Kamis, 03 Mei 2012

Dengan Berbaik Sangka (Husnudzon), Hidup Menjadi Tenang




Masalah seringkali terus-menerus membelit kehidupan kita. Bentuknya pun beragam, terkadang kita tidak menyadari mengapa hidup yang kita jalani ada kalanya terasa rumit. Namun tidak selayaknya kerumitan hidup yang kita alami justru akan membuat pandangan kita terhadap masa depan menjadi sempit. 


Menghadapi situasi demikian, umumnya orang mengambil sikap kurang produktif, sehingga menimbulkan sikap kurang kooperatif. Misal nya lebih suka pasif bahkan apatis. Akibatnya bukan saja usaha yang mulai dia tinggalkan, perlahan keyakinannya kepada janji Allah pun kian menipis.


Bahkan tidak sedikit yang stress atau depresi. Alih-alih memperkuat usaha dan doa, sebagian terjebak dalam bisikan syetan. Ada yang ke dukun, tukang ramal, memelihara jmat, bahkan ada yang mencoba untuk melakukan praktik suap. Langkah demikian muncul karena tanpa sadar seseorang telah meredupkan api imannya.


Seseorang yang mengaku beriman sadar benar bahwa dari setiap peristiwa maka Allah telah mentransformasikan mutiara hikmah untuk manusia. Yakni, sesuatu yang berharga yang hilang milik orang beriman (al-Hikmatu zhalatul mu'minin)Artinya, kejadian yang menimpa kita, pasti ada kadar atau nilai berharga yang sudah dipersiapkan untuk kita.


Ketika suatu ujian atau cobaan datang menghampiri hidup kita dan menguji keimanan kita, seharusnya kita masih mampu melihat sekeliling kita. Bahwa masih banyak orang yang memiliki beban hidup yang jauh lebih berat dari pada yang kita pikul, sehingga tanpa kita sadari beban yang kita rasakan akan jauh terasa ringan. Pola pikir semacam itu akan memberi dampak bertambahnya rasa syukur kita kepada Allah Ta'ala, yang dengan itu perlahan-lahan pintu penyelesaian itu akan terbuka. Karena rasa syukur yang kita tanamkan pada diri kita sebenarnya adalah suatu sikap positive yang kita kirimkan kepada segala sesuatu yang ada di sekitar kita, sehingga dengan izin Allah semua yang ada di sekitar kita akan dirancang untuk mempermudah urusan kita.


Dan salah satu faktor yang mendorong timbulnya rasa syukur kita pada Allah adalah berbaik sangka atau husnudzon terhadap ketentuan Allah. Karena dengan hal itulah kita dapat berfikir bahwasanya dibalik semua permasalahan yang Allah berikan kepada kita, ada sebuah hikmah yang ingin Allah tampakkan dihadapan kita. Dan terlepas dari segala kemudahan yang telah Allah janjikan setelah kesulitan, maka hikmah adalah sebuah kenikmatan yang lebih utama, karena dengan mengetahui hikmah dari sebuah ujian hidup kita dapat mengerti hakikat hidup yang dirancang Allah untuk kita, dan jika kita telah mengetahui apa hakikat hidup itu, InsyaALLAH kita dapat lebih bijak dalam menghadapi berbagai macam persoalan kehidupan.


Berbaik sangka merupakan produk dari olahan kekuatan iman. Tidak mungkin seseorang memiliki kemuliaan akhlak berupa husnudzon, jika tidak yakin dengan segala sesuatu yang sudah diputuskan Allah.


Husnudzon atau berbaik sangka pada siapapun adalah kunci kita bisa membangun hubungan baik dengan orang lain. Rasulullah pun pernah mengatakan bahwa tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah husnudzon. Sedangkan yang tertinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan sendiri)

Artinya, bahwa sebuah ukhuwah (ikatan persaudaraan) akan terjalin indah bila satu sama lain saling mengerti dan memahami. Tidak pernah terpikir dan terbersit perasaaan dendam, iri atau kesal dengan perilaku orang lain. Jangankan dengki, iri saja pun tidak diperkenankan oleh Allah. Bila kita sudah ada rasa su’udzon, berarti kita sudah melewati syarat sebuah ukhuwah dapat terwujud.


Untuk membentuk sebuah bangunan ukhuwah yang kokoh memang perlu tadhiyah (pengorbanan) yang tinggi. Untuk menjalin persaudaraan memang butuh tahap yang sedikit demi sedikit. Dari tahap ta’aruf (pengenalan), tafahum (saling memahami), takliful qulub (ikatan hati) dan takaful, tadhiyah, serta ta’awun (toleransi, saling berkorban dan tolong menolong).


Satu hal yang perlu kita sadari dan kita yakini,suatu masalah yang datang menghampiri hidup kita sebenarnya adalah sebuah proses yang dirancang oleh Allah untuk menaikkan derajat kita di mataNya apabila kita menyikapinya dengan senantiasa berbaik sangka pada Allah. Ibarat seorang anak yang sedang belajar di sebuah sekolah, ia tidak akan pernah merasakan nikmatnya naik kelas jika ia tidak menjalani ujian kenaikan kelas. Begitu pula dengan hidup kita, jika Allah menginginkan hambanya menjadi manusia yang memiliki derajat yang lebih mulia disisiNya,maka Allah akan menguji kita terlebih dahulu sebelum memberikan kesempatan pada kita untuk memetik manisnya kehidupan setelah melewati berbagai macam ujian.


Semuanya butuh proses dan kesabaran yang tinggi. Semuanya butuh tahap dan komitmen yang teguh. Hanya pada Allah kita berusaha dan bertawakkal. Hasbiyallaahu laa ilaahailallaahu Allahu Akbar … ”






2 komentar:

  1. subhanallah. blog dan posting yang menginspirasi. syukur dan husnudzon adalah satu paket.jilbab gaby

    BalasHapus
  2. terimakasih sangat membantu jazakumullah

    BalasHapus