Sabtu, 28 November 2009

Tertawa dalam 30 Detik




Komedi instan sedang mendapat tempat di televisi. Jurus yang dimainkan komedi macam ini cukup sederhana, yakni buatlah penonton tertawa dalam waktu 30 detik.



Simaklah salah satu cuplikan lelucon yang ditayangkan program Sketsa (TransTV), Rabu (28/10) pagi. Seorang pejabat yang menjadi pasien rumah sakit meminta dirawat di kelas I. ”Saya ini orang penting, jadi harus dimasukkan ke kelas I,” katanya.

”Baik, Pak, tenang saja,” ujar suster.

Tiba-tiba kamera memperlihatkan si pasien berada di tengah-tengah ruang kelas I sekolah dasar yang dipenuhi puluhan murid. Si pasien kaget dan murid-murid tertawa. ”Ini kelas I-nya, Pak,” kata si suster.

Begitulah, gaya lelucon di program Sketsa yang tayang setiap pagi sejak Mei 2009. Singkat, padat, minim dialog, dan selalu diakhiri dengan kejutan.

Produser Sketsa Yudho Indrowiyono menjelaskan, acara berdurasi 20 menit itu terdiri dari 20-30 lelucon pendek yang berdiri sendiri. Satu lelucon tidak boleh lebih dari 60 detik. ”Kami usahakan 40-50 detik saja. Makin pendek, makin bagus,” ujar Yudho, Kamis (29/10).

Komedi bergaya instan seperti ini juga ada di program Tawa Sutra Bisaa Ajaa (TSBA) ANTV yang tayang Senin-Jumat setiap pukul 20.00. Di acara ini setiap cuplikan lelucon panjangnya sekitar lima menit. Dengan durasi 1,5 jam, produser TSBA bisa menayangkan sekitar 10 lelucon.

TSBA memancing tawa dengan dialog konyol. Kadang para pemain melontarkan tebak-tebakan.

Jenis komedi ini memang berbeda dengan komedi gaya Srimulat tahun 1980-an dan 1990-an. Srimulat menggunakan model drama tradisional, biasanya diawali dengan monolog pembuka. Ini semacam cara mengondisikan penonton agar tertawa. Setelah penonton ”panas”, barulah para pemain Srimulat ”menghajar” mereka dengan lawakan-lawakan.

”Komedi sekarang tidak seperti itu. Kami langsung smash penonton dengan lelucon,” kata Yudho.

Kepala Produksi ANTV Reva Deddy Utama menambahkan, program komedi sekarang harus bisa memancing tawa pada kesempatan pertama. Jika tidak berhasil, mereka pindah ke saluran televisi lain. Untuk itu, dibutuhkan perencanaan matang. ”Kami harus membuat naskah dan pemain mengikutinya meski tetap ada sedikit ruang untuk improvisasi,” ujar Deddy.

Yudho juga mengandalkan naskah agar cuplikan lelucon yang muncul di Sketsa tidak garing. Untuk itu, dia memiliki empat tim penulis naskah. Setiap tim terdiri dari 4-5 orang.

Sejauh ini lelucon yang muncul di komedi instan sudah cukup memancing tawa. Hanya saja, leluconnya sering kali vulgar. Misalnya, ada adegan orang diguyur satu panci kuah bakso.

Menguntungkan


Mengapa komedi instan sekarang berkembang? Deddy menjelaskan, penonton sekarang memang ingin acara yang serba instan. Penonton tidak menyukai lawakan yang berbelit-belit ”Kalau nonton lawak, ya harus langsung tertawa. Kalau dalam dua-tiga menit tidak tertawa, dia pasti pindah channel.”

Komedi instan, kata Deddy, juga menguntungkan stasiun televisi. Acara mudah dibuat, tidak perlu bintang terkenal, dan antarsketsa ceritanya tidak perlu nyambung.

Komedi macam ini juga cocok dengan karakter industri televisi yang hidupnya ditentukan pergerakan rating. ”Sekarang pergerakan rating dan share kan bisa dilihat setiap beberapa menit. Pengelola televisi akan melihat pada menit keberapa rating turun. Saat itulah pengelola akan memberi kejutan antara lain dengan menyodorkan komedi instan,” ujar Deddy.

Karena menguntungkan, hampir 70 persen jam tayang utama ANTV saat ini diisi dengan komedi. Selain TSBA, ANTV memiliki program SBY, komedi situasi Rusun Banyak Tawa, dan Segeer. ”Tapi, yang paling laku komedi instan,” kata Deddy.
(http://oase.kompas.com/read/xml/2009/11/01/07151294/tertawa.dalam.30.detik)

Tertawa bikin awet muda. Apa iya ?

Yang jelas, bukan cuma manusia yang memiliki kemampuan tertawa dan tersenyum. Spesies primata lain ternyata juga bisa melakukan keduanya. Ini merupakan jenis perilaku yang merespon sinyal dalam suatu kelompok ketika ada emosi yang positif. Tertawa juga mengurangi stres dan berperan mempererat hubungan dalam kelompok.

Humor yang memicu tawa pada manusia memiliki beberapa tahap. Ketika menyimak suatu humor, kita memasuki tahap dimana kita berharap ada kejutan di bagian akhir. Lalu pikiran kita mulai mencari pemecah masalah, menginterprestasikan kejutan. Akhirnya otak kita berhasil mengapresiasi tahap-tahap tadi dan merespon dalam bentuk tawa.

Obat Terbaik

Adalah domapin, bahan kimia dalam otak yang bertanggungawab memicu otak untuk memulai tahapan mencerna suatu humor. Dopamin ini memungkinkan kita merasa nyaman saat kita tertawa. Beberapa studi mendemontsrasikan perbaikan kondisi kesehatan pasien yang kronis saat distimulasi dengan hal-hal lucu. Maka pepatah yang mengatakan bahwa tertawa adalah obat terbaik sungguhan terbukti.

Demikian hasil studi Dr. Beth Ann Ditkoff seperti yang dipaparkannya dalam bukunya, “Why Don’t Your Eyelashes Grow?: Curious Questions Kids Ask About the Human Body.”
Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience.com
(http://netsains.com/2009/01/tertawa-adalah-obat-terbaik/)

Terapis: Sehat Dengan Tertawa

Seorang terapis psikologi di Mackay, Queensland mengatakan, humor dan tawa adalah obat menyehatkan. Tertawa merangsang "hormon bahagia" tubuh, katanya

Sering kali sulit untuk melihat sisi humor dalam hidup ketika Anda merasa tertekan dan sangat membutuhkan terapi khusus. Namun beberapa dokter dan pekerja kesehatan menawarkan sebuah solusi yang unik, yaitu terapi tawa.

Pemakaian humor (hal lucu) kini secara serius diterapkan untuk membantu menghilangkan stress, mengurangi rasa sakit dan bahkan yang terpenting, untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Katrina Robertson membuka praktek psikologi di Mackay, wilayah utara Queensland. "Saya akan selalu berpandangan terbuka bila saatnya menggunakan teknik dan terapi baru," jelasnya. "Saya telah berpartisipasi dalam kelompok terapi tawa, saya menggunakan humor dan tawa sebagai bagian dari konseling dan terapi umum bila diperlukan."

Tertawa sering digunakan secara intuitif dalam kehidupan sehari-hari sebagai pereda stress atau coping mechanism. Riset yang berkelanjutan di bidang medis dan ilmiah sedang membuktikan bahwa tertawa bisa menjadi terapi pelengkap yang sangat baik ketika digunakan bersamaan dengan perawatan konvensional.

Tertawa merangsang dan meningkatkan pelepasan endorphin, "hormon bahagia" tubuh. Tertawa juga meningkatkan sejumlah sel yang memproduksi antibodi dan meningkatkan efektivitas T-Cells (sel yang masuk ke dalam grup sel darah putih yang diketahui sebagai limfosit dan memainkan peran utama pada sistem kekebalan tubuh) dalam tubuh. Hal ini memperkuat sistem kekebalan tubuh dan juga membantu mengurangi gejala tekanan fisik.

Menurut Katrina, "Tertawa adalah cara yang sangat baik untuk melepaskan ketegangan dan dapat dengan mudah mengubah fokus dan membantu mengalihkannya dari beberapa persoalan rumit, karenanya ada perkataan: 'saya terlalu banyak tertawa sampai menangis.'

"Tertawa dalam hal apa pun adalah penawar racun yang mujarab atas obsesi tragedi dan malapetaka… Saya berpikir akan sangat luar biasa untuk membuat "stan tawa" di mana-mana yang tidak dipungut biaya, sehingga Anda bisa tertawa saat situasi hati Anda sedang tegang!"

Terapi tawa mencakup sesi kelompok yang berfokus untuk memperoleh gelak tawa terpingkal-pingkal dalam usaha membantu orang-orang melihat sisi kehidupan yang lebih ringan.

Seseorang yang mencari beberapa hiburan dari tekanan masyarakat modern dapat datang bersama-sama untuk sesi tawa sesungguhnya. Sesi sering diawali dari orang inti yang memulai jenis tawa tertentu, misalnya, "tawa bertenaga" atau "tawa etiket kantor", dan kelompok akan menjawab dengan versi mereka sendiri. Tawa "pura-pura" ini akan menciptakan momentum untuk tawa yang sesungguhnya dan dengan demikian terapi akan berjalan.

Pagi hari adalah waktu yang tepat bagi kelompok tertawa untuk berlatih, sebab pagi hari dapat menetapkan suasana hati yang riang untuk sisa hari itu. Beberapa perusahaan menggunakan terapi tawa sebagai aktivitas pembentuk tim.

Salah satu hal terbaik dari terapi tawa adalah bahwa hal itu dapat dilakukan kapan pun, dimana pun dan tidak perlu merogoh kocek. Carilah di Internet dan temukan kelompok terapi tawa lokal di dekat Anda.

Jika bergabung dengan kelompok terapi tawa tidak sesuai dengan kepribadian Anda, Anda tetap dapat tertawa, ada banyak cara untuk menggali endorphin. Menyewa DVD komedi adalah awal yang baik atau berkumpul dengan teman yang dapat membuat Anda tertawa.

Anda bahkan bisa mencoba melakukan beberapa "terapi tawa sendiri"? Cobalah beberapa tawa gila-gilaan dan lihatlah seberapa cepat momentum itu dibangun dan tawa cekikikan mulai mengalir. Sebelum Anda sempat menyadarinya, Anda akan tergelak dengan sendirinya dan Anda akan merasa jauh lebih baik juga!

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7394:-terapis-sehat-dengan-tertawa&catid=103:iptek&Itemid=56

Tidak ada komentar:

Posting Komentar