Senin, 08 Oktober 2012

AL MUTA'AALI | YANG MAHA TINGGI


AL MUTA'AALI | YANG MAHA TINGGI 
Allah adalah AL MUTA'AALI (yang Maha Tinggi). Arti dan maknanya sama dengan AL 'ALIYY, meskipun bentuknya diperkuat. 
 
 
 
`Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; yang Maha Besar lagi Maha Tinggi` (Ar Ra'd:8~9).
 
AL 'ALIYY
 
Al Aliyy (yang Maha Tinggi) adalah Allah yang diatas kedudukan-Nya ada lagi kedudukan lain dan semua kedudukan berada dibawah-Nya, ini karena 'Tinggi' berasal dari ketinggian. Segala bentuk yang memiliki sifat diatas dalam hal tempat, maka dia memiliki tempat yang tinggi. Demikian pula segala sesuatu yang ada diatas dalam hal kedudukan, dia memiliki kedudukan yang tinggi.
 
Tingkatan-tingkatan yang rasional dipahami seperti tingkatan-tingkatan yang nyata. Tingkatan rasional adalah perbedaan antara 'sebab' dan 'akibat', 'perantara' dan 'penerima', 'sempurna' dan 'tidak sempurna'. Objek-objek tidak dibagi menjadi tingkatan yang berbeda-beda menurut akal budi. Yang Maha Tinggi berada pada tingkatan tertinggi dalam tingkatan yang berbeda-beda itu, sehingga mustahil ada tingkatan diatas-Nya, karena sesungguhnya Dia adalah Al Aliyy.
 
Segala sesuatu selain Dia bisa tinggi berdasarkan perbandingan dengan apa yang ada dibawahnya, dan bisa rendah berdasarkan perbandingan dengan apa yang ada diatasnya. Segala yang ada dibagi menjadi 'yang hidup dan yang mati'. Makhluk hidup dibagi menjadi makhluk yang hanya memiliki persepsi indrawi saja (binatang) dan makhluk yang memiliki persepsi rasional dan persepsi indrawi.
 
Makhluk yang mempunyai persepsi rasional dibagi menjadi mereka yang menentang hawa nafsu dan amarahnya, menentang apa yang mereka ketahui (manusia) dan mereka yang persepsinya bebas dari penentangan yang mempersulit seperti itu. Sementara mereka yang bebas dibagi menjadi apa yang menderita, namun memiliki pengamanan dari hal itu, seperti Malaikat. Adapun yang mustahil menderita adalah Allah Azza wa Jalla.
 
Dari pembagian tersebut, para Malaikat berada diatas manusia dan manusia berada diatas binatang, Allah Azza wa Jalla berada diatas segalanya, karena Dia inggi secara mutlak. Dia hidup dan pemberi kehidupan, Maha Mengetahui, pencipta ilmu Ulama, mengatasi segala bentuk ketidak sempurnaan. Sesungguhnya makhluk-makhluk yang mati itu ditempatkan ditempat yang serendah-rendahnya tingkatan diantara berbagai tingkatan kesempurnaan, sementara tidak ada yang lebih tinggi kecuali Allah Azza wa Jalla.
 
Arasy adalah makhluk yang paling tinggi diantara makhluk-Nya, sebuah objek yang sama sekali tidak dapat diperkirakan dalam pengertian batas-batas makhluk dan ukurannya, karena berada diatas segala makhluk dalam tingkatannya.
 
Jika Hasywiyyah (orang-orang yang menafsirkan al-Qur'an dan hadits secara harfiah/kasar) ditanya 'Bagaimana dua orang yang terkemuka duduk dalam majelis-majelis resmi ? '. Orang ini akan mengatakan 'yang ini duduk diatas yang itu', padahal mereka hanya duduk bersebelahan, dia hanya duduk diatas jika dia duduki kepalanya, atau disuatu tempat yang dibangun diatasnya. Kalau ada orang yang membantahnya, bahwa dia hanya duduk disebelahnya atau disampingnya, maka orang tersebut akan mengatakan 'yang dimaksud dengan hal itu adalah derajatnya', setiap tatanan memiliki dua ujung, 'diatas' pada satu ujung dan 'dibawah' pada ujung lainnya.
 
Maka Mustahil manusia dapat mencapai derajat yang tinggi tanpa adanya derajat yang lebih tinggi, dan itu adalah Nabi Muhammad Saw, tetapi derajat Nabi Saw tidak tinggi bila dibandingkan dengan ketinggian yang mutlak, yaitu Allah Azza wa jalla. Allah dengan sifat Yang Maha Tinggi, ketinggiannya bukan karena perbandingan, tetapi karena keniscayaan, yaitu bukan kaitannya dengan sesuatu yang ada sebagai kemungkinan perbandingan.
 
'(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil. Dan sesungguhnya Allah, Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar' [Al hajj:62/Luqman:30]
 
'Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar' [Asy Syuura:4]
 
'Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. kepunyaan-nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi Syafa'at di sisi Allah tanpa izin-nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah maha tinggi lagi maha besar' [Al Baqarah:255]
 
'Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana' [Asy Syuura:51].
 
'Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar' [saba:23].
 
'Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar' [An Nisaa:34].
 
Imam Al-Ghazali


 http://fiqhislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=217:al-mutaaali-yang-maha-tinggi&catid=47:asma-allah&Itemid=419

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar