Sabtu, 17 Januari 2015

Keridhaan Allah Terletak Pada Keridhaan Orang Tua



 

"Berbuat baiklah kepadanya (orang tuamu), sungguh Keridhaan Allah terletak pada keridhaannya dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaannya"

Dikisahkan, pada zaman Nabi Muhammad S.a.w, ada seorang pemuda bernama Alqamah. 
Ia seorang yang shaleh, menghabiskan waktu-waktunya untuk taat kepada Allah S.w.t, mengerjakan shalat, puasa, dan gemar bersedekah.

Suatu hari Alqamah jatuh sakit dan semakin hari kondisinya semakin parah. Istrinya pun menghadap ke Rasulullah S.a.w untuk menyampaikan, "Suamiku, Alqamah sedang sekarat. Dengan ini aku bermaksud mengabarkan keadaannya kepadamu, wahai Rasulullah.". Maka Nabi S.a.w mengutus Ammar, Shuhaib, dan Bilal, Beliau bersabda, "Berangkatlah kalian, dan talqinkanlah ia dengan kalimat syahadat.".

Mereka bertiga segera berangkat menuju rumah Alqamah. Sesampainya di sana, mereka para sahabat mendapati Alqamah tengah sekarat, sehingga dengan segera mereka mentalqinnya dengan ucapan "La ilaha illallah". Namun lidah Alqamah kelu kaku, tak mampu mengucapkannya. Sahabat bertiga lalu menyuruh seseorang menghadap Rasulullah S.a.w untuk mengabarkan bahwa Alqamah tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat, usai dibacakan.

Rasulullah Muhammad S.a.w bertanya, "Adakah salah seorang ibu bapaknya yang masih hidup?."
Seseorang menjawab, "Wahai Rasulullah, seorang ibu yang sudah sangat renta."
Maka Beliau pun mengutus seseorang dan berpesan, "Katakan kepadanya jika ia kuat untuk berjalan, Rasulullah memanggilnya. Namun jika tidak hendaknya ia tetap tinggal di rumah. Rasulullah akan menemuinva."
Utusan itu sampai kepada ibu Alqamah dan menyampaikan pesan dari Rasulullah S.a.w. Wanita itu berucap, "Jiwaku siap menjadi tebusan jiwanya. Aku lebih pantas untuk mendatangi Beliau.".

Maka ibu Alqamah pun beranjak berdiri dengan bertelekan kepada tongkat dan berjalan menemui Rasulullah. Ia ucapkan salam dan Rasul pun menjawabnya. 
Lalu Rasulullah S.a.w bertanya, "Wahaz Ummu Alqamah, jujurlah kepadaku. Kalau pun kamu berdusta akan turun wahyu dari Allah. Bagaimana keadaan anakmu Alqamah?."
Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, ia rajin menunaikan shalat, shiyam dan banyak bersedekah."
Nabi bertanya lagi, "Lalu bagaimana dengan dirimu?."
Ibu itu menjawab. "Wahai Rasulullah, aku murka kepadanya.".  
"Mengapa?.", tanya Beliau S.a.w.  
"Karena ia lebih mengutamakan istrinya dari pada diriku dan ia tidak mau taat kepadaku.". jawab Ibu Alqamah.

Rasulullah S.a.w bersabda, "Sesungguhnya murka Ummu Alqamah menghalangi lisannya untuk mengucapkan syahadat."
Beliau S.a.w melanjutkan, "Bilal. pergi dan bawakan untukku kayu bakar yang banyak.".
Ibu Alqamah bertanya, "Apa yang akan Anda lakukan, wahai Rasulullah?."
Beliau menjawab, "Aku hendak membakarnya di hadapanmu."
Wanita itu menimpali, "Wahai Rasulullah, ia adalah anakku. Hatiku tidak akan kuat menyaksikannva dibakar di hadapanku.". "Wahai Ummu Alqamah, adzab Allah lebih dahsyat lagi kekal. Jika kamu senang terhadap ampunan Allah baginya ridhailah ia. Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nva, shalat, puasa dan sedekahnya tidak dapat mendatangkan manfaat baginya selama kamu murka.", sabda Nabi Muhammad S.a.w.

Mendengarnya itu, ibu Alqamah berkata, "Wahai Rasulullah, aku bersaksi di hadapan Allah, para malaikat, dan siapa saja yang hadir di sini dari antara kaum muslimin bahwa aku telah ridha kepada anakku, Alqamah.".

Kemudian Rasulullah bersabda, "Bilal, berangkat dan lihatlah apakah Alqamah sudah dapat mengucapkan "La ilaha illallah" atau belum, bisa saja Ummu Alqamah tadi mengatakan yang bukan dari lubuk hatinya karena malu kepadaku."
Bilal langsung berangkat dan melihat kondisi Alqamah. Ia berkata, "Wahai sekalian orang, murka Ummu Alqamah menghalangi lidahnya dari syahadat, dan ridhanya telah melepaskan kekeluan lidahnya.".

Pada hari itu juga Alqamah meninggal. 
Rasulullah S.a.w hadir, memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya. 
Lalu Beliau menshalatkan dan menghadiri prosesi penguburannya.

Nabi Muhammad S.a.w berdiri di ujung kubur Alqamah dan bersabda, "Wahai sekalian Muhajirin dan Anshar, barangsiapa mengedepankan istrinva daripada ibunya, niscaya akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat, dan manusia semuanya. Allah tidak akan menerima infaqnva, juga sikap adilnya, sehingga ia bertaubat kepada Allah dan berbuat baik kepadanya (kedua orangtua) serta memohon keridhaannya. Keridhaan Allah terletak pada keridhaannya, kemurkaan Allah terletak pada kemurkaannya.".

Kita memohon kepada Allah S.w.t semoga senantiasa membimbing kita untuk menggapai keridhaan-Nya dan keridhaan orang tua kita dengan menjauhkan kita dari sikap durhaka terhadap ayah dan ibu kita. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang, lagi Maha Pengasih. Amin.

Wallahu Warasuluhu a'lam. Wassalam

Dari buku Al Kabair ~ Imam Adz-Dzahabi, Bab Mendurhakai Orang Tua


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar