Minggu, 29 November 2009

Krisis Utang Dubai Guncang Pasar Dunia



Krisis utang Dubai mengguncang pasar global lagi pada Jumat, karena kekhawatiran kondisi "default" utang memicu kekhawatiran bahwa pemulihan dari resesi global dapat terhambat.

"Dubai pada Rabu malam meminta untuk menunda pembayaran utang yang mengguncang pasar di seluruh dunia dan mengangkat kekhawatiran bahwa default mungkin menghambat pemulihan global," kata Scott Marcouiller dari Wells Fargo Advisors.

Di Wall Street, Dow Jones Industrial Average turun 154,48 poin (1,48 persen) menjadi 10.309,92 karena pasar dibuka kembali dari hari libur Thanksgiving, Kamis.

Semua 30 komponen Dow berakhir dengan merah; indeks blue-chip telah ditutup Rabu di tingkat tertinggi sejak Oktober 2008. "Berita telah menggetarkan pasar dunia sejak Rabu malam, dan ekuitas AS menjadi korban penyebaran pertama yang panik pagi ini," kata Elizabeth Harrow dari Schaeffer’s Investment Research.

Indeks komposit teknologi Nasdaq merosot 37,61 poin (1,73 persen) menjadi 2.138,44 dan pasar yang luas indeks Standard & Poor’s 500 mundur 19,14 poin (1,72 persen) ke 1.091,49.

Dow dibuka turun tajam, terkupas lebih dari 200 poin karena investor mencerna berita bahwa Dubai World, konglomerat utama pembawa bendera negara kota, mencari moratorium enam bulan pembayaran kembali dari 59 miliar dolar dalam utangnya.

"Dubai World, secara de facto adalah fund (dana) pengelolaa kekayaan negara gurun tersebut, secara substansial telah gagal pada sebagian besar dari utangnya," kata Douglas McIntyre dari 24/7 WallSt.com.

"Pengumuman ini memicu kekhawatiran tentang kesehatan keuangan pasar negara berkembang dan dampaknya pada eksposur negara-negara maju terhadap utang Dubai, yang melonjak karena kawasan ini telah mengalami boom pembangunan besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir," kata analis Charles Schwab & Co.

Menara Gading Dubai Itu Goyah

Pemerintah keemiratan terbesar kedua di Uni Emirat Arab (UEA) itu, Kamis (26/11) dini hari WIB, mengajukan permohonan penundaan pembayaran untuk seluruh utang Dubai World dan afiliasinya.

Dubai World, semacam BUMN milik keemiratan Dubai, memang memiliki tumpukan utang hingga 59 miliar dollar AS. Rontoknya pasar properti di kawasan Timur Tengah akibat krisis global menjadi alasan Dubai mengajukan status standstill bagi seluruh utang Dubai World dan anak perusahaannya hingga 30 Mei 2010. Utang yang menjadi pemicu standstill itu adalah obligasi milik Nakheel PJSC, anak usaha Dubai World yang bergerak di sektor properti. Nakheel seharusnya melunasi obligasi senilai 3,52 miliar dollar AS pada 14 Desember 2009.

Gejala sakitnya Dubai sebetulnya sudah terbaca sejak tahun lalu. Deutsche Bank sempat menghitung, harga properti di Dubai itu merosot hingga 50 persen tahun lalu gara-gara krisis global. Harga properti yang terjun bebas sangat menohok karena Dubai World berinvestasi besar-besaran di properti. Maklumlah, keemiratan yang dipimpin Sheik Mohammed bin Rashid Al Maktoum itu berambisi menjadi pusat pariwisata dan bisnis di kawasan Timur Tengah.

Dubai, melalui Dubai World dan anak-anak perusahaannya, mengandalkan utang untuk membangun berbagai proyek menara gading. Dalam waktu hanya empat tahun, Dubai mencetak utang sebesar 80 miliar dollar AS. Utang senilai 59 miliar dollar AS berada di buku Dubai World. Awal tahun ini, Dubai yang tersengal-sengal mendapat pinjaman dari bank sentral Abu Dhabi senilai 10 miliar dollar AS. Sheikh Mohammed langsung turun melobi emir penguasa Abu Dhabi.

Di Indonesia, Dubai World juga memiliki bisnis properti melalui anaknya, Limitless. Perusahaan ini merupakan mitra utama PT Bakrie Development Tbk (ELTY) di proyek Rasuna Epicentrum. (Thomas Hadiwinata/Kontan)

Kasus Dubai, Fase Awal Krisis Baru ?

Berita mengejutkan tentang masalah utang Dubai mengangkat ketakutan akan kembalinya hari-hari paling gelap krisis keuangan karena pasar jatuh di seluruh dunia.

Pasar di Asia, Eropa dan Amerika Serikat tersandung karena kekhawatiran utang buruk meningkatkan kekhawatiran baru bagi perekonomian dunia setelah guncangan permintaan Dubai untuk menangguhkan pembayaran kembali pinjaman utamanya.

Investor terguncang, menahan napas pada Jumat (27/11) untuk melihat apakah pengumuman tak terduga dari salah satu Emirat Teluk yang sedang "booming" sekali akan memicu bahaya bagi ekonomi dunia, mirip dengan runtuhnya Lehman Brothers.

Kematian bank investasi AS pada September 2008 mengirimkan gelombang mengejutkan ke seluruh dunia dan menggembar-gemborkan fase awal yang paling menyakitkan krisis keuangan global.

Tetapi analis mengecilkan kekhawatiran bahwa permintaan dari kendaraan investasi pemerintah Dubai, Dubai World, untuk menangguhkan pembayaran utang selama enam bulan tanda sebuah akhir untuk pemulihan perekonomian global yang rapuh.

Adarsh Sinha, dari Barclays Capital, mengatakan peristiwa dramatis dari para pembuat kebijakan keras tahun lalu berarti sekarang lebih siap. "Pertanyaannya adalah apakah ini akan menjadi pengulangan (kuartal keempat 2008) atau menjadi lebih singkat, koreksi lebih ramah," kata Sinha.

Disebutkannya, perbedaan utama antara sekarang dan kemudian adalah bahwa kebijakan otoritas lebih banyak menjaga untuk mencegah peristiwa pasar keuangan dari bangkitnya risiko sistemik.

"Masalah-masalah Dubai yang berkaitan dengan runtuhnya pasar properti, agak awal daripada krisis keuangan baru," kata analis dari Capital Economics dalam sebuah catatannya.

"Meskipun demikian, mereka adalah sebuah peringatan bahwa ekses warisan utang berat ekonomi masa lalu akan berlama-lama selama bertahun-tahun yang akan datang," kata mereka.

Analis lainnya mengecilkan prospek gelombang mengejutkan itu menyebar keluar dari Dubai. John Sfakianakis, dari Calyon, mengatakan investor internasional memiliki "kepercayaan asli" di kawasan. "Kualitas kredit hanya merosot tidak menjadi masalah di Arab Saudi, Abu Dhabi dan Qatar dan kami berharap bahwa dalam jangka pendek, investor akan tenang," katanya.

Namun masih ada banyak kekhawatiran, tentang eksposure bank-bank besar internasional, khususnya di Inggris, ke keuangan bermasalah Dubai. Eksposur langsung bank-bank Eropa ke Dubai, menurut Credit Suisse, terbatas hanya 13 miliar dollar AS (8,7 miliar euro).

Tapi Luis Costa dari Commerzbank mengatakan guncangan dapat menyebabkan bank untuk memikirkan kembali investasi mereka, memproyeksikan "yang berpotensi sistemik memukul aliran modal global ke emerging market."

Namun demikian, Kit Juckes, kepala ekonom dari ECU, melihat bahaya kecil dalam jatuhnya pasar menyusul berita dari Dubai. "Saya melihat Dubai lebih sebagai katalis untuk posisi pasar yang harus diambil dari bursa saham yang terlalu panas (overheated), daripada sebagai momen yang menentukan dalam kecenderungan tahun ini," katanya.

"Dubai adalah satu bubble (gelembung) yang mati. Di tempat lain begitu banyak konstruksi berlebihan," tambah Juckes.
Sementara PM Inggris Gordon Brown, mengakui meski kegagalan utang di Dubai menjadi problem, namun perekonomian dunia akan cukup kuat untuk mengatasinya. "Pandangan saya, sistem keuangan dunia lebih kuat sekarang dan dapat mengatasi problem yang timbul," kata Brown kepada wartawan saat kunjungan ke pertemuan puncak para pemimpin negara-negara Persemakmuran.

"Sementara hal ini merupakan langkah mundur, saya pikir ini bukan dalam skala problem seperti yang lalu. Saya pikir pemulihan dunia telah bergantung pada aksi moneter dan stimulus fiskal."

Ia mengatakan dirinya telah berbicara dengan para tokoh di Dubai awal pekan ini dan mereka masih berharap bisa melanjutkan proyek infrastruktur di Inggris. "Sebagai contoh, proyek Dubai untuk pembangunan pelabuhan-pelabuhan di Inggris, mereka tetap ingin secara penuh melanjutkannya," kata Brown.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/11/28/08015768/krisis.utang.dubai.guncang.pasar.dunia
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/11/29/14084043/kasus.dubai.fase.awal.krisis.baru
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/11/29/09083017/menara.gading.dubai.itu.goyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar