Selasa, 22 Mei 2012

Membangun Sikap Mandiri dan Wawasan Entrepreneurship




Dalam suatu hadis yang panjang, diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa seorang sahabat dari kaum Anshar pernah datang kepada Nabi Muhammad SAW, untuk meminta sesuatu, lalu terjadilah percakapan sebagai berikut :

(+) “apakah masih ada sesuatu (yang kamu miliki) di rumahmu ?”

(-) “ada, ya Rasulullah. Barang yang masih ada hanyalah bekas kain pelana yang sebagian kami pakai dan sebagian lagi untuk tempat duduk, dan satu lagi mangkuk buat minum.”

(+) “Pergilah, ambil dan bawa keduanya ke sini !”
Lelaki Anshar itu berangkat dan mengambil barang miliknya yang terakhir di dunia ini, lalu menyerahkannya kepada Nabi. Nabi lalu menghimpun orang-orang yang ada, kemudian menjual barang-barang tersebut secara lelang ditengah orang banyak.

(+) “Siapakah yang mau membeli barang ini ?”

(-) “Saya mengambilnya dengan harga satu dirham,” kata seorang.

(+) “Siapa yang berani melebihinya ?” kata Nabi, Beliau mengulangi pertanyaan itu tiga kali.

(-) “Saya mau mengambilnya dengan harga dua dirham,” kata seorang lainnya.

Diberikan barang itu kepada si pembeli. Kemudian Nabi menyerahkan uang tersebut kepada laki-laki Anshar itu, lalu beliau bersabda kepadanya :
separuh uang ini kamu belikan makanan untuk keluargamu dirumah dan separuhnya lagi kamu belikan kampak dan bawalah kepadaku disini.”

Sahabat dari Anshar itupun segera memenuhi perintah Nabi kemudian ia kembali kehadapan Nabi dengan membawa kampak yang baru dibelinya. Nabi menyambutnya seraya memegang erat tangannya dan menyerahkan sebatang kayu kedalam tangannya, sambil bersabda :
“Berangkatlah engkau sekarang mencari dan menebang kayu, kemudian menjualnya (lanjutan hadis diatas). Janganlah kamu menjumpaiku dalam waktu lima belas hari !”
Laki-laki itu pergi kebukit untuk mencari kayu kemudian menjualnya. Sesudah lewat lima belas hari, dia datang kembali kepada Nabi, dan tangannya menggenggam uang sebanyak sepuluh dirham. Sebagian uang itu dibelikannya pakaian, sebagiannya lagi untuk makanan, sedangkan sisanya disimpannya untuk menjadi modal selanjutnya. 

Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya :
“Perbuatan ini lebih baik bagimu daripada kamu hidup mengemis dan meminta-minta, yang nanti akan menjadi cacat bagi mukamu pada hari kiamat. Sesungguhnya kerja meminta-minta tidaklah dibolehkan, kecuali pada tiga saat yang genting : pada saat kemiskinan (kelaparan) yang sangat, pada saat utang yang sangat memberatkan, atau karena pembayaran denda yang menyedihkan.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Tirmidzi mengatakan hadis ini hadis hasan.

Dalam kehidupan kita selaku umat muslim dan selaku umat Muhammad SAW di zaman yang serba canggih sekarang ini, ada banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil dari hadis tersebut. Yusuf Qardhawi dalam Musykilatl Faqri wa Kaifa ‘Alajahai Islam panjang lebar mengungkapkan komentar tentang hadis ini.

Namun saya tidak akan mengutip apa-apa yang diungkapkan oleh beliau (Yusuf Qardhawi). Saya hanya ingin mengungkapkan dan mengaktualisasikan sebagaimana yang saya fahami setelah saya membaca dan merenungkan makna dari perkataan Rasulullah yang mulia ini dengan konteks kekinian sebagaimana hidup dan kehidupan masyarakat disekitar kita dalam berbangsa dan bernegara saat ini.

Apa yang tergambar disini adalah bahwa Nabi setelah mendengar dan mengetahui persoalan yang dihadapi oleh sahabat dari kaum Anshar tersebut tidak serta merta memenuhi apa yang diminta sahabat Anshar itu, namun Beliau membimbing dan mengarahkan untuk mencoba menyelesaikan sendiri persoalan hidupnya dengan kemampuan dan daya serta sumber daya yang ada pada sahabat Anshar tersebut.

Secara tidak langsung Rasulullah mengajarkan tetang kaidah ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup pada sahabat Anshar tersebut. Rasulullah menghindarkan agar sahabat dari Anshar tersebut tidak menjadi peminta-minta yang akan berakibat buruk pada kehidupannya baik didunia apalagi diakhirat. Rasululah ingin menanamkan juga sikap mandiri pada lelaki Anshar tersebut. Dalam suatu hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim dan Nasai dari Zubair bin Awwam Rasulullah bersabda :
“ Seseorang yang membawa tali (pada pagi hari) berangkat mencari dan mengerjakan kayu bakar ke bukit-bukit, lalu menjualnya, memakannya dan menyedekahkannya lebih baik daripada hidup meminta-minta kepada manusia.”

Kaidah ekonomi yang tergambar dalam sikap Rasulullah adalah dengan memberi contoh untuk memanfaatkan sumber daya yang ada pada lelaki Anshar itu walaupun dalam keadaan sumber daya tersebut yang sangat terbatas buat menghasilkan sesuatu yang bernilai guna bagi usaha dan menciptakan nilai tambah suatu barang sehingga dapat dimanfaatkan. Sebagaimana yang dikatakan beliau :
“separuh uang ini kamu belikan makanan untuk keluargamu dirumah dan separuhnya lagi kamu belikan kampak dan bawalah kepadaku disini.”

Selanjutnya Rasulullah juga langsung mempraktekan bagaimana menciptakan nilai tambah suatu barang dengan memberikan wawasan layaknya seorang pengusaha mencari suatu produk/memproduksi dan mengolah serta menjualnya/mendistribusikannya untuk mendapatkan hasil. Sebagaimana yang beliau katakan :
“Berangkatlah engkau sekarang mencari dan menebang kayu, kemudian menjualnya (lanjutan hadis diatas). Janganlah kamu menjumpaiku dalam waktu lima belas hari !”
Jauh-jauh hari beliau sudah memperkenalkan soal-soal ekonomi sebagaimana hadis beliau :
“ Seseorang yang membawa tali (pada pagi hari) berangkat mencari dan mengerjakan kayu bakar ke bukit-bukit, lalu menjualnya, memakannya dan menyedekahkannya lebih baik daripada hidup meminta-minta kepada manusia.”

Dalam konteks kekinian dimana sebagian warga kita sebagaimana yang banyak ditayangkan di beberapa media bahwa ada kebiasaaan dan perilaku untuk selalu meminta-minta, sedangkan tangannya masih kuat untuk melakukan usaha dan upaya untuk memenuhi dan mencari nafkah. Bahkan ada yang sampai menimbulkan korban jiwa, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah bahwa orang yang hidupnya tergolong mampu mengaku miskin dan tidak mampu hanya sekedar untuk mendapatkan bantuan yang tidak seberapa. Hal ini sangat kontradiktif sekali kita sebagai umat Muhammad SAW. dengan apa yang diajarkan oleh Nabi sebagaimana hadis tersebut di atas.
Sebagai umat Muhammad sudah sepatutnya kita meneladani apa-apa yang diajarkan Rasulullah agar kita terhindar dari segala petaka dan bencana yang sudah dijanjikan oleh Allah swt dalam banyak ayat-ayat Al Qur’an.

Melalui hadis ini Rasulullah sudah mengajarkan kepada kita untuk membangun sikap mandiri sekaligus wawasan untuk menjadi seorang usahawan yang menghasilkan suatu barang/produk dan mendistribusikannya bagi memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri dan orang lain kemudian membagikan/menyedekahkan sebagian hasil yang didapat untuk bermuamalah kepada sesama sebagai cerminan takwa yakni melaksanakan perintah Allah swt.

Semoga Allah swt. memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah swt dan disunahkan Rasulullah SAW. Aamiin



 http://filsafat.kompasiana.com/2010/02/09/membangun-sikap-mandiri-dan-wawasan-entrepreneurship/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar