Rabu, 16 Mei 2012

Hikmah Hijrah, Agar Hidup Lebih Baik







Hijrah secara bahasa berasal dari bahasa Arab berasal dari kata"hajaro-yahjuru", yang memiliki beberapa arti, berikut arti Hijrah yang terdapat dalam Alquran diantaranya :

   1. Meninggalkan,

  QS Al-muddasir 5 :   dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji
  QS Almuzammil 10: Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.

   2. Memutuskan Hubungan,

 QS Maryam 46 :  Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”

  3.Menjauhi,

 QS An-nisa 34 :  ..  tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka

  4.Berpindah Tempat,

 QS Al-hasyr 9 : Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Medinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah (pindag tempat) ke tempat mereka.

 5.Berkata tidak karuan (Mengabaikan),

·   QS Al-furqon 30 : Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini diabaikan.”

Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah adalah: Meninggalkan tempat atau keadaan yang tidak baik menuju ke tempat atau keadaan yang lebih baik (Quraish Shihab). Hijrah tersebut untuk menghindari gangguan kafir Quraisy Mekah menuju tempat yang lebih aman.

Sebelum berhijrah, Nabi Muhammad SAW dan umat Islam yang berada di kota Makkah mendapatkan berbagai ujian dan cobaan yang tiada henti-hentinya. Ujian itu datang dari Allah SWT (pasca wafatnya Ali bin Abi Thalib dan isteri Rasulullah SAW bernama Khadijah binti Khuwailid) diiringi gangguan kaum kafir Quraisy.

Nabi Muhammad SAW sedang bersedih, berduka. Orang-orang kafir Quraisy pun mengolok-oloknya. “Muhammad telah ditinggalkan oleh tuhannya.” Beliau kesepian. Hatinya terasa kering karena beberapa lama wahyu baru yang ditunggu tak kunjung datang.

Dalam keguncangan jiwa itu, turunlah surat Ad-Dhuha. Di dalam ayat ke-5 surat itu, Allah SWT berfirman:
“Kelak, Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.”

Apa yang dijanjikan Allah SWT dalam surat Ad-Dhuha itu tercapai beberapa tahun setelah hijrah. Tepatnya, tahun ke-10 H. Rasulullah SAW berhasil merebut kota Makkah, kota yang sangat beliau cintai karena kesuciannya.

Kemenangan itu juga dijanjikan oleh Allah SWT dalam QS Al-Qashash 28:85 : “Sesungguhnya, Dia (Allah) yang telah menjadikan ajaran Alquran sebagai panggilan kewajiban atas engkau (Muhammad) tentulah akan mengembalikan engkau ke tempat asalmu (Makkah). Katakanlah, “Tuhanku lebih tahu siapa yang dapat petunjuk dan siapa pula yang terang dalam kesesatan.” 

Hijrah dalam arti mengintensifkan segala daya dan upaya untuk memperbaiki diri dan bangsa perlu ditonjolkan sebagai titik tolak terjadinya proses monumental (dalam Islam) sehingga menjadi nilai universal. Jadi hal yang lumrah bila hijrah seyogianya dimaknai dari keinginan dan kesadaran untuk mengevaluasi (introspeksi) diri yang pada gilirannya menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik (reformasi).

Hijrah merupakan sunatullah bagi mereka yang menginginkan hidup lebih baik. Jika kita menelusuri sejarah perjalanan ummat manusia maka kita akan dapat melihat bahwa hijrah tersebut merupakan untaian sejarah yang diperlukan bagi perkembangan hidup manusia.

Nabi Adam berhijrah dari Surga ke atas permukaan bumi untuk mengemban amanat khalifah.
Nabi Nuh berhijrah dengan kapal yang menyelamatkan beliau dan pengikutnya dari bencana banjir.
Nabi Ibrahim berhijrah dari negeri Babilonia ke negeri Mesir dan negeri Palestina.
Nabi Ismail hijrah dari negeri Palestina ke kota Makkah.
Nabi Musa hijrah dari Mesir ke negeri Palestina.
Nabi Yusuf hijrah dari Palestina ke negeri Mesir.

Jika kita memperhatikan kondisi pada saat sekarang ini, bagaimana hebatnya pengaruh barat dalam kehidupan muslim sehinga cara berpikir, gaya hidup dan budaya ummat Islam sama dengan cara berpikir mereka, gaya hidup dan budaya bukan islam.

Kita disibukkan oleh hidup keduniaan dengan memakai gaya hidup materialis (hanya mementingkan materi ) , atau gaya hidup hedonis ( berbuat sesuai dengan hawa nafsu ) dan tidak pernah memikirkan bahwa di akhirat nanti masih ada kehidupan yang lebih abadi. Kegiatan sehari-hari telah terpisah dari nilai - nilai agama ( hidup sekular ) dan sehingga agama hanyalah urusan individu belaka.

Kita berekonomi dengan gaya kapitalis yang penuh dengan unsur riba, dan tanpa memperdulikan nilai-nilai agama dan moral. Mereka yang kaya terus bertambah kaya dan yang miskin tetap dibiarkan miskin; tidak ada perhatian si kaya kepada si miskin. Harta adalah milik mutlak pribadi dan tidak lagi mempunyai unsur sosial apalagi unsur ibadah. Nilai-nilai akhlak dan moral tidak lagi menjadi dasar dalam bertindak, tetapi yang menjadi dasar adalah nilai keuntungan dan manfaat.


Dalam bekerja yang menjadi tujuan utama adalah uang, karier, popularitas.
Mencari ilmu juga dengan tujuan sekular, agar nanti dapat kerja, kedudukan, titel dsb.

Hubungan keluarga, antara anak dan bapak hanya sekedar hubungan darah, sehinga rumah hanya tempat tinggal, bukan tempat mendapatkan ketenangan hidup. Hubungan kekeluargaan tidak lagi mempunyai nilai spiritual , sehingga boleh jadi seorang anak tidak hormat kepada orangtuanya, dan seorang bapak tidak lagi peduli dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya.

Dalam berpakaian masalah aurat tak lagi diperdulikan, dan rasa malu tidak lagi dipertimbangkan.. Busana hanyalah hiasan dan fashion belaka bukan sebagai penutup aurat. Demikian juga dalam berbagai bidang yang yang lain pedoman agama semakin ditinggalkan. Ini adalah beberapa bentuk sikap hidup yang tanpa sadar telah banyak mempengaruhi sikap hidup ummat Islam.

“Siapa yang berpindah pada jalan Allah, niscaya akan diperolehnya di bumi ini (tempat ia pindah) rezeki yang banyak (dan ketentraman). Siapa yang keluar rumahnya untuk  hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia meninggal (di tengah jalan), maka sesungguhnya pahalanya sudah  dijamin Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha  Penyayang.” (QS An-Nisaa’ (4):100).

Mari kita teliti cara hidup kita selama ini. Sudahkah kita hidup, bekerja, berkeluarga, mendidik anak, memberi makan anak, berdagang, berkarya, berkarier, belajar, mencari ilmu, menjadi guru, mengajarkan ilmu, menjadi ustadz, menjadi direktur, menjadi ayah, menjadi pemimpin, menjadi pengurus, menjalankan ibadah shalat, menunaikan zakat, menunaikan rukun haji, mendatangi majlis pengajian, menjadi dosen, menikah, berpakaian, berpenampilan, benar-benar dengan niat mencari keridhaan Allah, dengan niat menjalankan sunnah Rasulullah, atau karena mencari kepuasan materi dan hawa nafsu..?????

Pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa hijrah, antara lain:

1. Hendaknya selalu berusaha mengubah kemunkaran sekuat tenaganya, dan jika tidak mampu maka hendaknya meninggalkan tempat kemunkaran itu dan tidak berdiam di tempat kemunkaran atau kemaksiatan tersebut. Tetapi selama usaha perubahan masih dapat dilakukan walaupun sedikit demi sedikit, maka tidak mengapa berdiam di sana sambil terus mengupayakan perbaikan.

2. Betapa rapinya Rasulullah SAW dalam merancang dan membuat “program” dakwah. Walaupun dakwah ini pasti akan ditolong oleh Allah SWT dan beliau adalah seorang Rasul yang dijamin tidak akan dicelakai dan tidak akan dapat dikalahkan, tetapi beliau tetap menjalani semua sunnatullah (hukum sebab akibat) dalam keberhasilan dakwahnya sebagaimana manusia biasa lainnya.

3. Betapa luar biasanya usaha yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang selalu mencoba berbagai inovasi baru dalam dakwahnya. Terobosan-terobosan yang beliau lakukan ini nampak dari pemilihan berbagai tempat beserta alasan-alasan yang relevan yang melatar-belakanginya.

4. Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW sangat memikirkan masyarakatnya. Segala cara beliau usahakan agar para sahabatnya tidak disiksa dan diprovokasi oleh pihak lain. Beliau pula yang paling akhir keluar dari Makkah setelah semua sahabatnya selamat.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar