Rabu, 25 November 2009

kisah klasik tentang seorang sakti dengan ketiga muridnya.

Saat kesaktian para muridnya sudah sangat tinggi, sang guru tahu bahwa dia harus segera pergi. Untuk itu dia harus mempercayakan perguruannya kepada penerusnya. Setelah itu, Sang Guru akan memasuki tahap akhir dari misi hidupnya, yaitu; pergi melanglangbuana.
Pertanyaannya adalah; kepada siapa dia harus memberikan kepercayaan itu ? Ketiga muridnya sama-sama sakti. Sama-sama baik. Dan sama-sama hebat.
Akhirnya, Sang guru memutuskan untuk memberikan tiga jenis ujian.

Ujian pertama menjatuhkan sebutir telur dari puncak tebing menimpa batu cadas, namun telur itu tidak pecah. Ini tugas yang paling gampang.
Kedua, mengosongkan air di telaga dengan menggunakan jari telunjuk. Tentu yang ini agak sulit. Dan yang ketiga, membuat ukiran hati masing-masing pada lempengan besi hanya dengan menggunakan tatapan mata.
Pastilah tantangan ketiga ini yang paling sulit dilakukan. Sedangkan untuk meneyelesaikan semua tantangan itu, mereka hanya diberi waktu selama tiga hari. Barangsiapa bisa menyelesaikan ujian itu; maka dia mendapatkan warisan perguruan beserta seluruh aset yang ada didalamnya.

Dihari yang ditentukan, para murid menghadap Sang Guru.
Lalu Sang Guru memberi kesempatan kepada murid pertama untuk menunjukkan semua yang sudah dilakukannya. Dia membawa telur ayam itu dalam keadaan utuh, sedangkan batu cadas yang tertimpa hancur berantakan. Pastilah dia memiliki ilmu gingkang yang sangat tinggi sehingga bisa dipindahkan kepada sebutir telur. Lalu, dia menunjukkan telaga yang kering kerontang. Tak setetes pun air yang masih tersisa didalamnya.

Membuktikan bahwa dia bisa melakukan pekerjaan besar hanya dengan menggunakan telunjuknya. Kemudian, dia menyerahkan sebongkah besi baja yang berukir hati dengan ukuran yang sangat besar. Ini membuktikan bahwa tatapan matanya begitu kuat sehingga baja sekalipun
tunduk kepadanya.

Sang Guru kemudian berkata; " Muridku, ukuran hati kamu begitu besarnya. Mengapa bisa demikian? "
"Guru," sang murid sakti menjawab, "saya memiliki kebesaran hati untuk menjalani segala sesuatu dalam hidup ini." lanjutnya. "Saya tidak gentar menghadapi apapun. Karena saya yakin bahwa saya bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan baik." Dia menjelaskan dengan semangat yang berapi-api. Sangat terasa aura kebesaran hati yang dipancarkannya.

Murid kedua mendapatkan gilirannya. Dia menunjukkan semua bukti kesaktiannya, seperti murid pertama. Namun, ukiran hati dalam lempengan besi itu ukurannya sangat kecil sekali, hingga nyaris tidak kelihatan. Sang guru bertanya; " Muridku, aku lihat ukuran hati kamu
sebegitu kecilnya. Mengapa bisa demikian ? "

" Guru," jawab sang murid sakti, " ciut hati saya jika harus melakukan suatu keburukan. Saya sangat takut kalau harus melakukan hal-hal yang melanggar norma dan etika." Lanjutnya.
" Saya tidak memiliki cukup keberanian untuk mempertaruhkan kehormatan." Dia menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. Sangat terasa aura kerendahan hati yang dipancarkannya.

Lalu, tibalah giliran murid ketiga. Dia membawa telur utuh, dan batu karang yang hancur lebur. Dia juga menunjukkan lempengan baja yang berlubang membentuk hati. Namun, ketika ditanya tentang telaga, sang murid menjawab; " ma’af guru, saya tidak mengosongkan telaga itu,"
katanya. " Mengapa ? " begitu Sang Guru bertanya.

Sang Murid mengatakan bahwa setelah berhasil menyelesaikan tugas paling mudah – menjatuhkan telur diatas batu cadas – dia berpikir untuk langsung menyelesaikan tugas yang paling sulit, yaitu; mengukir hati pada lempengan besi hanya dengan menggunakan tatapan mata.
Sebab, jika tugas paling mudah dan paling sulit bisa dituntaskan, pasti tugas yang sedang-sedang saja bisa terselesaikan. " Tetapi," kata Sang Guru, " Kamu tetap harus membuktikannya terlebih dahulu."

"Benar, Guru," jawab sang murid. " Semula saya berpikir untuk mengeringkan telaga itu. Tetapi," lanjutnya. " Setelah membuat lubang tembus pandang berupa hati dibesi itu; seolah saya bisa memasukinya, dan tiba-tiba saja saya merasakan hati saya berbicara." katanya.

"Apa yang dikatakan oleh hatimu?" tanya Sang Guru.Sang murid menceritakan bahwa ukiran hati pada baja itu berkata; "Setelah ujian paling sulit kamu taklukan, pastilah kamu bisa menyelesaikan ujian yang lebih mudah. Tetapi, jika kamu menyelesaikan ketiga ujian itu, maka kamu berubah menjadi sombong," katanya. " Saya tidak ingin hati ini berubah menjadi sombong," lanjutnya. "Jadi, saya memutuskan untuk tidak mengeringkan telaga itu."

"Aku mengerti," kata Sang Guru. " Namun, tahukah kamu bahwa tidak melakukannya berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan warisan perguruan ? " Sang murid mengangguk. Dia menerima konsekuensi atas keputusannya. " Bukankah kamu tahu bahwa mewarisi perguruan ini
merupakan dambaan semua orang ? " Sang Guru meyakinkan. Sang murid kembali mengangguk. " Bukankah dengan mewarisi perguruanku, kamu akan mempunyai kedudukan tinggi dan dihormati ? " Lanjut Sang Guru. Sang murid tetap pada keputusannya; melepaskan kesempatan memiliki perguruan itu.

Lalu, Sang Guru membagi dua perguruan itu. Setengahnya diberikan kepada muridnya yang memiliki ukuran hati besar. Diperguruan itu, kemudian dia mengajarkan tentang optimisme, semangat pantang menyerah, dan kebesaran hati. Setengahnya lagi diberikan kepada muridnya yang mempunyai ukuran hati sangat kecil. Diperguruan itu, kemudian dia mengajarkan tentang menjaga kehormatan, menjauhi keburukan, dan memupuk kerendahan hati. Itulah sebabnya, mengapa sangat mudah bagi kita untuk menemukan guru yang mengajarkan tentang kebesaran hati. Juga mudah untuk menemukan guru yang mengajarkan tentang kerendahan hati. Dari kedua perguruan itu, orang-orang kemudian belajar berjiwa besar dan menjaga kesucian diri. Lalu menggabungkan kedua sikap itu untuk menjadikan dirinya; manusia berkemampuan tinggi yang memiliki budi pekerti.

Muridnya yang ketiga? Dia tidak mendapatkan sedikitpun dari warisan perguruan. Sebab, setiap orang harus menerima konsekuensi atas tindakan dan keputusan yang diambilnya. Namun, dari semua yang sudah dilakukannya, dia mendapatkan hadiah lain; Sang Guru membawanya pergi
melanglangbuana. Itulah sebabnya, guru yang membimbing kita cara membaca isyarat hati; tidak selalu mudah dicari. Karena, guru seperti itu jarang menetap. Mereka melanglangbuana. Menjelajah hidup. Dan tak terikat ruang dan waktu. Namun, ketika hendak pergi, Sang Guru
berkata kepada kedua murid pewaris perguruannya; " Meskipun tak kelihatan, namun kami tetap berada didalam hatimu." Katanya. " Jika kalian ingin menemui kami, maka kalian tahu dimanaharus mencari...." Lalu, kedua orang sakti itu memudar. Menyatu dengan udara. Kemudian terbang bersama angin. Mereka pergi melanglangbuana.....

http://www.mail-archive.com/diskusi-kepemimpinan@yahoogroups.com/msg00308.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar