampir satu dekade, dari tahun 1999 – 2006. 

Hanya harga saham tidak beranjak banyak dibandingkan dengan dari tahun 2000 di negara-negara maju seperti Amerika, Eropa Barat dan Jepang. Tetapi saham di negara-negara berkembang seperti India, Indonesia, Brazil, Cina, Russia melesat sampai berkali-kali lipat. Periode 1999 – 2007 (bahkan sampai tahun 2014) ini tidak bisa disebut K-Winter

Bisa jadi siklus Kondratieff adalah alat penunjuk waktu yang rusak. Ibaratnya seperti jam rusak yang masih digunakan orang. Jam mati menunjukkan waktu yang tepat sebanyak 2 kali sehari.

 Grafik - 1              Siklus Kondratieff Standard


Sejak tahun 2002, Robert Prechter dengan pendekatan teori Elliot Wave meramalkan terjadinya masa deflasi seperti K-Winter melalui bukunya “Conquer the Crash” edisi pertamanya[4]. Ramalannya meleset dalam hal waktu. Para investor yang mengikuti bukunya Prechter ketinggalan kereta boom di sektor emas, bahan komoditi dan saham emerging market serta boom di sektor perumahan (di Eropa dan di Amerika Serikat) yang terjadi antara tahun 2003-2007. 

Mungkin karena kemelesetan dalam menentukan K-Winter abad 21 ini, akhir-akhir ini pengguna siklus Kondratieff merevisi hitungan rentang 1 putarannyanya.  Misalnya Geir Solem dalam artikelnya Bonds & Interest Rates - The 54 year cycle (4 Maret 2010)[5] dan The Kondratieff Cycle (1 Desember 2009)[6] di website FinancialSense.Com, mengindikasikan bahwa tahun 2020 adalah akhir dari K-Winter (lihat (Grafik - 2). Grafik ini mereka ambil dari Longwave Group[7] penyedia jasa analisa ekonomi dan investasi. Pendapatnya mengatakan bahwa K-Winter sudah berlangsung dari sejak tahun 2000.


Grafik - 2              Siklus Kondratieff versi LongWave Group.


Kalau dilihat dari masih melesatnya harga bahan komoditi sampai tahun 2008, harga rumah di Amerika, Eropa dan banyak belahan dunia lainnya, akan lebih cocok jika sampai tahun 2008 masih pada periode K-Autumn. Dan K-Winter dimulai tahun 2008. Apapun opininya nampaknya banyak yang sepakat bahwa tahun 2010 sudah memasuki K-Winter apakah itu dimulai dari tahun 2000 atau 2007. Dari situ bisa disimpulkan bahwa siklus Kondratieff tidak mempunyai rentang waktu yang sama untuk setiap putarannya.

Pendapat saya, kalau memang bersikeras untuk menggunakan siklus Kondratieff dan menganggapnya sebagai teknik empiris yang sahih, maka K-Winter dimulai dari tahun 2007, dimana harga saham dunia ambruk, menyusul bahan komoditi dan emas (2008), dan sebelumnya harga rumah/real-estate di Amerika Serikat, Eropa dan di banyak belahan dunia mulai turun. Dan yang paling penting adalah terjadinya pergeseran konsumsi (menyusut atau berubah polanya) dan spekulasi juga menyusut, gagal bayar, kemudian kebekuan kredit yang disusul dengan kontraksi kredit. Saya pikir kontraksi kredit dan pasokan uang M3 yang beredar, jauh lebih penting dari harga barang yang lainnya, karena kredit dan uang adalah sumber terjadinya deflasi, sedang harga adalah akibatnya atau gejalanya. Kita harus bisa membedakan antara penyebab dan akibat. Kontraksi M3 yang parah juga terjadi pada saat dimulainya K-Winter di tahun 1930

Apa yang terjadi selama depresi deflasi, sudah banyak penulis buku yang membahasnya. Diantaranya adalah Gary Shilling dengan bukunya yang berjudul “Deflation” yang terbit tahun 1999, juga Harry Dent Jr[8]. Walaupun pendekatan Dent bukan dengan siklus Kondratieff murni, tetapi pada dasarnya Dent berpendapat dalam dekade 2010an (2010 – 2020), terjadi depresi besar.



SUDUT PANDANGAN ALTERNATIF

Bagi orang yang hendak menggunakan siklus Kondratieff pasti menyadari akan adanya kerancuan pada rentang siklus Kondratieff untuk periode sekarang. Seharusnya siklus Kondratieff sudah memasuki fase K-Winter sejak tahun 2000. Tetapi dunia pada dekade 2000an, justru lebih menyerupai K-Autumn dimana spekulasi (dibidang realestate dan komoditi) secara global sedang marak-maraknya dan kredit masih berekspansi. Memang dalam hal saham, lebih dimonopoli oleh saham di emerging market. Dalam arti, indeks Dow (di US) dan di negara-negara maju di Eropa di tahun 2010 tidak jauh berbeda dengan di tahun 2000. 

Hal yang sebaliknya berlaku pada indeks saham di emerging market. Kalau mau dilihat lebih dalam, maraknya (booming) di sektor realestate dan komoditi sedikit atau banyak digerakan oleh meningkatnya konsumsi Baby Boomeryang kebablasan karena didukung dengan ketersediaan kredit mudah sepanjang dekade 2000an. Walaupun bubble realestate di US dan Eropa sudah meletup saat krisis sub-prime 2007, bubble realestate di negara-negara lain seperti Cina dan negara-negara  berkembang masih berlanjut sejalan dengan ketersediaan likwiditas.

Tahun 2011, bubble di sektor komoditi meletus (kalau mau dikatakan demikian). Negara-negara yang berbasis komoditi seperti Canada, Australia termasuk Indonesia, merasakan tekanannya. Kempisnya bubble komoditi ini sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina. Bubble realestate di Cina, cepat atau lambat akan mengempis kalau tidak mau disebut meletus. Ini mungkin bubble terakhir yang akan meletus bersama kolapsnya kredit di Cina yang akan menyeret ekonomi dunia ke dalam krisis yang dalam.

Apapun namanya, apakah K-Autumn atau K-Winter, akan lebih baik melihat data-datanya saja sebagai tempat memulai pengambilan kesimpulan.

EOWI mencoba mencari rekosiliasi antara siklus dan faktor-faktor ekonomi yang bisa mempengaruhinya. Pada saat kita melihat/mengobservasi adanya siklus alam, seorang scientist akan mencari tahu mengenai mekanisme terjadinya siklus tersebut. Untuk siklus Kondratieff (yang sudah kacau dan mengalami pemanjangan fase serta pencampur-adukan gejala fase), EOWI akan mencoba mendekatinya dengan dua parameter, yaitu demografi berserta pola konsumsinya dan kredit yang berujung pada spekulasi. Walaupun dalam banyak hal, keduanya adalah koin dengan dua muka.

Tentu ada dari pembaca yang bertanya, bagaimana dengan ke(tidak)-bijaksanaan pemerintah. EOWI akan memperhitungkannya. Tetapi kebijaksanaan pemerintah sering menjadi ketidak-bijaksanaan karena salah sasaran, dalam bahasa Inggrisnya, unintended consequences muncul dimana-mana. Disamping itu ke(tidak)-bijaksanaan pemerintah hanya bisa bertahan untuk jangka waktu yang pendek.

EOWI akan menggunakan data Amerika Serikat, karena:

  1. Amerika Serikat dengan kapitalismenya membuka lebar kreatifitas dan inovasi. Teknologi-teknologi baru datangnya dari US dan kemudian diadopsi di negara-negara lain.
  2. Ekonomi US adalah 24% dari ekonomi dunia, sehingga apa yang terjadi dengan ekonomi US, maka dampaknya akan mendunia. Disamping itu Uni Eropa yang mempunyai GDP 25% dari ekonomi dunia juga mempunya pola yang sama.
  3. US dollar adalah mata uang dunia sejak hancurnya perjanjian Bretton Woods.
  4. Karena sejarah (Perang Dunia II) pola demografi negara-negara yang ikut perang, serupa. US adalah negara yang ikut Perang Dunia II bisa mewakili negara-negara lainnya.


MOTOR EKONOMI MEMASUKI MASA PENSIUN

Baby Boomer adalah merupakan generasi yang tercipta karena ledakan kelahiran paska Perang Dunia II. Kawula muda dimasa perang dunia ke II (1939 – 1945) yang menunda perkawinan mereka karena Perang. Seusai perang, mereka merealisasikan rencana mereka yang tertunda selama 6 tahun tersebut, sehingga terjadi keserempakan. Kelahiran bayi-bayi mereka antara tahun 1946 – 1964 seperti gelombang demografi. Bayi-bayi yang dilahirkan meningkat dan pada puncaknya mencapai 50% lebih tinggi dari angka kelahiran sebelumnya. Ini adalah gelombang generasi. Puncak gelombang kelahiran terjadi di antara tahun 1957 dan 1961 (lihat Grafik – 3).



 Grafik - 3  Kelahiran Baby Boomer


Ada yang mengira bahwa Baby Boomer hanyalah fenomena Amerika (US) saja, tetapi tidak demikian. Boleh dikata hampir semua negara yang terlibat aktif dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat, Inggris, Itali, Jepang, Belanda, Prancis dan lainnya, mengalami hal yang sama. Pemuda-pemuda mereka menunda perkawinan mereka selama perang berkecamuk. Kemudian secara serempak mereka melakukan hal yang mereka tunda, yaitu kawin pada saat perang berhenti, membuat keluarga serta berkembang biak.  Kebanyakan generasi Baby Boomer dimulai tahun 1946, tetapi untuk negara yang hancur parah, seperti Jerman, Baby Boomer agak terlambat (1955-1967). Sedangkan negara-negara yang konservatif dan mayoritas beragama Katolik seperti Prancis, gelombang Baby Boomernya lebih panjang (1946–1974). 

Untuk Indonesia dan negara-negara dengan tingkat kelahiran tinggi sebelum Perang Dunia II, fenomena baby boom tidak ada (tidak nampak). Pada masa itu, pasangan suami istri bisa punya anak setiap tahun, sehingga jumlah anak dalam keluarga bisa mencapai sampai punya 10 – 12 orang anak untuk setiap pasangan.

Kata orang Islam: “Banyak anak, banyak rejeki. Anak membawa rejekinya masing-masing.”. Gelombang generasi inilah yang menentukan sejarah perekonomian dunia. Karena jumlahnya, maka orang yang bekerja lebih banyak, kebutuhan lebih banyak, penemuan-penemuan dan inovasi juga lebih banyak, dengan kata lain, kegiatan (termasuk kegiatan ekonomi) menjadi lebih banyak. Generasi inilah yang mendominasi jalannya sejarah antara tahun 1950 sampai mungkin 2020 nanti. Apakah itu nilai-nilai sosial seperti women-liberation, free-sex, perkawinan lesbian-homosexual, lingkungan hidup, atau penemuan-penemuan dan inovasi seperti komputer, internet, otomatisasi, dsb yang selanjutnya bentuk dari ekonomi. 

Mereka ini, muncul dalam berbagai bentuk masyarakat yang berubah dengan waktu, apakah itu sebagai hippies seperti Jimmy Hendrix, James Morrison, Janis Joplin atau sebagai entepreneur/pencipta/inovator seperti Bill Gate, Steve Jobs atau Tim Berners-Lee (World Wide Web), Dean Kamen (alat cuci darah portable), Ajay Bhatt (Universal Serial Bus port), Yet-Ming Chiang (rechargeable lithium-ion batteries) dsb. Baby Boomer, secara team atau secara individual menorehkan tonggak-tonggak sejarah teknologi, yang menonjol terutama di bidang komputer dan telekomunikasi yang meningkatkan effisiensi tinggi sekali. Bayangkan bagaimana budaya tanpa ada networks WWW atau tanpa ada mesin ATM? Informasi tidak bisa menyebar secara luas dengan cepat dan anda harus antri bejam-jam di depan teller bank.

Baby Boomer tertua di Amerika Serikat memasuki masa pensiun pada umur 67 di tahun 2013. Puncak konsumsi Baby Boomer adalah pada umur 46 yaitu pada tahun 2008. Pada umur 41 – 50 pengeluaran terarah pada mengganti rumah dengan yang lebih besar, perabotan, mobil, dan biaya kuliah anak.

Kalau dilihat dari pola konsumsi (Grafik – 4) dan gelombang Baby Boomer, maka banyak sekali kecocokan dengan irama perkonomian US, seperti pendapatan rumah tangga, ketenaga-kerjaan yang akan kita lihat nanti.



 Grafik - 4  Pola konsumsi di Amerika Serikat



PUNCAK KONSUMSI SUDAH LEWAT

Penghasilan rumah tangga di US mencapai puncaknya pada tahun 1999, menjelang tahun 2000. Setelah itu menurun . Antara demografi dan pola konsumsi membentuk konsumsi keseluruhan. Disini terlihat adanya korelasi dengan penghasilan rumah tangga. Puncak konsumsi yang terjadi pada umur antara 44-53, diharapkan berdampak pada aggregat konsumsi yang memuncak pada tahun 2002 – 2007, dimana puncak gelombangBaby Boomer (kelahiran tahun 1956 – 1961) mencapai usia 46, yaitu puncak konsumsinya. 

Memang angka-angka ini (2002 – 2007) tidak bertepatan sekali dengan tahun dimulainya penurunan tingkat pendapatan rumah tangga US (tahun 2000, lihat Grafik-5), karena memang ada faktor-faktor lain. Bagaimanapun juga tidak semua rumah tangga mengirimkan anaknya ke universitas. Dan juga faktor pecahnya bubble saham teknologi Nasdaq.



Grafik - 5  Penghasilan Rumah Tangga di US


Setelah tahun 2000 (saat krisis ekonomi karena pecahnya bubble teknologi Nasdaq), Alan Greenspan, ketua bank sentral US, menggelontorkan likwiditas. Dan ini masih bisa menghidupkan kembali tingkat konsumsi (dan diberengi oleh spekulasi) masyarakat. Masyarakat mengagunkan rumahnya untuk melakukan konsumsi. Artinya, penurunan di sektor penghasilan ditambal dengan kredit/hutang. Oleh sebab itu selama tahun 2000 sampai 2008, tingkat kredit perumahan naik bahkan secara parabolik (Grafik-6). 

Artinya konsumsi rumah tangga US sejak tahun 2000 – 2008 dibiayai oleh kredit akibat banjir likwiditas yang digelontorkan oleh Alan Greenspan. Dengan hidupnya kembali tingkat konsumsi, dampaknya yang sementara itu terlihat pada tingkat penghasilan keluarga yang meningkat kembali selama 3 – 4 tahun dari tahun 2004 sampai tahun 2007-2008 (lihat Grafik -5).



Grafik - 6  Hutang hipotek (kredit perumahan) US


Istilahnya, kita bisa membawa air kepada anjing, tetapi kita tidak bisa memaksa anjing untuk minum. Artinya the Fed bisa melonggarkan kredit untuk konsumsi, tetapi tidak bisa memaksa kepada siapa konsumen membeli barangnya dan barang apa yang dibeli. Tingkat tenaga kerja yang bisa terserap dari angkatan kerja di US tidak meningkat banyak. Puncaknya ada pada tahun 2000 (Grafik – 7). Memang ada rebound kecil antara tahun 2005 – 2007, setelah itu melemah kembali. Artinya ketidak-bijaksanaan the Fed menggelontorkan likwiditas gagal menghidupkan kembali lapangan kerja di US. Juga di sektor pendapatan rumah-tangga, reboundnya juga terbatas (Grafik – 5, antara tahun 2004 - 2008). Bahkan sebaliknya, ketidak-bijaksanaan the Fed malah mengobarkan spekulasi dimana-mana. Harga saham di US menanjak kembali menembus level tahun 2000 dan di emerging market lebih dahsyat lagi. Indeks saham Shanghai, meroket dan meletus pada tahun 2008. Harga emas, tembaga serta bahan bahan-bahan komoditi melonjak dan membubbleBubble di sektor komoditi berlanjut sampai tahun 2011 dengan dibantu bensin dan tenaga dari gelontoran likwiditas dari Cina.



Grafik - 7  Tingkat partisipasi angkatan kerja

Globalisasi membuat credit boom 2000-2007 merambat keseluruh dunia. Spekulasi marak di seluruh dunia. Bahan tambang dan emerging market (yang banyak di antaranya baru sembuh dari krisis moneter 1997-1998) mengalami bubble.



PEMERINTAH BUKAN PENGGERAK RODA EKONOMI

Bubble yang ditimbulkan oleh credit boom 2000-2007 berakhir dengan krisis subprime. Yang menarik adalah pada tahun itu, puncak konsumsi berdasarkan demografi berakhir. Patut diduga antara keduanya ada korelasi.

Krisis subprime 2007 - 2008 membuat pemerintah US (dan negara-negara lain di dunia) melakukan penggelontoran likwiditas lagi. Tetapi sayang, sektor swasta mungkin sudah jenuh. The Fed bisa mencetak duit, tetapi kalau bank-bank komersial dan konsumen tidak mau memanfaatkannya, maka usaha-usaha the Fed tidak ada gunanya. Rumah yang dulunya dijadikan mesin ATM (digadaikan rumahnya dan dananya digunakan untuk konsumsi), ternyata tidak terulang lagi. Entah karena bank-bank komersial tidak likwid atau memang konsumen sudah tenggelam dalam hutangnya atau mungkin keluarga sudah tidak perlu mengganti rumah dengan yang lebih besar. Nilai asset yang di bawah jumlah kredit (Grafik – 6) mengindikasikan bahwa bank-bank komersial kurang sehat.

Standard Operating Procedure dari para ekonom Keynesian adalah, jika konsumen tidak mampu belanja lagi, maka lowongan itu digantikan oleh pemerintah. Belanja negara di naikkan. Persoalan utamanya adalah pemerintah bukan penggerak roda ekonomi. 

Contohnya Jepang, sejak tahun 1990 pemerintah melakukan stimulasi, roda ekonomi Jepang seret berputarnya. Stimulasi tidak ada gunanya. Catatan bahwa Jepang saat ini sudah menjadi bangsa yang menua secara demografi, banyak kakek dan nenek yang pengeluarannya relatif kecil dan tidak banyak kemauan atas keduniawian.



Grafik - 8  Money Velocity, US


Perputaran uang yang tercermin pada money velocity nampak terus menurun sejak tahun 1997 (Grafik – 8). Money velocity adalah cerminan berapa kali uang yang tercipta bisa berpindah tangan. Disini jelas bahwa the Fed tidak bisa mencegah hal ini. Padahal the Fed meningkatkan jumlah uang M1 (Grafik – 9) sejak krisis subprime.



Grafik - 9  Supply uang M1


Di samping dan sejalan dengan perputaran uang (money velocity) yang menurun, rumah tangga/keluarga juga menurunkan tingkat hutangnya sejak tahun 2010 (Grafik – 10). 

Catatan: the Fed mulai tahun 2010 melaporkan tingkat hutang rumah tangga/keluarga. Apakah itu dengan berhenti membuat hutang baru dan mencicil yang lama, atau mengemplang hutang yang sudah tak mampu dicicil. Apapun itu, pemerintah tidak bisa memaksa konsumen untuk berhutang dan menambah hutangnya lagi. Proses deflasi yang sedang berjalan dan tidak bisa dihentikan oleh pemerintah.


 

Grafik - 10  Keluarga/Rumah tangga yang enggan menambah hutang sejak tahun 2010.



HUTANG TERUS MEMBENGKAK, TETAPI.... HUTANG PEMERINTAH

Pemerintah bukan institusi penghasil keuntungan. Penghasilan pemerintah datangnya dari pajak dan hutang (yang nantinya harus dibayar atau dikemplang). Jika pemerintah hendak meningkatkan belanjanya maka harus dilakukan dengan berhutang atau meningkatkan pendapatan pajak. Jika sepintas memang kredit masih mengalami ekspansi (Grafik – 11) di saat konsumen mengecangkan ikat pinggang, maka tidak perlu ditelusuri dari mana asalnya. Pasti dari pemerintah.



Grafik - 11   Hutang yang terus membengkak.

Kredit memang masih mengalami ekspansi setelah kasus subprime. Tetapi kalau ditelusuri, yang berhutang adalah pemerintah. Dimulai dari krisis subprime, hutang pemerintah US melesat seperti roket (Grafik – 12). Ini bukan saja untuk US, tetapi juga negara-negara lain yang berusaha menahan gempuran badai subprime. Itupun pemerintah tidak bisa mencegah deflasi. Rasio hutang terhadap GDP menunjukkan penurunan (Grafik – 13). 

Dalam hal ini pemerintah kurang cukup aggressif dalam menutup celah konsumsi yang ditinggalkan oleh konsumen dan mempertahankan pertumbuhan kredit yang sifatnya eksponensial. Hutang swasta, termasuk hutang konsumen sekitar 4 - 5 kali hutang pemerintah. 

Bagaimana caranya mengimbangi lubang yang ditinggalkan swasta (termasuk konsumen). Persoalannya sampai berapa cepat, 5 kali dari yang sekarang kah?, dan seberapa jauh pemerintah harus terus berhutang. Siapa yang akan dihutangi? 

Kalau dalam keadaan booming banyak negara yang menutup defisit perdagangan US. Konsumen US masih membeli dan Cina (atau lain negara) mengekspor barang ke US. Surplus dollar di Cina akan diinvestasikan kembali dalam bentuk surat hutang. Pada saat defisit perdagangan semakin menyusut (kenyataan) siapakah yang akan membeli surat hutang US, kecuali investor/penabung berduit serta the Fed. Walaupun ada saja solusi untuk melempar surat hutang, tetapi akhirnya hutang akan membebani pembayar pajak nantinya. 


 

Grafik - 12   Hutang pemerintah meroket setelah krisis subprime.




Grafik - 13   Penurunan rasio hutang terhadap GDP di US adalah gejala deflasi


Pertanyaannya adalah, sampai berapa banyak pemerintah bisa berhutang tanpa menimbulkan krisis. Tentunya untuk tiap negara, ketahanan ekonominya terhadap tingkat hutang pemerintah berbeda-beda. Baru-baru ini pemerintah Argentina mencoba mengemplang hutangnya yang levelnya hanya 45.% GDPnya. Di pihak lain, Jepang yang hutang pemerintahnya mencapai 240% GDP, masih adem-ayem saja (tenang-tenang duduk di atas bom waktu).

Tabel – 1 menunjukkan besarnya hutang pemerintah dibandingkan dengan GDPnya.

Tabel - 1
Negara
Rasio Hutang Pemerintah terhadap GDP, % (tahun 2014)

Catatan
Jepang
243
Belum bisa bangkit sejak 1990
Yunani
174
Belum pulih dari krisis 2008
 Itali
133
Belum pulih dari krisis 2008
 Portugal
129
Belum pulih dari krisis 2008
 Irelandia
123
 United States
105
 Belgia
100
 Spanyol
94
Belum pulih dari krisis 2008
 Prancis
94
 United Kingdom
90
 European Union
89



BUBBLE PROPERTY CINA YANG SIAP MELETUS

Ekonomi Cina tidak bisa disamakan dengan ekonomi negara barat. Argumen itu diajukan dalam menjawab apakah bubble properti dan kredit di Cina akan meletus. Argumen seperti itu juga keluar untuk menjawab pertanyaan untuk kasus bubble properti dan saham di Jepang tahun 1990. Nyatanya, yang dikatakan tidak sama ternyata mengikuti pola yang sama. Bubble akan meletus.

Ekonomi Cina tidak sama dengan negara barat (katanya) dalam arti ekonomi Cina lebih terpimpin, terkontrol oleh pemerintah. Tipe ekonomi semacam ini akan lebih mudah terjadi malinvestment serta penggunaan sumber dana yang tidak effisien. Menurut Michael Pettis[9], bahwa sampai beberapa tahun lalu pertumbuhan nominal GDP Cina mencapai 18% - 20%. Ada ketidak-bijaksanaan pemerintahnya yang mengendalikan suku bunga pinjaman hanya sekitar 7% saja. Di samping itu upah buruh juga ditekan.

Anda bisa melihat bagaimana enaknya jadi pengusaha di Cina. Investasi yang biasa-biasa saja, tumbuh seiring dengan GDP atau di bawah GDP sedikit masih bisa menguntungkan, jika mereka bisa pinjam uang di bank. Margin yang besar antara pertumbuhan nominal GDP terhadap suku bunga pinjaman sangat mengenakkan investor. Sayangnya di Cina tidak semua orang bisa pinjam uang ke bank untuk menjadi investor.  Hanya golongan pilihan saja yang bisa. Mereka adalah kaum elit yang punya koneksi dengan pejabat pemerintah dan partai. Peluang untuk membuat investasi yang buruk semakin besar.

Dengan credit boom Cina menjelma menjadi mesin produksi yang memasok barang-barang konsumsi dunia, tv flat-screen, cell-phone, gadget untuk selfie, dan sederet lagi barang yang tidak terlalu penting atau tidak perlu diganti. Barang lama dibuang. Ekonomi marak. Maraknya ekonomi Cina juga ditunjang oleh puncak konsumsi Baby Boomer. Cina, sebagai negara pengekspor barang konsumen, membangun banyak pabrik-pabrik untuk memasok permintaan yang melonjak (sementara sifatnya), dan membukukan surplus perdagangan. Dan negara-negara lain sebagai konsumen seperti US dan negara Eropa (kecuali Jerman), membukukan defisit dalam perdagangannya. Negara-negara yang memasok bahan baku seperti Indonesia, Canada, Australia mengalami boom karena naiknya harga bahan baku seperti timah, (bijih) besi, nickel, tembaga, minyak bumi dan sejenisnya. Hal ini berakhir di tahun 2008 ketika tingkat konsumsi Baby Boomer mulai memudar dengan bertambahnya usia. Krisis subprime, semata-mata bukan kebetulan.

Ketika pemerintah melakulan stimulasi ekonomi untuk menambal luka-luka akibat krisis subprime 2008, mempertahankan pertumbuhan yang tinggi dengan menggenjot sektor investasi, membangun ini dan itu. Disinilah malinvestment menjadi semakin berkobar. Mall yang terbesar di Asia (South China Mall) yang kosong, kembaran Disneyland ditengah ladang jagung, Paris atau Manhattan serta kota-kota yang kosong adalah bentuk malinvestment yang semakin menggila semasa paska krisis subprime 2008.



Paris di kota hantu Cina

Non performing loan (kredit buruk) bisa dipastikan cukup banyak. Tetapi Cina membolehkan hutang ini diroll-over setiap jatuh tempo, sehingga gagal bayar bisa disembunyikan. Pada suatu saat hal ini terpaksa berhenti. Pada hari perhitungan, hutang harus dibayar atau dikemplang. Kapankan waktunya? Ada yang mengatakan, hal itu terjadi jika harga properti Cina turun, sehingga pemilik properti yang mengharapkan appresiasi harga dengan berjalannya waktu menjadi kecewa dan buru-buru menjual assetnya. Hal seperti ini akan diikuti oleh yang lain. Skenario semacam ini agak kurang masuk akal, karena properti tidak seperti saham. Paling-paling para developer terpaksa mengobral barang dagangannya. Dan ini membuat investor yang sudah membeli properti menjadi kecewa.

Sekarang harga properti sudah merangkak turun. Di beberapa tempat sempat anjlok. Juga dalam tahun 2014 ini ada 3 institusi keuangan (mutual fund, institusi investasi, reksadana) gagal bayar. Salah satunya adalah kasus Credit Equals Gold #1. Apakah ini tanda-tanda awal dari meletusnya bubble properti di Cina? Dengan waktu kita akan mengetahuinya.



BURSA SAHAM MASIH SPEKULASI

Di awal cerita ini, dikatakan bahwa EOWI kurang sreg jika K-Winter sudah berakhir. K-Winter yang biasanya didahului oleh masa spekulasi (K-Autumn) yang membentuk bubble, dan ketika bubble itu pecah dan akhirnya terjadi kontrasi kredit yang menandai dimulainya fase K-Winter. Kalau diperhatikan perjalanan margin debt (hutang di bursa saham yang dipakai untuk spekulasi), sifat kebinatangan pelaku pasar masih hidup, dari tahun 1995 sampai saat ini. K-Summer yang ditandai oleh inflasi tinggi dan perang yang tidak populer (K-Summer war) adalah dari tahun 1960 sampai 1980, dimana perang Vietnam berkobar dan inflasi menjulang tinggi. Inflasi terbunuh ketika Paul Volcker menjadi ketua the Fed dan melakukan hal yang drastis, yaitu menaikkan suku bunga dasar. Harga emas, bahan tambang dan komoditi lainnya (termasuk cengkeh) meluruk jatuh. Tommy Suharto dengan BPPC, tataniaga cengkehnya sampai terkena getahnya, dipersalahkan sebagai penyebab jatuhnya harga cengkeh (padahal sebenarnya biang keroknya adalah Paul Volcker, sang ketua the Fed, yang membunuh monster inflasi 1 dekade sebelumnya). Demikian juga terjadi pada Bambang Triatmodjo Suharto dengan tataniaga jeruk Pontianaknya yang dituding sebagai penyebab jatuhnya harga jeruk Pontianak. Setelah itu dimulailah fase K-Autumn. Nampaknya rentang K-Autumn ini cukup panjang. Tommy dan Bambang terlambat 1 dekade!. Harga cengkeh dan komoditi membumbung pada dekade 70an dan berakhir tahun 1980. Harga cengkeh per kilonya pernah mencapai Rp 40.000 (sekitar $ 100) untuk beberapa lama.

Catatan: Walaupun EOWI bukan fans dari Suharto dan keluarganya, tetapi kebenaran harus diceritakan secara objektif. Walaupun banyak yang menyalahkan Tommy dan Bambang Triatmodjo Suharto sebagai biang kerok kejatuhan dua komoditi pertanian ini (cengkeh dan jeruk Pontianak), tetapi biang kerok yang sebenarnya adalah Fockler, ketua the Fed dimasa tahun 1980an.

Pada Grafik – 13 ditunjukkan bahwa spekulasi mulai menggila, margin debt meroket parabolik di tahun 1990 dan puncak pertamanya di tahun 2000 bersamaan dengan meletusnya bubble saham teknologi Nasdaq.

Penggelontoran likwiditas menyusul pecahnya bubble Nasdaq juga direspons oleh pelaku pasar dengan lebih berani lagi berspekulasi. Kalau pada bubble pertama (Nasdaq) margin debt hanya mencapai level sekitar $ 260 milyar untuk memompa indeks DJIA ke level hampir 12.000. Pada saat subprime bubble akan pecah mencapai $ 380 milyar dan indeks DJIA terpompa sampai ke level 14.000. Dan sekarang margin debt sudah mencapai $ 450 milyar dan indeks DJIA mencapai level di kisaran 17.000.

Grafik - 14   Hutang margin di bursa saham US


Apakah sudah saatnya untuk koreksi yang dalam? Jawaban menurut analisa teknikal adalah “ya”. Tetapi....., kita hidup dimasa yang sebelumnya tidak pernah dikunjungi manusia. Analisa teknikal bersifat probabilistik, tidak pasti. Dengan waktu akan bisa diketahui.


SIGNAL DARI INDEKS DJIA

Saat ini indaks DJIA di bursa Wall st New York menunjukkan pola corong megaphone (Grafik – 15). Secara teknikal, bentuk ini adalah bentuk bearish. Koreksi besar akan terjadi. Seperti hanya pola megaphone 1964 – 1972, akan diakhiri dengan koreksi yang ke 3. Pattern semacam ini bisa dilihat dan sering terjadi pada fractal-fractal yang lebih kecil dengan jangka waktu yang lebih singkat.



Grafik - 15 Pattern Bearish Corong Megaphone mendekati fase terakhirnya


Perlu dicatat bahwa ada perbedaan yang mendasar antara kasus 1964 – 1972 dengan 2000 – 2014, yaitu: pada masa 1964 – 1972 atmosfir ekonomi adalah inflationary, sedangkan saat ini adalah deflationary yang cenderung membuat nilai asset jatuh tersungkur. Secara teknikal, koreksi mendatang akan membawa indeks DJIA ke level 4000 – 5000. Menurut perkiraan EOWI bisa lebih dalam lagi, misalnya 3000. Kesimpulan ini punya dasar analogi krisis deflationary tahun 1930 dimana koreksi saham mencapai 89%. Nah 11% dari 17000 itu berapa? Silahkan hitung sendiri.

Catatan: Analisa teknikal bukan analisa dalam arti yang sebenarnya, melainkan gathak-gathuk garis. Dengan demikian bukanlah hal yang pasti.



SISTEM RIBA SELALU ADA YANG KENA KEMPLANG & NILAI ASSET JATUH

Ada yang menanyakan, kenapa kejatuhan nilai asset pada krisis deflasi akan tajam sekali. Jawabnya ada pada sistem riba dan monopoli pencetakan uang.

Sebagai illustrasi, misalnya di Negara Kesatuan Republik Demokrasi Sontoloyo ada bank sentral swasta bernama Bank Sentral Sontoloyo (BSS) yang diberi kekuasaan atas monopoli pencetakan uang, sebut saja kepeng. Ingat baik-baik bahwa bank sentral ini adalah bank swasta seperti the Fed (Federal Reserves Bank, Amerika Serikat), dan bukan bank negara. Ia (Bank Sentral Sontoloyo) meminjamkan uang yang dicetaknya sebesar Ҝ 1 juta (kepeng) dengan bunga 3% (atau berapa saja, tinggal sebut) per tahun kepada pemerintah dan rakyat negara Sontoloyo secara aggregat. Maka tahun berikutnya hutang ini sudah menjadi Ҝ 1,03 juta. Kalau nasabah (baik pemerintah atau rakyat) tidak punya otoritas mencetak uang, dari mana nasabah memperoleh Ҝ 300 ribu itu. Setelah 5 tahun, hutang tersebut jatuh tempo dan harus dibayar berserta bunganya, maka total yang harus dikembalikan ke bank adalah Ҝ 1,159 juta. Persoalannya adalah, dari mana nasabah memperoleh Ҝ 159 ribu lagi, karena dia tidak mempunyai otoritas mencetak uang kepeng.

Hikmah cerita, pada saat hari jatuh tempo hutang yang bersifat massal, akan terjadi kekurangan cash. Hal ini disebabkan karena ada selisih antara aggregat uang yang beredar dengan total hutang (pokok dan bunganya). Uang yang diciptakan hanyalah sebesar hutang pokok. Oleh sebab itu mau tidak mau bunganya akan dikemplang, atau dibayar dengan asset (yang tentunya harganya akan dijatuhkan dahulu oleh kreditur).

Cerita di atas adalah untuk kasus dimana debitur swasta yang wajib punya jaminan. Bagaimana jika debitur itu pemerintah yang jaminannya tidak ada kecuali “menarik pajak yang lebih rajin dan giat”?. Pemerintah Negara Kesatuan Republik Demokrasi Sontoloyo (NKRDS) mengeluarkan surat obligasi sebesar Ҝ 100 juta dengan kupon 7% misalnya dengan jangka waktu 40 tahun. Dalam kurun waktu 14 tahun uang Ҝ 100 juta yang diperoleh dari menjual surat obligasi itu akan habis untuk membayar kupon bunga. Ketika habis masa berlakunya, total kepeng yang harus dibayar oleh pemerintah NKRDS adalah Ҝ 380 juta. Padahal yang ada hanya Ҝ 100 juta. Perlu diingat bahwa NKRDS tidak bisa seenaknya langsung mencetak uang karena pemerintah NKRDS secara undang-undang tidak mempunyai otoritas mencetak uang. Jadi dari masa ke masa untuk menambal defisitnya NKRDS mengeluarkan surat obligasi lagi yang angunannya tentu juga tidak ada. Atau menarik pajak yang lebih giat. Itu berarti mengambil sebagian kepeng yang beredar di masyarakat dan akan mencekik ekonomi. Secara keseluruhan, sistem harus melakukan ekspansi kredit untuk mengejar pembayaran bunga, sampai beban hutang tidak tertahankan lagi. Pada saatnya, hutang harus diselesaikan, terjadi kelangkaan kepeng (yang secara matematis saldonya pasti negatif), asset terpaksa dijual...... Karena ada keterpaksaan dalam menjual, maka harganya murah.

Hikmah dari uraian di atas adalah bahwa dalam sistem riba:
  1. Harus terus melakukan ekspansi hutang secara eksponensial, kalau tidak sistem akan kolaps. Ini berlangsung sampai beban hutang tak tertanggungkan lagi.
  2. Ketika kecepatan hutang mereda atau berhenti maka sistem akan kolaps dan jumlah uang pasti tidak cukup uang membayar hutang. Secara matematik, tidak ada uang yang bisa diallokasikan untuk bunga/kupon. Besarnya hutang selalu (dan pasti) lebih besar dari jumlah uang yang beredar.
  3. Sebagian hutang harus dibayar atau dikemplang. Jika pembayaran itu dilakukan dengan agunan (jika hutang pemerintah maka agunan itu bisa dibebankan ke rakyat, maka), harga asset akan jatuh.
  4. Dengan demikian pada fase deflationary, harga asset akan jatuh dan mata uang yang mengalami kontraksi akan naik nilainya karena ada kelangkaan.

Begitulah penjelasan yang disederhanakan. Catatan penting bahwa Bank Sentral Sontoloyo di Negara Kesatuan Republik Demokrasi Sontoloyo (NKRDS) adalah bank swasta dan NKRDS tidak punya otoritas untuk mencetak uang. Yang punya hak adalah Bank Sentral Sontoloyo.



DAMPAK KRISIS DEFLATIONARY

Arti deflasi adalah menyusutnya kredit/uang. Ini adalah kebalikan dari inflasi. Kalau inflasi menyebabkan membumbungnya harga-harga, maka deflasi menyebabkan nyungsepnya harga-harga seperti yag sudah dijelaskan sebelumnya. Yang nyungsep terutama harga-harga asset yang membubble. Karena uang/kredit menyusut maka uang adalah raja, terutama uang yang mengalami deflasi. Dan untuk kali ini adalah US dollar.

Yang repot adalah jika terjadi panik dan krisis kepercayaan. Para investor akan keluar melalui pintu yang sama, akibatnya banyak yang terjungkal. Oleh sebab itu ada baiknya, jauh-jauh hari sudah keluar secara teratur dari asset-asset yang membubble dan berlindung di safe-havencash, US dollar.

Harga properti di Indonesia (seperti halnya di negara-negara yang berbasis komoditi dan Cina) mengalami bubble. Sampai tulisan ini diturunkan, kondisinya masih merah membara. Di Indonesia, harga rumah mungkin secara nominal tidak akan pernah turun, setidaknya harga NJOPnya (Nilai Jual Objek Pajak nya) akan tetap, karena yang NJOP menetukankan adalah pemerintah, bukan pasar. Harga rumah dalam nominal rupiah bisa tetap. Tetapi harus dicermati bahwa dalam US dollar harga properti akan turun karena rupiah akan terdepresiasi terhadap US dollar. Dan di samping itu, pasar properti akan beku, tidak likwid. Ada harga, tetapi tidak ada pembeli. Kecuali harganya dibanting, rumah akan sulit dijual.  Apalagi kalau ada lelang, fire-sale, dari properti sitaan bank. Kejadian ini sangat mungkin karena dalam krisis keuangan, akan berdampak pada pengangguran dan selanjutnya kesulitan membayar cicilan rumah. Ini sama saja artinya dengan tersungkurnya harga properti di pasar sekunder.

Di samping properti, yang harganya akan jatuh adalah saham. Bursa saham yang tadinya diserbu oleh investor “asing”, sebagian akan dipaksa keluar karena harus membayar kewajiban-kewajiban lain. Bursa emerging market adalah ajang spekulasi bagi spekulan asing yang memperoleh dana murah dari kredit.

Rupiah akan melesak jatuh dengan keluarnya dana asing dan larinya investor ke safe haven. EOWI memperkirakan akan ke sekitar Rp 17.000 sampai Rp 25.000 per US dollarnya. Sebagai preludenya sejak tahun 2011 rupiah sudah melorot dari Rp 8.500 ke Rp 11.700 per US dollar saat tulisan ini diturunkan (Sept. 2014).  Gejala prelude lainnya ialah bahwa Bank Indonesia saat ini sudah membatasi penukaran US dollar. Seseorang hanya diperbolehkan membeli $ 100.000 perbulannya. Setiap pembelian US dollar di atas $ 100.000 harus disertai dengan underlaying nya (bukti untuk membayar sesuatu). Jadi, saat ini, jika anda mempunyai Rp 6 milyar, anda memerlukan waktu 5 bulan untuk menukarkan ke US dollar (kecuali kalau anda bisa mengakali peraturan ini). Nantinya BI akan melakukan tindakan yang lebih drastis lagi. Anda harus mempersiapkan kiat-kiat untuk menukarkan rupiah anda ke mata uang yang lebih aman.

EOWI punya beberapa ide, ada yang pernah dicoba dan ada yang belum pernah dicoba. Pertama, kita bisa menukarkan rupiah kita ke dollar dengan menggunakan nama (rekening) orang lain (istri atau anak). Yang kedua adalah dengan melalui penjual-penjual valas. Berbeda dengan bank, penjual valas mungkin pengawasannya agak longgar dan tidak dituntut administrasi yang ketat. Silahkan coba.

Walaupun sejak krismon 1998 bank-bank komersial Indonesia lebih berhati-hati dalam menyalurkan, tetapi kehati-hatian itu juga terbatas. Misalnya, walaupun saya adalah nasabah premium Bank Permata, tetapi bank Permata tidak mau memberikan pinjaman back-to-back dengan agunan US dollar untuk spekulasi saya, sedangkan bank Mandiri memberikan dalam jumlah yang besar.  Bank-bank (staff sales dan managernya) akan tergiur untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang dalam 10 tahun terakhir ini mengalami booming seperti sektor properti, sektor perkebunan dan sektor pertambangan. Persoalannya adalah bahwa sektor-sektor ini lah yang membubble saat ini dan punya potensi  gagal bayar. Ketika gagal bayar terjadi....., bank bisa menjadi insolvent alias kekurangan kapital. Pada saat itu duit tabungan nasabah tidak bisa diambil, beku di rekening anda. Kasihan juga, punya duit tetapi tidak bisa diambil. Untuk menghibur diri, mungkin anda akan menyangkal dengan mengatakan: “...’kan  ada LPS yang menjamin uang nasabah bisa dikembalikan.” Itu terserah anda apakah memilih untuk percaya pada LPS atau tidak. Itu masalah pilihan pribadi. Dan EOWI memilih untuk tidak percaya.

Secara jujur, EOWI tidak tahu seberapa jauh tingkat kesehatan bank-bank komersial. Tetapi dalam masalah uang, EOWI memilih tidak percaya kepada siapapun, termasuk pemerintah.


TROUGH WAR DEKADE 2010 (?)

Biasanya pembahasan siklus Kondratieff tidak lengkap jika tidak dimasukkannya topik perang. Sebab salah satu model untuk menerangkan siklus Kondratieff adalah perang. Pada periode K-Winter perang yang terjadi disebut trough war. Biasanya terjadi diakhir periode K-Winter. Dan biasanya perang ini adalah perang yang didukung rakyat. Trough-war yang terakhir dimasa K-Winter lalu adalah Perang Dunia II. Pertanyaannya adalah bagaimana bentuk perang K-Winter yang akan datang (seandainya terjadi). Kalau yang berkembang saat ini, adalah US berperang melawan bayang-bayang hantu. Tidak jelas siapa musuhnya. Tiba-tiba muncul al-Qaeda di bawah pimpinan Osama bin Laden. Al-Qaeda bukan negara. Perangnya tidak mengenal batas negara. Di Iraq, di Afganistan, di Pakistan, di Suriah, di Afrika. Selain itu, pasukan al-Qaeda berasal dari berbagai bangsa, Arab, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Afgan. Yang terakhir, pasokan milisi dari Inggris dan Amerika jumlahnya patut diperhitungkan, jika ISIS adalah perwujudan al-Qaeda. Apakah perang seperti ini yang akan makin berkobar?

Bisa juga perang antara Amerika Serikat dan sekutunya melawan Cina atau Korea Utara.  Dengan Cina, masalah hutang dan banyaknya surat obligasi US yang dipegang oleh Cina bisa dijadikan dalih. Atau masalah klaim Cina terhadap pulau-pulau di Laut Cina Selatan yang membuat Filipina, Jepang, Vietnam dan Malaysia menjadi senewen.

Bisa juga antara sekutu Amerika melawan Russia. Russia yang sudah muak dilecehkan, dirongrong kewibawaannya sejak hancurnya Uni Soviet, bisa habis kesabarannya. Ingat, bahwa satu persatu negara-negara eks-Uni Soviet ditarik menjadi anggota NATO atau sekutu dari Uni Eropa, seperti Estonia, Latvia, Ukraina, Polandia,.......dan sederet lagi. Bukan tidak mungkin Russia merasa terpojok dan marah. Pada konflik di Ukraina saat ini, US menunding (tanpa bukti) bahwa Russia berada di balik separatis Ukraina Timur. Apakah perang K-Winter adalah eskalasi dari perang di Ukraina Timur? Entahlah.

Siklus Kondratieff  adalah alat yang jelek untuk meramalkan hal-hal seperti ini. Jadi....,  tidak ada kesimpulan dari bab ini. Pembaca tidak usah kecewa, anggap saja bahwa hidup tidak selamanya ada kesimpulannya. Pertanyaan juga tidak selamanya ada jawabannya. Demikian juga uraian dan diskusi ini masih seperti paragraf bersayap yang tidak tuntas.


SAATNYA BERPIKIR

Saat yang harus menambahkan kehati-hatian adalah pada dan setelah tahun 2014, karena pada saat itu ada beberapa hal yang mulai berlangsung.
  1. Baby Boomer yang berumur 53 tahun mulai menurun jumlahnya. Aggregat konsumsi diharapkan akan menurun lagi.
  2. Baby Boomer yang tertua memasuki umur pensiun (67 tahun). Pola konsumsi akan mulai berubah.
  3. Hutang pemerintah yang membengkak
  4. Margin di bursa saham menuju puncaknya (mungkin sudah sampai)
  5. Bursa saham juga (mungkin) sudah sampai puncaknya
  6. Pertumbuhan ekonomi di Cina yang sejak tahun 2007 lebih banyak dimotori oleh investasi, sekarang sudah membubble, kelebihan kapasitas. Rumah dan apartemen dibangun terlalu banyak, juga pabrik-pabrik. Mau siapa yang mau beli dan pakai? Siapa yang akan bayar? Jika 50% ekonomi dunia sedang mengencangkan ikat pinggang, apa akan terus menambah kapasitas?

Kalau pada krisis tahun 2000 stimulasi ekonomi, penggelontoran likwiditas masih bisa direspons oleh Baby Boomer yang saat itu pada usia dengan pola konsumsi puncak. Selanjutnya kredit masi bisa berekspansi. Untuk krisis tahun 2008, Cina masih bisa memompa pertumbuhan ekonominya dengan menciptakan bubble di sektor properti dan investasi. Sekarang bagaimana? Generasi Baby Boomer baik itu yang ada di Amerika atau Uni Eropa, tidak bisa merespons penggelontoran likwiditas lagi. Pada saat manusia memasuki masa pensiun, mereka akan lebih berhati-hati dan berusaha menabung untuk hari tuanya dari pada melakukan konsumsi. Bagaimana dengan Cina? Sampai berapa banyak kota hantu yang akan dibangunnya? Siapa yang akan membayar?

Pendapat EOWI, kita sudah mendekati end-game. Jalan-jalan keluar yang nyaman sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah hari-hari perhitungan. Hutang harus dibayar atau dikemplang. Bubble harus meletus dan harga-harga kembali ke level yang normal. Tidak ada perpanjangan waktu lagi. Bagaimana skenario end-game ini? Apakah mengikuti skenario K-Winter, harga-harga jatuh, perang trough-war? Entahlah, ekonomi bukan ilmu, melainkan hanya sekumpulan opini-opini. Ada yang logis dan ada yang tidak logis.

EOWI mungkin bisa salah dalam ramalannya. Kita berada di dalam babak baru sejarah yang tidak pernah dimasuki manusia sebelumnya. Indikasi ekonomi dan indikator teknikal yang ditutunkan dari jaman standard keuangan yang berbasis emas, banyak yang tidak berfungsi karena basisnya sekarang sudah berubah, kredit dan hutang. Di samping itu yang disebut ilmu ekonomi sesungguhnya bukan ilmu, melainkan opini. Dan kaidah-kaidahnya tidak dilengkapi dengan bukti dan kondisi yang sufficient, melainkan hanya necessary. Namun demikian, kehati-hatian adalah perlu, apalagi jika kita menjelang pensiun. Pada usia-usia tersebut tidak ada ruang untuk berbuat kesalahan. Ketika anda salah......, uang pensiun anda amblas, dan anda menyongsong kematian dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Alangkah mengenaskannya nasib yang seperti itu. Salah satu misi EOWI adalah memberi peringatan agar pembacanya tidak bernasib yang mengenaskan. Untuk itu dan sampai saat ini, EOWI tidak meminta upah kepada pembacanya. Jadi kalau pembaca mau membaca dongeng-dongeng EOWI yang berat.....silahkan....Sekiranya dongeng-dongeng ini bermanfaat bagi anda, moga-moga Allah membalas EOWI dengan keselamatan dan kesejahteraan (mohon “diaminkan”).

Sekian dulu....., jaga kesehatan anda baik-baik, serta tabungan dan hasil jerih payah anda. Jangan lupa, rekomendasikan blog ini kepada teman-teman anda supaya mereka bisa ikut bersiap menghadapi masa deflationary 2014 – 2020.




[1] Tomorrow’s Gold, Marc Faber, CLSA 2002, hal 110-144
[2] Deflation, Gary Shilling, McGraw-Hill, 1999, hal 137 - 143
[3] Ibid
[4]    Conquer the Crash, Robert Prechter Jr, John Wiley & Sons, edisi 1, 2002
[5]    Bonds & Interest Rates - The 54 year cycle, Geir Solem, 4 Maret 2010, http://www.financialsense.com/fsu/editorials/2010/0304.html
[6]    The Kondratieff Cycle, Geir Solem, 1 Desember 2009, http://www.financialsense.com/fsu/editorials/2009/1201.html
[7]    LongWave Group, Website display, http://thelongwaveanalyst.ca/
[8]   The Great Depression Ahead, Harry Dent, Free Press, 2009

[9] “What does a “good” Chinese adjustment look like?, Michael Pettis, 1 September, 2014, http://blog.mpettis.com/2014/09/what-does-a-good-chinese-adjustment-look-like/

http://img1.blogblog.com/img/icon18_email.gif
http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com/p/blog-page_9.html





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar